Share Like
Simpan

Keponakan Ibu yang berusia 3 tahun sudah ‘sekolah’ di playgroup. Bagaimana si Kecil nanti? Apakah perlu untuk ikut kelompok bermain? Apa sih sebetulnya manfaat si Kecil ‘sekolah’ di kelompok bermain? Apa pula akibatnya jika si Kecil tidak Ibu masukkan ke kelompok bermain?

Kelompok bermain (KB) atau playgroup merupakan bagian dari pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD sendiri terbagi menjadi 2 jalur, yaitu pendidikan non-formal untuk usia 2-4 tahun (KB) dan pendidikan formal untuk usia 4-6 tahun (taman kanak-kanak/TK). Undang Undang No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan PAUD pada adalah untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan dasar. Pendidikan di tingkat PAUD lebih ke arah pemberian rangsangan (stimulasi) untuk mengembangkan intelegensi, kemampuan sosial dan kematangan motorik anak.

‘Kegiatan belajar’ yang dilakukan di KB kebanyakan merupakan kegiatan bermain. Melalui permainan, anak-anak diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mempelajari hal-hal baru yang akan menjadi bekalnya memasuki pendidikan dasar nanti. Anak-anak dibimbing agar kepribadian, kecerdasan, bakat, kemampuan, minat dan ketrampilannya dapat berkembang secara optimal. Kegiatan belajar di KB harus bersifat menyenangkan dan tidak membebani si Kecil.

Di KB si kecil akan dilatih kemandiriannya, dikembangkan kemampuan emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik dan seni, serta beradaptasi dengan wahana pembelajaran dan permainan. Saat ini KB sudah banyak yang bilingual, tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa asing (misalnya bahasa Inggris) sebagai pengantarnya. Tidak ada salahnya memasukkan si Kecil ke KB bilingual, asal di rumah ketrampilan berbahasa asingnya juga terus dilatih sehingga si Kecil lebih terbiasa dengan bahasa tersebut.

Kalau begitu, si Kecil wajib dong ikut KB? Jika Ibu merasa yakin bahwa Ibu dan Ayah punya cukup waktu kemampuan, sarana dan fasilitas untuk mengajari si Kecil berbagai hal yang akan menjadi bekalnya masuk ke pendidikan dasar, mungkin si Kecil menjadi tidak wajib ikut KB. Tetapi jika Ibu dan Ayah sibuk bekerja, dan pengasuh yang menemani si Kecil di rumah tidak cukup kompeten untuk membantu mengembangkan potensi si Kecil, mungkin memang si Kecil sebaiknya ikut KB. Yang harus diingat adalah bahwa fungsi KB hanya untuk merangsang tumbuh kembang anak melalui konsep ‘bermain’, bukan untuk memberikan pendidikan formal yang sifatnya mencerdaskan. Pilihan dan keputusan ada di tangan Ibu dan Ayah. Sebagai orangtua, kita tentunya selalu ingin memberikan yang terbaik bukan?