Whatsapp Share Like
Simpan

Pertumbuhan mental si Kecil, akan berjalan seiring dengan bertambahnya usia dan jumlah orang yang ditemuinya. Semakin banyak si Kecil bertemu dengan orang baru dengan beragam latar belakang, si Kecil juga akan memiliki makin banyak preferensi jenis orang yang dikenalnya. Tentu, kehadiran Ibu ketika si Kecil berinteraksi harus dipastikan demi keamanan dan kenyamanannya.

Sebagai seorang Ibu, tentu tumbuh kembang si Kecil selalu menjadi perhatian utama. Asupan nutrisi yang mencukupi akan menunjang perkembangan fisiknya secara optimal. Perkembangan mental dan psikologis, disisi lain, juga perlu diberikan rangsangan agar si Kecil mampu terus beradaptasi dengan lingkungannya sehingga memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Selain rasa percaya diri, yang juga penting untuk ditanamkan pada si Kecil sejak dini adalah rasa toleransi. Rasa toleransi memang sedang menjadi isu hangat belakangan ini. Toleransi bisa ditanamkan sejak dini, agar si Kecil menjadi pribadi yang lebih peka dan bisa memahami perasaan orang lain sehingga lebih mudah menjalin pertemanan dan meraih sukses.

Setidaknya ada 5 dara yang bisa Ibu gunakan untuk menanamkan toleransi sejak dini pada si Kecil. Kelima cara tersebut adalah sebagai berikut.

Membaca

Membaca merupakan satu cara mengajari ilmu baru yang paling klasik, namun terbukti masih efektif hingga saat ini. Membaca berbagai hal, misalnya cerita anak-anak, akan merangsang imajinasi si Kecil untuk  memproyeksikan hal yang belum pernah terjadi padanya. Dengan membaca cerita juga si Kecil bisa mengetahui sudut pandang banyak karakter.

Artikel Sejenis

Pengenalan pada sudut pandang berbagai karakter ini yang akan menjadi rangsangan pada tumbuhnya rasa toleransi. Dengan mengetahui berbagai perasaan yang dirasakan setiap karakter, si Kecil akan mensimulasikan satu adegan tertentu, dimana dirinya ikut mengambil peran.

Pembiasaan membaca bisa dilakukan dengan mencontohkannya secara langsung. Ibu hanya perlu duduk membaca satu majalah, atau cerita, atau apapun, dan mengajak si Kecil duduk bersama. Bantu si Kecil ‘masuk’ ke dalam cerita tersebut dan coba tanyakan apa yang dirasakan setiap karakter sehingga si Kecil mampu mendapatkan perspektif baru.

Belajar Bahasa Lain

Salah satu hal yang paling menghambat interaksi manusia adalah perbedaan bahasa yang digunakan. Mempelajari bahasa asing sejak dini bisa memberikan si Kecil kemampuan yang baik dalam berinteraksi dengan orang asing. Dengan begini, si Kecil akan lebih mudah melakukan obrolan, misalnya dengan orang berbahasa Inggris, dan bisa mengetahui hal baru.

Nilai toleransi dapat tumbuh ketika si Kecil belajar bahasa asing tersebut. Dengan mempelajari bahasa asing, si Kecil akan mengetahui bahwa ada hal yang bisa membuat orang-orang bisa berkomunikasi, bahkan jika tidak saling mengenal sekalipun. Berbicara dengan banyak orang baru memberikan si Kecil pengalaman yang juga baru, sehingga proses perkembangan mental dan psikologisnya akan terus berjalan.

Contoh Baik dan Pahlawan

Memiliki sosok idola akan menjadi pemicu semangat belajar si Kecil tetap membara. Ketika si Kecil mengidolakan seorang pahlawan atau tokoh tertentu misalnya, ia akan belajar mengenai nilai positif dari tokoh tersebut. Biarkan si Kecil memasang foto atau ilustrasi tokoh idolanya sehingga ia akan terus termotivasi.

Jika Ibu memiliki tokoh idola lain, hal ini bisa menjadi bahan perbincangan dengan si Kecil. Bicarakan nilai positif dari masing-masing tokoh dan coba mengerti perspektif si Kecil mengenai tokoh idolanya. Dengan mencoba memahami, si Kecil juga akan terpacu untuk ikut mencari tahu tentang tokoh idola Ibu dan ikut mencoba memahami nilai positif tokoh tersebut.

Rasa Peduli dan Interaksi dengan Orang Lain

Rasa acuh dan intoleransi biasanya timbul dari ketidakpedulian dan perasaan takut pada suatu hal. Pada konteks ini, biasakan si Kecil untuk berinteraksi dengan orang baru secara rutin. Interaksi ini akan mendorong si Kecil untuk memahami apa yang dipikirkan orang lain dan apa hal yang belum diketahuinya.

Si Kecil yang mengenal banyak orang terbukti akan memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi dibandingkan ketika ia tidak mengenal banyak orang. Rasa toleransi akan membuat hubungannya dengan orang baru lebih mudah terjalin, dan si Kecil juga akan lebih mudah disukai oleh lingkungan barunya.

Ajarkan Kesabaran

Mengajarkan kesabaran pada si Kecil memang tidak mudah. Namun kesabaran bisa jadi kunci untuk menghadapi intoleransi yang bisa tertanam secara tidak langsung pada si Kecil. Biasakan selalu mendengarkan setiap si Kecil berbicara, dan berikan respon terperinci pada setiap perkataannya. Ajarkan bahwa tidak setiap yang diinginkannya bisa Ibu penuhi saat itu juga.

Memupuk rasa toleransi, bisa menjadikan si Kecil lebih pintar memahami emosi orang lain dan secara psikologis akan lebih matang. Si Kecil yang memiliki rasa toleransi yang tinggi, akan dapat mengerti jika ada sesuatu yang tidak sama dengan apa yang didapatkannya selama ini dan tetap mengambil nilai positif dari setiap hal baru yang ditemuinya.