Share Like
Simpan

Hai Ibu! Saya punya cerita menarik, nih. Jadi, waktu si Kecil masih berusia 10 bulan dulu, saya sering memergoki dia sedang terbengong-bengong melihat wajahnya sendiri di cermin kecil yang saya letakkan di sofa. Alih-alih mengambil cermin tersebut, saya justru membiarkannya dan bertanya, Sayang, kamu sedang apa sih?” Sambil menunjuk wajahnya sendiri di cermin, dia merespon, “A a aku...” Oh, ternyata dia terkagum-kagum melihat wajahnya sendiri, Bu. Aduh, lucunya!

Ngomong-ngomong Bu, ternyata bermain cermin bisa dijadikan sarana untuk mengajarkan banyak hal, lho. Lewat permainan ini, dia akan mengenal apa itu ekspresi gembira dari bayangan dirinya yang sedang tersenyum atau tertawa. Mau tahu cara saya bermain cermin dengan si Kecil? Yuk, kita baca sama-sama.

  1. Siapkan sebuah cermin kecil atau bisa juga cermin rias yang menempel di dinding. Jangan gunakan cermin tanpa bingkai, karena ujung yang tajam bisa melukai si Kecil.
  2. Letakkan si Kecil di depan cermin. Dia pasti senang melihat bayangannya sendiri, lalu terdorong untuk berlatih mengangkat kepalanya.
  3. Biarkan dia duduk di atas pangkuan Ibu sambil melihat ke arah cermin. “Itu kamu, sayang!” Sentuh bagian-bagian wajahnya sambil menunjukkan kepadanya nama bagian tersebut, “Ini mulutmu, sayang. Kalau yang ini hidung.”
  4. Ibu juga bisa merias wajah sendiri ala badut atau ondel-ondel. Si kecil pasti terpesona dan tertawa terbahak-bahak melihat wajah menor Ibu di cermin.
  5. Buatlah mimik-mimik wajah yang ekspresif dan lucu di depan cermin. Misalnya gerakan tangan ke atas dan ke bawah sambil mengeluarkan suara, seperti “nanana!” Setelah itu, biarkan dia meniru dengan caranya sendiri.  

Berbagai permainan cermin tersebut mudah dilakukan ya, Bu? Selain menghibur, bermain cermin dengan si Kecil bisa melatih motorik halus dan motorik kasarnya, lho. Permainan ini juga bermanfaat untuk merangsang kemampuan visual dan melatihnya untuk lebih ekspresif. Dia juga belajar tentang gerakan fisik secara perlahan melalui bahasa tubuh yang dia tiru lewat cermin.

Namun, jangan biarkan dia berlama-lama bermain dengan bayangannya di cermin. Bermain dengan cermin harus dibatasi, karena dikhawatirkan dia akan menganggap bayangan dirinya sebagai teman sebaya. Padahal di usia tersebut, dia harus mulai responsif terhadap orang-orang di sekitarnya.

Satu lagi, berikan pengawasan saat si Kecil mulai terlalu penasaran, bahkan sampai memukul-mukul permukaan cermin. Ingat, cermin adalah benda pecah belah. Antisipasi segala sesuatu yang tampak membahayakan, tapi bukan dengan melarangnya dekat-dekat cermin. Larangan hanya menepis rasa ingin ingin tahunya. Nah, jika dia mulai terlalu obsesif dengan cermin, alihkan saja perhatiannya dengan mainan lain.

Hal ini didukung oleh fase perubahan pertumbuhan si Kecil. Di mana, sebelum memasuki usia 18 bulan, si Kecil belum bisa mengenali dirinya sendiri. Oleh sebab itu, Ibu bisa mengetahui bahwa dia sudah mengenali dirinya ketika si Kecil bisa menyebut namanya sendiri. Itulah alasan bermain cermin ini bisa membantunya untuk mengenal diri sendiri sejak dini. Selamat mencoba di rumah, Bu!