Share Like
Simpan

Hai, Bu. Apa kabar? Semoga terus semangat memberikan pendidikan karakter anak yang positif agar si Kecil bisa tumbuh optimal secara psikologis, ya. Mengingat saat ini si Kecil mulai bersosialisasi di lingkungan yang lebih luas, Ibu perlu membekalinya dengan beberapa keterampilan sosial. Salah satunya konsep menghargai privasi, Bu. Menurut psikolog yang saya jumpai via Live Chat di laman Facebook Ibu & Balita, memahami konsep privasi bisa membantu anak lebih menghargai orang lain dan dirinya sendiri.

Dengan memahami privasi, ke depannya, anak akan lebih peka dalam melihat keadaan orang lain. Misalnya, apakah orang itu sedang butuh waktu sendiri atau justru sebaliknya. Inilah alasan psikolog menyarankan untuk memberikan pemahaman seputar privasi dalam mendidik karakter anak.

Penasaran apa lagi info yang saya dapat dari sesi Live Chat itu? Berikut rangkumannya untuk Ibu. Yuk, simak!

Waktu yang Tepat untuk Memperkenalkan Privasi

Menurut diskusi yang saya ikuti, mengajari konsep privasi pada si Kecil bisa dilakukan sejak ia berusia dua tahun. Alasannya, selain lingkup sosialisasi anak di usia ini semakin luas, anak sudah mulai bisa memahami apa yang Ibu sampaikan secara lisan serta contoh yang Ibu berikan lewat tindakan. Dengan kata lain, selama Ibu konsisten mencontohkan cara menjaga privasi diri sendiri beserta cara menghargai privasi orang lain, pelan-pelan, balita kesayangan Ibu akan memahami konsep privasi dan terlatih untuk menerapkannya, Bu.

Bagaimana Cara Mengajarkan Privasi pada si Kecil?

 

Nah, berikut empat cara sederhana mengajarkan pentingnya privasi pada si Kecil yang dicontohkan psikolog itu, Bu.

  1. Biasakan si Kecil Mengetuk Pintu Sebelum Masuk ke Kamar Ibu

Membiasakan si Kecil untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar Ibu adalah langkah pertama yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan konsep privasi pada balita. Hal ini bisa Ibu lakukan secara bertahap. Misalnya, dimulai dari mengajarinya cara mengetuk pintu saat akan menemui Ayah di kamar atau ruang kerjanya. Lakukan kebiasaan ini secara berulang agar si Kecil paham bahwa hal ini penting dilakukan.

Ibu bisa mengajarinya cara mengepalkan tangan untuk mengetuk pintu sambil berkata, “Sebelum masuk ke kamar atau ruang kerja Ayah, Adik harus mengetuk pintu terlebih dulu ya, supaya Ayah tidak kaget.” Sambil mengetuk pintu, Ibu juga bisa meminta si Kecil memanggil Ayah. Dengan begitu, ia makin paham bahwa memberitahu orang yang ada di dalam ruangan sebelum masuk adalah hal yang tak boleh dilewatkan.

  1. Ajari si Kecil untuk Tidak Sembarangan Mengambil Makanan Orang Lain

Berikutnya, Ibu juga bisa memanfaatkan momen makan bersama untuk mengajari si Kecil pentingnya menghargai privasi orang lain. Caranya, biasakan ia untuk minta izin terlebih dulu sebelum mengambil makanan yang ada pada piring Ibu. Untuk melakukannya, Ibu bisa berkata, “Dik, yang ada di piring Ibu adalah makanan Ibu. Sementara yang ada di piring Adik adalah makanan Adik. Bila Adik menginginkan makanan di piring Ibu, Adik harus minta izin terlebih dulu sebelum mengambilnya. Kalau Ibu sudah mengizinkan, Adik boleh mengambilnya. Tapi, bila Ibu tidak mengizinkan, Adik tidak boleh memaksa, ya. Ibu juga begitu, tidak boleh mengambil milik Adik, bila Adik keberatan. Paham, ‘kan?”

Meski sederhana, cara ini bisa membentuk karakter anak dan melatihnya menghargai privasi orang lain lho, Bu.

  1. Beri Tahu si Kecil untuk Menutup Pintu Saat Menggunakan Toilet

 

Karena usianya masih amat dini, wajar bila si Kecil kadang masih butuh bantuan saat melakukan beberapa hal, termasuk sewaktu menggunakan toilet. Namun, seiring meningkatnya kemampuannya dalam menjaga keseimbangan tubuh, perlahan Ibu mulai bisa membiarkannya lebih mandiri dalam hal ini.

Bila si Kecil sudah bisa menggunakan toilet sendiri, momen ini sebaiknya Ibu manfaatkan untuk mulai memberitahunya bahwa segala aktivitas di kamar mandi atau toilet adalah hal privat yang tidak boleh diketahui orang lain. Oleh sebab itu, ia harus menutup pintu saat menggunakan toilet.

  1. Beri Tahu si Kecil untuk Tidak Membiarkan Orang Lain Menyentuh Area Tubuh Tertentu

Seiring bertambahnya usia si Kecil, Ibu juga bisa mengajarinya privasi dengan memberitahu bahwa bagian-bagian tertentu di tubuhnya yang hanya boleh dilihat dan disentuh olehnya, Ibu, dan Ayah.

Untuk melakukannya, Ibu bisa mengatakan, “Dik, selain kamu, Ibu, dan Ayah, orang lain tidak boleh menyentuh tubuh Adik sembarangan, ya. Orang lain hanya boleh menyentuh kepala, leher, pundak, betis, dan kaki Adik. Selain bagian-bagian yang Ibu sebutkan tadi, tidak boleh. Adik juga harus segera memberi tahu Ibu bila ada siapa pun yang berani menyentuh tubuh Adik sembarangan.” Cara ini akan membantu Ibu membuat si Kecil mengerti bahwa ada area-area di tubuhnya yang sifatnya privat dan bukan untuk konsumsi publik, Bu.

Yuk, mulai biasakan keempatnya sebagai bagian dari pendidikan karakter anak sehari-hari, Bu! Dengan begini, balita kesayangan Ibu sejak dini akan memahami pentingnya menghargai privasi dirinya dan orang lain, sehingga kelak ia bisa menempatkan diri dengan baik di tengah-tengah lingkungan.