Whatsapp Share Like Simpan

Anemia pada ibu hamil adalah salah satu risiko yang harus diwaspadai karena dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Perubahan dalam tubuh ibu hamil yang jadi alasan utamanya. Seorang ibu hamil membutuhkan pasokan darah segar dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Tubuhnya akan secara alami membentuk lebih banyak sel darah merah untuk mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisi janin. Produksi sel darah merah dan hemoglobin membutuhkan berbagai komponen, seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Ketika tubuh tidak memiliki bahan-bahan ini dalam jumlah yang cukup, maka ibu hamil akan rentan kena anemia. 

Anemia pada ibu hamil yang tidak ditangani dengan benar dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi yang berbahaya. Jika pada janin bisa terjadi beberapa kondisi seperti persalinan prematur, risiko berat badan lahir rendah pada bayi. Pada sisi ibu, anemia bisa meningkatkan risiko depresi pasca persalinan dan kematian ibu pasca persalinan.

Jenis-Jenis Anemia Pada Ibu Hamil

Ada beberapa jenis anemia pada ibu hamil yang mungkin bisa terjadi:

  1. Anemia defisiensi zat besi

    Anemia pada ibu hamil paling sering disebabkan oleh masalah kekurangan zat besi. 

    Pada dasarnya, zat besi diperlukan untuk membantu tubuh memproduksi sel darah merah segar yang kaya oksigen dan nutrisi. Aliran darah, oksigen, serta nutrisi sangat penting untuk mendukung proses tumbuh kembang janin dan memelihara kondisi plasenta tetap optimal.

    Artikel Sejenis

    Penyebab utama dari defisiensi zat besi baik pada ibu hamil adalah kurang makan makanan kaya zat besi, seperti protein hewani sejak dari sebelum dan semasa hamil. Tapi, mendapatkan asupan zat besi dari makanan saja wajar jika tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Ibu sepanjang kehamilan. Seperti yang dijelaskan di atas, ketika hamil volume darah akan bertambah hingga 50 persen untuk bisa mencukupi keperluan diri sendiri dan janin yang sedang tumbuh. Itu kenapa kebutuhan zat besi harian tubuh juga harus dipenuhi asupan nutrisi lainnya.

  2. Anemia defisiensi folat

    Jika sebelumnya zat besi, bisa juga anemia pada ibu hamil terjadi karena defisiensi folat yang terjadi ketika tubuh kekurangan asupan asam folat (vitamin B9) dari makanan. Anemia jenis ini juga bisa terjadi akibat malabsorbsi.

    Malabsorpsi artinya tubuh tidak dapat menyerap asam folat secara efektif sebagaimana mestinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh gangguan pencernaan, seperti penyakit celiac; penyakit autoimun ketika individu dengan komposisi genetik tertentu mengalami kerusakan pada usus halus jika mereka mengonsumsi gluten. 

    Asam folat adalah vitamin yang penting untuk menjaga kesehatan agar menghindari kondisi anemia pada ibu hamil. Fungsi asam folat adalah untuk membentuk protein baru di dalam tubuh yang menghasilkan sel darah merah dan membentuk DNA pada janin.

  3. Anemia defisiensi vitamin B12

    Selain zat besi dan asam folat, anemia pada ibu hamil juga bisa terjadi jika kekurangan vitamin B12.

    Vitamin B12 diperlukan tubuh untuk membantu produksi sel darah merah. Jika ibu hamil kurang mengonsumsi makanan tinggi vitamin B12, gejala anemia pada ibu hamil bisa muncul sebagai akibatnya.

    Ada beberapa hal yang bisa jadi penyebab defisiensi vitamin B12 ini. Gangguan pencernaan bisa mengganggu kerja tubuh menyerap vitamin B12 dengan baik. Selain itu, kebiasaan minum alkohol saat hamil juga dapat menyebabkan anemia pada ibu hamil jenis defisiensi vitamin B12.

Mengenali Gejala Anemia Pada Ibu Hamil

Sudah sewajarnya jika Ibu hamil memerlukan lebih banyak sel darah untuk mendukung perkembangan janin. Kalau sampai anemia pada ibu hamil terjadi, kondisi ini akan membuat kebutuhan ini tidak berjalan dengan baik, sehingga oksigen yang disalurkan pada jaringan tubuh lewat darah kepada janin jadi terbatas.

Ibu hamil dan orang-orang di sekitarnya juga perlu cermat, karena kadang-kadang gejala anemia pada ibu hamil terlihat sangat mirip dengan gejala kehamilan yang umumnya terjadi pada tiap ibu hamil. Apalagi jika anemia yang terjadi masih dalam tahap ringan, gejala yang muncul mungkin tidak terlihat sama sekali dan tidak peka dirasakan Ibu.

