Whatsapp Share Like
Simpan

Kalau keponakan lagi main ke rumah, saya bukannya pusing tapi justru jadi semangat. Maklum, si Kecil sudah masuk sekolah semua, rumah jadi sepi sekarang, hal ini dikarenakan saya sudah lama nggak mengurus balita, jadi seperti kembali ke beberapa tahun lalu.

Keponakan saya ini usianya sudah hampir menginjak 10 bulan. Kalau lagi main, duh, cerewetnya minta ampun! Tapi saya nggak keberatan. Justru, saya malah senang dan biasanya saya ajak ia mengobrol. Meskipun ia belum benar-benar fasih berbicara, akan tetapi, ia sudah mulai memahami perkataan maupun bahasa tubuh yang saya berikan. Si Kecil juga dulu begitu, Bu. Sewaktu ia masih berusia 9 bulan, ia sudah mulai bisa mengutarakan keinginannya dengan menggunakan beberapa gestur. Misalnya, ia akan mengangkat kedua tangannya jika ingin digendong, menunjuk ke salah satu mainannya saat meminta, atau tepuk tangan saat sesuatu membuatnya merasa senang. 

Si Kecil bisa melakukan beberapa gerakan tersebut, tentu karena ia mempelajarinya dari orang-orang di sekitarnya. Nah, untuk menstimulasi pemahamannya terhadap beberapa bahasa tubuh, saya dulu mencoba melatih si Kecil dengan cara seperti ini:

  • Saat saya menginginkan ia untuk lebih tenang dan tidak bersuara, saya meletakkan jari di bibir dan terkadang disertai dengan suara seperti “Ssssttt…”. Setelah beberapa kali melihat saya melakukan hal tersebut, ia jadi memahami gestur tersebut dan seringkali mencoba melakukan gerakan yang sama.
  • Kalau Ayahnya atau orang lain akan pergi, saya membiasakan si Kecil untuk melambaikan tangan sambil mengucapkan “Daaah…” kepada orang tersebut. Pada awalnya ia hanya bisa melambaikan tangan, tapi lama-kelamaan gestur tersebut turut diiringi dengan kata “Aaah…” karena belum bisa mengatakan “Daaah…” dengan benar. 
  • Gerakan sederhana seperti menggeleng atau menganggukkan kepala, ternyata juga ikut ditiru oleh si Kecil, lho. Jadi, jangan heran saat ia tidak menginginkan sesuatu, ia mencoba mengungkapkannya kepada Ibu dengan menggelengkan kepala. 
  • Ibu ingat permainan “Ciluk Ba”? Nah, permainan yang sangat sederhana ini rupanya juga dapat melatih si Kecil mengenali dan menirukan gestur yang Ibu lakukan, lho. Apabila Ibu sering bermain permainan ini dengannya, bisa jadi ia tiba-tiba menjawab kata “Ba…” saat bermain. 

Mengajarkan si Kecil memang bisa lewat berbagai hal, dan tidak harus selalu dengan aktivitas bermain. Tapi, ketika Ibu berinteraksi dan mencoba melatih pemahamannya, ia akan merasa seperti sedang diajak bermain. Jadi, biarkan ia menikmati momen bermainnya ini sambil menyerap informasi baru ya,. Namun, jangan mudah berkecil hati apabila pemahaman si Kecil tidak seperti anak-anak lainnya. Perkembangan pada tiap anak berbeda-beda lho, yang penting, tetaplah bersabar dan selalu bimbing ia di masa tumbuh kembangnya ini, ya. 

Kemampuannya untuk memahami suatu hal dan berkomunikasi merupakan unsur yang sangat penting dalam menjalin ikatan antara si Kecil dan orang tua. Nah, sebuah gerakan atau gestur, adalah bentuk pertama dari proses komunikasi dengannya. Jangan salah, Bu. Ia dapat merasakan perhatian Ibu tertuju padanya atau tidak, salah satunya adalah dengan gestur yang Ibu berikan, lho. Itulah sebabnya, pada beberapa kasus, anak menjadi lebih rewel saat Ibu tidak menghiraukan ‘perkataan’ si Kecil,karena, ketika keinginannya terpenuhi, ia akan merasa lebih aman dan juga senang.

Satu hal lagi, jangan pernah khawatir untuk memberikan stimulasi kepada si Kecil sedari dini, ya. Melatih kemampuan pada anak tidak pernah terhitung terlalu dinikarena, tanpa Ibu sadari, seorang anak menyerap informasi melalui interaksi yang ia lakukan setiap hari. Oleh sebab itu, melalui pengalaman berinteraksinya itulah ia dapat menstimulasi perkembangan kognitif dan membangun fondasi yang kuat terhadap perkembangan linguistik di masa tumbuh kembang selanjutnya. Menarik kan, Bu?

Nah, sebagai pendamping proses belajar pada si Kecil, asupan nutrisi dan gizi yang seimbang wajib di tempatkan pada urutan teratas. Sebagai salah satu alternatif, di usia 8-12 bulan ini, si Kecil sudah siap mengonsumsi makanan padat dan salah satu di antaranya adalah daging yang dicincang halus. Ibu bisa memberikan sajian yang mengandung daging yang dicampur dengan nasi tim sesekali dalam seminggu sebanyak tiga sampai empat sendok makan, atau, berikan ia telur sebagai salah satu lauk pada menu makanannya dan coba sajikan sebanyak tiga atau empat kali untuk melihat ada atau tidaknya reaksi alergi. Saran saya, sebaiknya berikan si Kecil bagian kuning telur sebagai permulaan sebelum ia menginjak usia 1 tahun karena, pada beberapa kasus, anak-anak di bawah 1 tahun masih sangat sensitif dengan putih telur. 

Semoga info dari saya ini bermanfaat ya, Bu!