Whatsapp Share Like
Simpan

Manusia dapat berpikir sejak ia masih bayi dan dalam kandungan. Saat masih dalam kandungan Ibu, si Kecil berpikir dengan mendengarkan suara-suara yang muncul di luar perut Ibu. Kemudian si Kecil lahir dan ia semakin banyak mempelajari hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Meskipun si Kecil hanya bisa memberikan respon dari matanya, tersenyum, tertawa, ataupun menangis.

Bayi usia awal dipahami bahwa ia sedang sibuk untuk berpikir, menerjemahkan apa yang ada di sekitarnya dengan menggunakan kemampuan indranya yang masih terbatas namun terus berkembang. Selama itu juga si Kecil merespon apa saja yang terjadi dan bereksperimen melalui motorik dan sensorinya. Namun sebenarnya bagaimana sih pikiran si Kecil yang sebenarnya? Yuk, simak ulasan berikut.

Apa yang menyebabkan bayi tertawa?

Terdapat beberapa penelitian ilmiah terkait apa yang membuat bayi tertawa. Pada salah satu penelitian yang dilakukan oleh Addyman, diketahui bahwa tertawa saat masih bayi merupakan tawa sosial. Maksudnya adalah, si Kecil tertawa dikarenakan tingkah laku yang sedang dilakukan oleh orang lain. Jika Ibu mencoba menggelitik si Kecil dan ia tertawa, si Kecil tidak hanya merasa geli kemudian tertawa, akan tetapi karena Ibu yang menggelitik si Kecil.

Saat Ibu membuat lelucon pada si Kecil, banyak peneliti menyebutkan bahwa bayi tidak memahami lelucon Ibu atau orang-orang di sekitarnya. Bayi tertawa karena ia sedang menikmati dirinya sendiri. Tawa pertama si Kecil biasanya ditunjukkan saat sebelum usia 4 bulan dan menjadi simbol si Kecil sedang belajar bersosialisasi.

Apakah bayi mengenali orang tuanya?

Mungkin Ibu bertanya-tanya apakah si Kecil mengenali bahwa Ibu adalah Ibunya. Pertama kali bayi lahir memang si Kecil disandingkan dengan Ibunya. Bayi yang baru lahir masih mencoba mengenal kondisi di sekitarnya, termasuk wajah Ibu. Meskipun ketika dalam kandungan, si Kecil telah mendengar suara Ibu dan saat itulah ia mulai berpikir inilah suara Ibunya.

Artikel Sejenis

Ketika si Kecil lahir, kemampuan melihatnya masih terbatas, sehingga Ibu harus dekat dengan wajahnya sekitar 20-35 cm. Jarak tersebut adalah jarak seorang Ibu dan si Kecil ketika sedang menyusui, dan inilah momen si Kecil semakin mengenali bahwa Ibu adalah Ibunya.

Si Kecil belajar untuk mengenali orang tuanya dari aromanya. Saat ia lahir aroma Ibu adalah yang paling disukainya. Bayi akan mengenduskan hidungnya ke tubuh Ibu dan berpikir bahwa inilah aroma yang disukainya. Selain itu si Kecil juga berpikir bahwa Ibulah yang memberikan dia makan sekaligus rasa nyaman.

Apakah bayi tahu namanya?

Bayi seharusnya mulai mengenali namanya saat usia 5 atau 6 bulan. Indikator bayi mengenali namanya adalah dengan ia merespon saat namanya disebutkan. Untuk umur sebelum itu, memang biasanya bayi masih belum memahami dan menghiraukan panggilan tersebut. Hal ini dikarenakan pada usia di bawah 3 bulan, si Kecil masih belajar merespon wajah dan suara saja, tanpa mempelajari kata-kata. Meskipun masih belum mengetahui namanya, Ibu tetap boleh memanggil namanya sebagai stimulus pada perkembangan otaknya.

Bayi mimpi apa sih?

Saat si Kecil masih dalam kandungan, si Kecil telah memiliki tahap tidur Rapid Eye Movement (REM). Tahap tersebut adalah tahap si Kecil tidur dalam kondisi pulas dan rentang tidur mencapai 80 persen. Pada tahap ini aktivitas neuron sel otak aktif dan seperti dalam kondisi terjaga. Ibu akan sering mendapati si Kecil menggerakkan tangan dan kakinya. Saat kondisi REM, mata si kecil akan bergerak-gerak dengan cepat ke segala arah. Namun, hal-hal tersebut bukanlah menjadi tanda bahwa si Kecil sedang bermimpi. Mungkin Ibu akan menemui si Kecil tiba-tiba berteriak, menangis, atau tersenyum saat tidur, hal ini bisa jadi bentuk ekspresi yang dibayangkan si Kecil saat sebelum tidur. Jika si Kecil menangis, Ibu bisa mengecek apakah popoknya sudah penuh, kepanasan, ataupun posisi tidurnya kurang nyaman.

Mengungkap apa yang sedang dimimpikan si Kecil merupakan hal yang rumit. Meskipun dapat diasumsikan mimpi si Kecil berkaitan dengan perkembangan otaknya yang sedang terjadi. Pakar neurologi, menyebutkan bahwa apa yang dipikirkan bayi ketika tidur masih kosong ketika baru lahir, meskipun sel di dalam otaknya terus mengalami perkembangan.

Mengetahui setiap tahapan perkembangan si Kecil adalah hal yang menyenangkan bagi Ibu. Jika Ibu bisa mengamati dengan baik, Ibu akan terkejut dengan setiap perkembangannya. Mungkin saat usia 0-3 bulan Ibu belum banyak mengetahui tentang isi pikiran si Kecil, namun seiring dengan perkembangannya, si Kecil akan semakin pintar dalam mengekspresikan apa yang sedang dirasa dan dipikirkannya. Teruslah membantu si Kecil dalam mengembangkan potensinya ya, Bu.