Jika anemia semakin parah, kemungkinan ibu hamil akan merasakan beberapa gejala seperti:

  • Cepat lelah, merasa lemah dan lesu terus menerus
  • Kulit, bibir dan kuku tampak pucat
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Sesak nafas
  • Nyeri dada dan sakit kepala
  • Tangan dan kaki dingin
  • Susah untuk konsentrasi

Nah, selain gejala anemia pada ibu hamil di atas, ada beberapa gejala yang jarang terjadi, di antaranya:

  • Merasa gatal-gatal
  • Perubahan pada indera perasa
  • Rambut rontok
  • Telinga berdenging
  • Sariawan di pinggir mulut

Untuk memastikan diagnosis anemia pada ibu hamil, maka perlu dilakukan tes darah. Ibu hamil disebut mengalami anemia apabila kadar hemoglobin (Hb)nya rendah. Pemeriksaan darah umumnya dilakukan pada pemeriksaan kehamilan yang pertama, kemudian dilakukan satu kali lagi selama kehamilan.

Cara Mengatasi dan Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

Ada banyak dampak yang berbahaya jika anemia pada ibu hamil dibiarkan terjadi. Mulai dari depresi postpartum atau depresi yang dialami oleh ibu setelah persalinan, risiko berlebih ketika pendarahan terjadi saat persalinan, bayi lahir dengan berat badan rendah, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan anemia atau bahkan kematian janin.

Untuk itu, Ibu bisa memaksimalkan cara-cara berikut untuk mengatasinya jika sudah anemia pada ibu hamil sudah terdeteksi. Tetap afirmasi positif serta berusaha semaksimal mungkin melakukan cara-cara berikut ini:

Menambah asupan makanan kaya zat besi

Kekurangan zat besi bisa ditangani melalui pola makan yang sehat dan teratur. Menambah asupan makanan mengandung zat besi merupakan salah satu cara menangani dan mencegah anemia pada ibu hamil. Konsumsi makanan dengan gizi seimbang, kemudian tambahkan minimal tiga porsi makanan kaya zat besi, termasuk salah satunya adalah buah naga merah. Contoh makanan yang banyak mengandung zat besi antara lain:

  • Ikan, daging merah, ayam
  • Sayur berwarna hijau gelap
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian
  • Kentang dan gandum
  • Telur dan tahu

Maksimalkan juga makanan yang tinggi asam folat:

  • Sayuran daun hijau; bayam, brokoli, seledri, buncis, lobak hijau, atau selada
  • Segala aneka jeruk
  • Alpukat, pepaya, pisang
  • Kacang-kacangan; kacang polong, kacang merah, kacang kedelai, kacang hijau
  • Biji bunga matahari (kuaci)
  • Gandum
  • Kuning telur

Mengonsumsi vitamin C lebih banyak

Vitamin C diperlukan tubuh untuk bisa menyerap zat besi dengan lebih baik dan maksimal sehingga anemia pada ibu hamil bisa dicegah atau diatasi. Asupan vitamin C bisa ditemukan dalam jeruk, stroberi, kiwi, dan tomat. Kombinasikan makanan yang mengandung tinggi zat besi dan tinggi vitamin C. Untuk asupan optimal Ibu bisa rutin konsumsi susu Frisian Flag PRIMAMUM yang mengandung tinggi zat besi, tinggi zinc, dan sumber serat pangan inulin untuk mendukung daya tahan tubuh Ibu dan si Kecil. Ada pula tambahan kandungan tinggi kalsium dan kaya vitamin C yang selain untuk fungsi di atas, sekaligus mendukung pertumbuhan sel tubuh si Kecil.

Frisian Flag PRIMAMUM termasuk susu dengan harga ekonomis dengan nutrisi lengkap yang dapat dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Tersedia dalam rasa cokelat yang lezat dan tidak membuat Ibu merasa enek atau mual.

Frisian Flag PRIMAMUM mengandung 180 kalori dan 9 gram protein dalam 1 gelasnya. Dengan mengonsumsi 2x sehari, Ibu sudah bisa mendapatkan 15% asupan energi dari Frisian Flag PRIMAMUM. Apalagi rasa cokelatnya lezat dan tidak bikin enek sehingga bisa membantu Ibu memenuhi kebutuhan gizi hariannya.

Jangan lupa, agar ibu bisa mengejar pencegahan anemia selama kehamilan dengan maksimal, Ibu bisa terus memantau perkiraan hari lahir si Kecil. Caranya mudah, Ibu bisa memanfaatkan fitur Kalkulator Kehamilan yang terdapat dalam Akademi Keluarga Prima. Yuk, langsung coba fiturnya di sini.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz