Share Like
Simpan

Aduh, repotnya kalau tiba-tiba si Kecil jadi menyukai ungkapan “Nggak mau!”. Setiap kali diajak makan, tidur siang, mandi, atau membereskan mainan ia akan selalu menolak. Di tahap tumbuh kembang balita yang seperti ini, Ibu akan dituntut untuk menjadi lebih sabar. 

Fase seperti ini adalah fase yang pasti dilalui oleh setiap balita. Memasuki usia pra-sekolah (4-6 tahun), si Kecil akan mengalami banyak perubahan pada dirinya sehingga ia sudah mulai memilih mana yang ia suka dan tidak. Orang tua pada umumnya juga merasakan betapa repotnya ketika ia tidak lagi menurut seperti dulu. Bagaimana cara menghadapi si Kecil yang seperti ini? Berikut adalah beberapa cara yang bisa Ibu coba:

Ajarkan ia untuk memilih. Tanyakan kepadanya pilihan warna pakaian yang ingin ia kenakan. Bila ia menolak untuk memilih, ambil alih pilihannya.

Berlakukan “psikologi berbalik”. Ketika si Kecil menolak permintaan Ibu, buatlah pernyataan seolah-olah Ibu menyetujuinya seperti misalnya “Baiklah kalau kamu tidak mau cuci tangan, tapi jangan bingung kalau nanti sakit perut ya!”.

Berikan ia batasan atas sikapnya. Hal ini berlaku juga ketika menoleransi kemauannya karena di tahap tumbuh kembang balita ini ia akan senang menguji. Jadi, misalnya ia berkeras meminta permen padahal ia tidak diperbolehkan makan permen hari itu, berikan ia penjelasan mengapa peraturan tersebut tidak dapat diubah ya, Bu.

Fase seperti ini dapat terjadi karena sekarang merupakan masa si Kecil mulai menjadi mandiri. Ia mulai tahu apa yang ia inginkan. Sayangnya, hal tersebut belum sepenuhnya mampu untuk disampaikan si Kecil kepada Ibu. Oleh sebab itu, penolakan merupakan salah satu cara ia merasa memiliki kontrol. 

Tetaplah bersikap positif dan tidak memaksa ya, Bu. Ketika ia menolak permintaan Ibu, ada baiknya Ibu juga mendengarkan alasan si Kecil. Bisa jadi ia menolak karena mengalami trauma atau merasa tidak nyaman. Penolakannya terhadap makanan tertentu mungkin saja terjadi karena ia pernah mengalami kondisi di mana si Kecil pernah dipaksa untuk memakan suatu makanan tertentu. Selain itu, sifat rewelnya tersebut bisa terjadi karena ada gangguan pada tubuhnya, seperti tumbuh gigi, radang tenggorokan, gangguan pencernaan, atau batuk dan pilek. Kondisi tubuh yang sedang lemah juga bisa menjadi alasan ia enggan melakukan banyak hal. 

Perhatikan juga lingkungan sekitarnya, Bu. Apakah ia sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan ketika sedang bermain bersama teman-temannya? Lingkungan yang menyebabkan ia merasa frustasi dapat membuatnya memberontak dan menyebabkan ia menolak permintaan Ibu. Jika Ibu ingin membuat si Kecil lebih menurut, Ibu bisa mencoba beberapa hal berikut:

Tetaplah Mengontrol Nada Suara Ibu 

Ketika Ibu mengharapkan si Kecil melakukan sesuatu sesuai dengan perintah Ibu, hindari menggunakan nada tinggi atau bahkan berteriak. Gunakan suara yang hampir berbisik dan gunakan bahasa deskriptif (bukan ancaman seperti “Tidak boleh!”). Seperti misalnya, “Sekarang sudah saatnya mandi supaya kamu bisa bermain di luar bersama teman-temanmu.” 

Memaklumi Usia si Kecil

Saat ia menolak perintah Ibu, jangan langsung memarahinya. Ingatlah bahwa usianya masih tergolong usia pra-sekolah dan merupakan hal yang normal bila ia sulit diatur. Berbicaralah dengan bahasa yang mudah ia pahami agar ia mengerti maksud dari teguran Ibu.

Gunakan Bahasa Deskriptif

Dengan menggunakan bahasa yang tidak mengancam, si Kecil akan mendengarkan perintah Ibu. Seperti misalnya ketika Ibu memintanya untuk membereskan mainannya. Daripada mengatakan “Ayo bereskan mainanmu atau Ibu buang!”, Ibu bisa mengatakan “Ibu senang melihat anak Ibu menyimpan dan menjaga mainannya tetap rapi.” 

Di tahap tumbuh kembang balita, cara berkomunikasi antara Ibu dan si Kecil sangatlah berpengaruh untuk perkembangan psikologinya. Jadi, dampingi terus tumbuh kembangnya agar ia tumbuh dan berkembang dengan sempurna!