Share Like
Simpan

Bu, orang tua mana yang tidak was-was setiap kali mendengar berita buruk menimpa anak atau teman seusianya. Apalagi, akhir-akhir ini di Indonesia, banyak terdengar berita buruk tentang perlakuan tak pantas orang dewasa kepada anak prasekolah di tempat yang seharusnya aman dan terlindungi dengan baik. 

Sebagai orang tua, tentunya kita tidak menginginkan hal yang buruk seperti itu menimpa si Kecil. Oleh karenanya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya apabila Ibu mulai memberikan bekal pengetahuan untuk melindungi diri sendiri. Salah satunya, dengan memberikan pendidikan tentang area pribadinya. 

Dalam masa perkembangan psikologi anak di usia prasekolah (2-5 tahun) ini , Ibu sudah bisa mengajarkan kepada si Kecil bahwa anggota tubuhnya adalah miliknya sendiri.   Pendidikan tersebut ada baiknya diberikan pertama kali oleh orang tua. Hal ini akan lebih efektif karena komunikasi antara orang tua dengan si Kecil sudah terbangun sejak ia masih bayi. Maka dari itu, akan lebih mudah baginya untuk menerima informasi dan bertanya kepada Ibu atau Ayah. 

Dalam memberikan penjelasan, sebaiknya gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh si Kecil. Seperti yang dilansir oleh nspcc.org.uk, untuk memudahkan ibu dalam mengajarkan si Kecil cara melindungi area pribadinya, berikut beberapa cara yang bisa Ibu ikuti: 

  • “Area pribadi” adalah milik pribadi. Bagian tubuh yang ditutupi oleh pakaian dalam adalah “area pribadi”. Tidak ada orang yang diperbolehkan untuk melihat ataupun menyentuhnya. Terkadang dokter, suster, atau anggota keluarga diperbolehkan untuk melihat atau menyentuhnya. Namun, Ibu tetap harus memberikan penjelasan tentang hal tersebut dan menanyakan terlebih dahulu apakah si Kecil mengizinkan. 
  • Ingatkan terus si Kecil bahwa tubuhnya adalah miliknya. Tidak seorangpun yang berhak memintanya melakukan sesuatu yang membuat ia merasa malu atau tidak nyaman. Apabila hal tersebut terjadi, minta si Kecil untuk melaporkan kepada orang dewasa yang ia percaya.
  • TIDAK berarti TIDAK! Beritahu si Kecil bahwa ia berhak mengatakan TIDAK, bahkan kepada anggota keluarga atau orang-orang yang ia sayangi. Tanamkan pada si Kecil bahwa ia memiliki kontrol penuh terhadap tubuhnya dan ajarkan ia untuk mempercayai instingnya.
  • Biasakan si Kecil untuk menceritakan rahasia yang membuatnya gelisah. Sebuah rahasia seharusnya tidak membuat seseorang menjadi takut atau gelisah. Ajarkan si Kecil untuk selalu bercerita kepada Ibu atau Ayah saat ada orang dewasa yang memintanya menjaga rahasia dan membuat si Kecil gelisah. Tanamkan juga padanya bahwa menceritakan rahasia seperti itu tidak akan membuatnya dihukum.
  • Ajarkan si Kecil untuk berani bicara. Beritahu si Kecil untuk menceritakan hal-hal yang membuatnya kesal dan takut kepada orang dewasa yang ia percaya. Tidak harus anggota keluarga, orang tersebut bisa saja guru atau orang tua dari teman bermainnya. 

Bu, di tahap psikologi anak saat ini, cara-cara di atas mungkin terasa rumit untuk dicerna oleh si Kecil. Namun, cobalah mengajarkannya secara bertahap sehingga, ia dapat dengan mudah mencerna satu-per satu informasi yang Ibu berikan. Selain itu, lakukanlah proses ini berulang kali agar informasi tersebut terus melekat pada benak si Kecil.   

Pengetahuan tentang area pribadi ini bisa menjadi titik awal bagi Ibu untuk melindunginya dari tindakan-tindakan yang melukai si Kecil serta  berbagai ancaman kejahatan lainnya. Oleh karena itu, teruslah memberikan bimbingan dan panduan baginya agar dapat melindungi dirinya sendiri. Alangkah baiknya apabila Ibu juga memantau perkembangan psikologi anak agar ia tetap terbuka kepada Ibu dan anggota keluarga lainnya. Semoga si Kecil selalu terlindungi serta dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman ya, Bu!