Share Like
Simpan

 Sekira 20% Ibu yang baru melahirkan dapat menderita sembelit atau konstipasi. Namun bila Ibu tidak dapat buang air besar dalam 2 hari setelah melahirkan masih tergolong normal sepanjang tidak ada gejala lain yang menyertai.

Ada banyak penyebab konstipasi setelah melahirkan, diantaranya Ibu menahan buang air besar (BAB), karena merasa khawatir akan terasa nyeri atau khawatir jahitan pada luka jalan lahir terbuka saat BAB.

Padahal daerah antara vagina dan anus yang disebut sebagai perineum, tidak akan terasa nyeri dan agak kebal, karena saat Ibu menjalani proses persalinan normal, syaraf yang teregang adalah bagian dalam dan sekitar vagina. Jahitan pada jalan lahir pun umumnya tidak akan lepas atau terbuka saat BAB, karena dorongan BAB meregangkan dinding panggul dan bukan area jalan lahir. Kekhawatiran Ibu ini justru dapat membuat sembelit makin parah.

Namun adakalanya beberapa hal yang berkaitan selama kehamilan dan proses kelahiran memang menyebabkan konstipasi, seperti tingginya hormon progesteron dalam tubuh Ibu, atau melambatnya sistem pencernaan Ibu saat persalinan. Selain itu, obat-obatan pereda nyeri yang dikonsumsi Ibu saat proses persalinan, yang umumnya merupakan obat golongan anestesi, juga dapat memperlambat gerakan saluran cerna Ibu sehingga Ibu mengalami sembelit.

Beberapa proses persalinan yang sulit, sehingga membutuhkan alat forceps saat mengeluarkan si Kecil, dapat mengganggu gerakan saluran usus Ibu. Lalu, bila terjadi robekan yang besar pada daerah jalan lahir hingga perineum juga dapat menyulitkan Ibu untuk BAB. Selain itu, konsumsi tablet besi juga dapat menyebabkan Ibu mengalami sembelit.

Bagaimana caranya mengatasi sembelit?
Jika Ibu memberikan ASI pada si Kecil, minumlah lebih banyak dan beranjaklah dari tempat tidur sesegera mungkin agar gerakan usus Ibu aktif. Duduk atau berbaring sepanjang hari akan menyebabkan konstipasi. Bila Ibu merasa hendak BAB, janganlah menahannya, segera pergi ke WC, dan duduk dengan posisi yang benar. Saat Ibu duduk di closet, berjinjitlah sehingga posisi lutut sedikit lebih tinggi dari panggul. Bila memungkinkan, tempatkan kaki Ibu pada bangku, sehingga posisi lutut kanan lebih tinggi. Berjinjit dan istirahatkan siku Ibu pada lutut. Posisi ini menyerupai posisi jongkok yang ideal untuk melancarkan BAB. Selanjutnya, Ibu dapat ‘merosot’ ke bawah dan duduk tegak beberapa kali agar otot perut bekerja dan Ibu pun dapat merasakan otot perut mengencang dan rileks bergantian.

Saat Ibu BAB, Ibu dapat menahan daerah antara vagina dan anus (perineum) dengan tisu bersih untuk membantu menahan panggul. Selain itu, dengan menahan area perineum dapat mengurangi rasa nyeri yang timbul setelah syaraf-syaraf bagian perineum pulih, karena saat Ibu mengejan, otot dasar panggul akan bergerak ke bawah untuk mengeluarkan kotoran. Dengan menahan bagian perineum dengan lembut, rasa nyeri dapat berkurang dan Ibu pun dapat BAB dengan lebih mudah.

Tips menyiasati konstipasi:
• Jangan tahan saat Ibu merasa akan BAB. Semakin Ibu menahannya, kotoran akan semakin keras dan semakin sukar keluar.
• Makanlah makanan yang berserat seperti sereal atau roti gandum utuh, brown rice, kacang-kacangan, serta buah-buahan dan sayuran segar. Ibu juga dapat mengonsumsi FRISIAN FLAG MAMA yang kaya akan nutrisi, termasuk serat pangan, dalam rasa coklat yang lebih nikmat.
• Minumlah cairan lebih banyak setidaknya 8 gelas sehari, malahan Ibu akan perlu lebih banyak lagi bila Ibu memberikan ASI. Minuman hangat dapat membantu meredakan konstipasi
• Pergilah berjalan-jalan, walau saat pertama akan terasa nyeri, terutama bila Ibu baru saja menjalani operasi sesar atau luka jahitan jalan lahir. Dengan bergerak, usus ibu pun ikut bergerak, sehingga mengurangi konstipasi.
• Pilihan terakhir, mintalah obat pelunak feses pada dokter atau bidan, agar Ibu lebih mudah BAB dengan feses yang lebih lembek.