Share Like
Simpan

Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Jangan begini. Jangan begitu.” Kata-kata tersebut sangat sering kita lontarkan pada si Kecil untuk mencegahnya dari bahaya. Namun, tahukah Ibu bahwa mengatakan kata “tidak” terlalu sering dapat berdampak buruk pada si Kecil?

Beberapa ahli pola asuh anak setuju bahwa terlalu sering mengatakan “tidak” dapat memupuk mental pemberontakan pada anak. Selain itu, beberapa penelitian membuktikan, semakin dilarang, anak akan semakin berhasrat untuk melakukannya.

Mengapa demikian? Anak melakukan hal ngeyel seperti demikian karena mencari perhatian. Tentu gemas ya, Bu. Saya pun demikian dulu. Untungnya, atas saran teman saya yang kebetulan sedang mendalami psikologi anak, saya kemudian jadi tahu cara lain untuk melarang si Kecil tanpa mengatakan “tidak”. Berikut ulasannya.

1. Berikan Perintah dengan Bahasa yang Lebih Positif

Bahasa yang lebih positif dapat memicu si Kecil untuk lebih mendengarkan Ibu. Daripada mengatakan “Jangan pegang lampu itu!” alangkah lebih baik jika diganti dengan “Lampu itu bisa jatuh dan pecah, Nak. Dilihat saja ya?”.

Selain itu, di samping mengatakan “Jangan ditarik bulu kucingnya” lebih baik jika menggantinya dengan “Kalau bulunya ditarik kasihan kucingnya kesakitan” atau “Coba elus bulunya dengan lembut”. Lalu Ibu bisa berikan contoh mengelus kucing secara lembut.

2. Beritahu Hal Alternatif Lain yang Bisa Ia Lakukan

Mengalihkan si Kecil adalah hal terbaik yang dapat dilakukan selain melarangnya. Misalnya, ketika ia bersikeras ingin bermain di luar ketika hujan daripada mengatakan, “Kita tidak bisa bermain di luar karena hujan” cobalah untuk mengatakan, “Ibu tahu kamu ingin sekali bermain di luar, tapi sekarang sedang hujan deras. Bagaimana kalau kita baca buku cerita sambil menunggu hujan reda?”.

3. Gunakan Dua Kata Ajaib Ini

Tolong dan terima kasih adalah dua kata ajaib untuk melarang tanpa mengatakan “tidak” atau “jangan”. Cara kerjanya sama seperti peringatan halus yang sering terlihat di tempat umum, Bu. Misalnya, Ibu bisa mengatakan, “Terima kasih untuk merapikan mainanmu, Nak” daripada “Jangan membiarkan mainanmu berantakan”.

Ketika Ibu ingin melarangnya berteriak-teriak di dalam ruangan, sebaiknya katakan, “Tolong suaranya dipelankan, ya” daripada mengatakan “Tidak boleh berteriak, Nak”.

4. Jelaskan Alasan Perintah Ibu

Sebuah penjelasan akan membuat anak lebih mudah mengerti dan tidak penasaran pada hal yang dilarang. Ibu bisa mengganti “Tidak, jangan lakukan itu” dengan “Ibu mau kamu tidak melakukan itu karena ...”. Ketika si Kecil meminta sesuatu dengan berteriak, sebaiknya Ibu mengatakan “Ibu mau kamu berhenti berteriak karena telinga Ibu jadi sakit”.

Kalimat perintah yang bernada positif tentu akan lebih mudah diterima oleh si Kecil. Cara bicara Ibu yang lembut, memberikannya penjelasan, serta memberikan contoh akan membuat si Kecil mudah belajar untuk sadar diri dan mengontrol perilakunya.

Saran di atas cukup mudah kan, Bu? Melarang dengan mengatakan “tidak” hanya akan membuat si Kecil semakin penasaran dan membentuk mental pemberontakan. Intinya, kasih sayang dan kesabaran merupakan kunci utama dalam mendidik anak. Selamat mencoba!