Whatsapp Share Like
Simpan

Untuk para Ibu yang memiliki anak usia batita pasti pernah mengalami fase saat si Kecil mengalami tantrum, bukan? Tantrum merupakan kondisi saat anak meluapkan emosinya dengan cara marah, menangis kencang, hingga mengamuk. Kondisi ini biasanya terjadi saat ia sedang merasa marah dan sedih secara berlebihan akibat suatu hal. Bisa berupa lapar, haus, atau tidak mendapatkan apa yang ia mau. Yuk, kenali lebih dalam tentang tantrum pada anak!

Tanda Tantrum yang Tidak Wajar

Seorang psikolog perkembangan anak, Belden, tantrum adalah hal yang normal terjadi pada setiap anak sebagai bagian dari proses perkembangannya. Namun jika sudah melebihi batas wajar, maka orangtua perlu waspada sebab menjadi tanda adanya masalah pada perkembangan anak. Inilah beberapa tanda tantrum yang tidak wajar yang perlu Ibu ketahui:

  • Durasi Marah yang Lama

    Untuk anak normal, biasanya mereka akan mengamuk sekitar 20 hingga 30 detik saja. Lalu durasi tantrum pada anak yang paling lama mencapai 15 menit. Setelah itu, suasana hatinya akan mulai tenang dan kembali seperti biasa. Ibu perlu waspada jika anak tantrum hingga lebih dari 25 menit. Durasi tantrum yang lama suasana hati anak bukannya kembali normal justru makin memburuk.

    Seiring bertambahnya usia dan disertai dengan dukungan keluarga untuk merubah sikapnya jadi lebih baik, sikap si Kecil pun dapat berubah. Namun jika kebiasaan ini terus bertambah parah hingga usia anak 4 tahun ke atas, maka Ibu sebaiknya segera membawa anak ke psikolog.

  • Frekuensinya Sering Terjadi

    Tantrum merupakan bentuk respon akibat ketidakmampuan anak mengatur impuls emosional yang dimilikinya. Jika frekuensi tantrum pada anak sudah lebih dari lima kali sehari dengan tindakan berteriak atau melempar barang, maka bisa dikatakan ia sudah melebihi batas normal.

    Artikel Sejenis

    Ibu juga perlu mewaspadai jika dalam sebulan anak mengalami tantrum sebanyak 10 hingga 20 kali. Kemungkinan anak sedang mengalami masalah kejiwaan serius dan harus mendapatkan penanganan oleh ahli seorang psikolog.

  • Melakukan Kontak Fisik dengan Orang Lain

    Saat anak marah hingga melakukan kontak fisik dengan orang lain, seperti menendang, memukul, mencakar, dan sebagainya, maka bisa disebut tantrumnya sudah tidak wajar. Tindakan mengamuk tersebut pun dapat menyebabkan orang yang akan menenangkannya merasa kesakitan dan kewalahan. Waspadalah, Bu, sebab bisa jadi ini merupakan tanda anak mengalami gangguan emosional.

  • Melukai Diri Sendiri

    Jika ada anak yang marah dengan melukai orang lain, ada juga yang melukai dirinya sendiri, seperti membenturkan kepala atau mencakari tubuhnya. Tindakan tersebut menunjukkan tanda bahwa ia memiliki tekanan psikologis dengan level berat sekaligus sebagai bentuk mencari perhatian orangtuanya setelah ia tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.

    Biasanya tindakan menyakiti diri sendiri mulai anak usia 16 bulan hingga 2 tahun saat ia masih belum lancar berbicara, sehingga sulit untuk mengutarakan keinginannya. Memasuki usia 3 tahun, kebiasaan ini akan berangsur berkurang dan hilang dengan sendirinya.

  • Belum Mampu Menenangkan Diri

    Tanda terakhir saat tantrum sudah melebihi batas normal adalah anak belum mampu untuk menenangkan dirinya sendiri setelah mengeluarkan emosinya. Ini menyebabkan kemarahan si Kecil semakin parah hingga mengamuk dan berteriak-teriak.

Mengatasi Anak Tantrum

Kewalahan, jengkel, hingga cemas pasti akan hinggap di hati setiap orangtua yang menghadapi anak dengan tantrum berlebihan. Tenang, Bu, ada beberapa cara mengatasi yang bisa Ibu dan Ayah coba lakukan. Ini dia cara-caranya:

  1. Berikan pelukan dan ciuman. Jika memungkinkan untuk mendekati anak yang sedang mengamuk, segeralah untuk memeluk dan mencium mereka, Bu. Keduanya merupakan tindakan sederhana tapi berdampak sangat besar untuk menenangkan anak.
  2. Ajak anak bicara. Anak tantrum karena menginginkan sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkannya. Untuk itu Ibu perlu mengajaknya berbicara, tapi tunggu hingga ia tenang. Anak yang sedang mengamuk mustahil untuk diajak berkomunikasi. Jika ia belum bisa lancar berbicara, berikan pertanyaan yang mungkin menjadi penyebab ia marah dan ia pasti akan merespon dengan anggukan atau gelengan kepala.
  3. Hentikan aktivitas yang Ibu lakukan. Anak sangat ingin mendapatkan perhatian orangtuanya, terlebih saat orangtuanya sedang sibuk melakukan sesuatu. Jadi jika ia mulai marah tanpa sebab di saat Ibu sedang sibuk, maka hentikan dulu kegiatan yang sedang Ibu lakukan. Temani si Kecil dan buat ia sibuk melakukan sesuatu agar Ibu bisa tenang menyelesaikan pekerjaan Ibu.
  4. Alihkan perhatiannya. Anak-anak yang masih sulit menyampaikan perasaannya lewat kata-kata masih mudah untuk dialihkan perhatiannya. Untuk meredakan tantrum pada anak, alihkan perhatiannya dengan memberikan mainan favorit, bernyanyi lembut, atau menunjukkan sesuatu yang menarik.
  5. Berikan ia waktu bagi dirinya sendiri. Beberapa anak tidak bisa didekati saat sedang mengamuk. Bila ia tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain, tak ada salahnya untuk memberikan ia waktu sendiri dulu sambil menemani di dekatnya. Saat kekesalannya sudah mereda, ia pun akan kembali normal.
  6. Mandi dan bermain air. Setiap anak kecil menyukai bermain air. Cara ini juga bisa digunakan untuk mengatasi tantrum pada anak. Ajak ia mandi sambil bermain busa dan membawa mainan favoritnya, ia pun akan takluk dengan mudah.
  7. Ajak bercanda. Anak-anak pasti menyukai saat Ibu mengajaknya bercanda, seperti membuat ekspresi wajah lucu atau membuat guyonan. Gunakan cara ini saat anak marah. Ia pun akan tersenyum bahkan tertawa geli melihat Ibu!
  8. Bermain dengan teman. Bermain bisa membuatnya lupa dengan amarahnya. Jika ia dekat dengan seorang teman atau saudaranya, ajak ia untuk bermain bersama mereka.

Anak yang mengalami tantrum melebihi batas wajar menandakan ada masalah psikologis pada dirinya. Jika cara-cara mengatasi tantrum pada anak di atas sudah tidak mempan, jangan ragu untuk membawa si Kecil ke psikolog anak. Ibu dapat berkonsultasi tentang amukan yang anak lakukan dan mendapatkan saran dari ahlinya.

Sumber: https://www.popmama.com, https://id.theasianparent.com