Whatsapp Share Like Simpan

Bu, pernahkah Ibu mendengar tentang asfiksia? Mungkin beberapa Ibu masih asing dengan istilah tersebut, ya. Asfiksia erat kaitannya dengan gangguan pada bayi, khususnya bayi baru lahir, Bu. Kondisi ini ternyata tidak boleh dianggap sepele lho, karena dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi. Untuk mengenal lebih jauh tentang asfiksia, baca informasi selengkapnya di bawah ini, yuk:

Pengertian Asfiksia

Dikutip dari Wikipedia, pengertian asfiksia adalah suatu kondisi di mana pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh mengalami masalah yang diakibatkan adanya gangguan pada fungsi pembuluh darah, paru-paru, atau jaringan tubuh. Pada penderita asfiksia, jaringan tubuh yang tidak cukup mendapat pasokan oksigen adalah otak.

Kondisi ini dapat menyerang bayi baru lahir atau yang disebut sebagai asfiksia perinatal. Asfiksia perinatal adalah kondisi saat bayi tidak memperoleh pasokan oksigen sebelum, selama, atau setelah proses persalinan. Akibatnya, otak dan organ tubuh lainnya akan kekurangan asupan oksigen dan nutrisi.

Tentunya gangguan tersebut tidak boleh diremehkan ya, Bu, karena pasokan oksigen sangat dibutuhkan untuk kinerja sel-sel dalam tubuh bayi. Jika kurang terpenuhi, maka jelas akan berdampak fatal, seperti menumpuknya limbah asam di dalam sel termasuk akan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya.

Gejala Asfiksia Perinatal

Bayi yang mengalami asfiksia akan memiliki gejala yang berbeda-beda. Ada yang gejalanya langsung terlihat setelah dilahirkan, tapi ada juga yang tidak langsung terdeteksi. Salah satu gejala yang paling umum adalah denyut jantung bayi terlalu rendah atau malah terlalu tinggi.

Artikel Sejenis

Berdasarkan UCSF Benioff Children’s Hospital, gejala asfiksia perinatal sebelum bayi dilahirkan umumnya berupa:

  • Denyut jantung yang abnormal.
  • Kadar asam di dalam aliran darah mengalami peningkatan.

Sementara itu, gejala asfiksia setelah bayi dilahirkan adalah sebagai berikut:

  • Detak jantung cenderung melambat.
  • Otot melemah.
  • Kulit berwarna agak kebiruan dan terlihat pucat.
  • Kondisi lemas.
  • Susah bernapas yang menyebabkan bayi terengah-engah atau bernapas dengan perutnya.

Parah atau ringannya gejala asfiksia di atas dapat dipengaruhi oleh lamanya waktu bayi tidak memperoleh pasokan oksigen. Ini artinya semakin lama bayi kekurangan oksigen, maka kemungkinan gejala yang muncul akan semakin besar. Pada beberapa kasus, bayi baru lahir dengan gejala yang parah dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ, mulai dari otak, jantung, ginjal, hingga paru-paru.

Penyebab Asfiksia Perinatal

Asfiksia perinatal bisa disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini:

  • Salah satu dari bayi terkena penyakit infeksi.
  • Saluran pernapasan bayi mengalami masalah.
  • Ibu mengalami hipertensi atau hipotensi selama persalinan.
  • Bayi menderita anemia yang menyebabkan sel-sel darah tubuhnya kekurangan oksigen.
  • Ibu tidak memiliki persediaan oksigen dalam darah yang cukup sebelum ataupun selama persalinan.
  • Proses persalinan lama atau sulit.
  • Plasenta yang membungkus tubuh bayi mengalami masalah.
  • Bayi terlahir prematur (sebelum usia kehamilan 37 minggu), sehingga paru-parunya belum cukup berkembang dan menyebabkan bayi susah bernapas.
  • Tali pusat terjepit.
  • Plasenta terlalu cepat lepas saat kelahiran, sehingga mengakibatkan bayi kesulitan bernapas.
  • Adanya sindrom aspirasi mekonium, yakni mekonium bayi terhirup sebelum, selama, maupun setelah persalinan.

Pengaruhnya Terhadap Tumbuh Kembang

Asfiksia jelas akan mempengaruhi proses tumbuh kembang bayi ya, Bu. Saat organ-organ tubuhnya tidak cukup mendapatkan pasokan oksigen, maka kinerjanya pun akan menurun. Alhasil, pertumbuhan dan perkembangan bayi pun akan ikut terhambat.

Contohnya saja pada otak. Jika otak kekurangan oksigen, maka otak tidak dapat berkembang dengan baik. Sebagai dampaknya, kemampuan otak untuk berpikir turut kurang maksimal. Bayi menjadi kurang mampu menangkap dan menyerap informasi. Bila terus terjadi, proses belajarnya dapat jauh tertinggal dibandingkan dengan bayi seusianya.

Pengobatan untuk Asfiksia

Pengobatan asfiksia pada bayi baru lahir akan ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat keparahan gejala dan waktu bayi terdiagnosa mengalami asfiksia. Bila sebelum persalinan sudah terdiagnosa asfiksia, ibu akan diberikan tambahan oksigen untuk meningkatkan asupan oksigen pada bayi. Selain itu, dokter juga akan menyarankan untuk melahirkan dengan jalan operasi caesar untuk menghindari risiko komplikasi selama persalinan.

Sesaat setelah lahir, bayi yang terdiagnosa asfiksia akan diberikan ventilasi, yaitu dengan memasukkan oksigen ke dalam paru-paru untuk mempermudah pernapasannya. Asupan cairan dan tekanan darah bayi juga akan diperiksa untuk mengetahui apakah sudah memperoleh cukup oksigen atau belum.

Apakah Asfiksia Bisa Disembuhkan?

Untuk bayi baru lahir dengan asfiksia yang memiliki tingkat ringan atau sedang, masih dapat disembuhkan secara total. Namun, jika sel-sel tubuhnya kekurangan oksigen dalam waktu lama, maka ada kemungkinan bayi mengalami cedera. Apalagi kalau tidak ditangani secepatnya, kondisi tersebut dapat berpengaruh pada organ-organ tubuhnya, seperti jantung, ginjal, otak, usus, paru-paru, dan lainnya hingga menyebabkan kematian.

 

Setelah membaca informasi di atas, asfiksia cukup membuat para Ibu ketakutan, ya. Untuk itu, pemeriksaan selama kehamilan sangat diperlukan agar dapat mendeteksi adanya kelainan sedini mungkin. Terakhir, jangan lupa untuk terus mengonsumsi makanan bernutrisi dan menjalani hidup sehat ya, Bu.

Bagi Ibu yang masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar bayi, bisa berkunjung ke laman Tanya Pakar, ya. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

 

Sumber:

Hellosehat