Share Like
Simpan

Siang tadi, saya bertemu dengan seorang teman lama di minimarket. Seperti ibu-ibu lainnya yang sudah lama tak bertemu, kami tentunya saling bertukar kabar tentang perkembangan anak masing-masing. Teman saya ini, bercerita soal kebahagiaannya melihat perkembangan si Kecil yang berusia 3,5 tahun. “Sekarang si Kecil sudah berkembang pesat, lho!. Tadi pagi saja, dia sudah bisa memegang bola mainannya dengan erat.” Maklum, saat dulu terakhir bertemu, anaknya masih berusia 2 tahun, yang mana kemampuan motorik tangannya belum sempurna. Makanya ia gembira sekali waktu bercerita.

Pertemuan tersebut jadi mengingatkan saya akan sesuatu, Bu. Dulu, saat si Kecil berusia 3,5 tahun, saya sempat kesulitan menemukan cara untuk melatih kemampuan sensorik si Kecil. Terutama, melatih indera perabanya. Si Kecil memang sedang aktif sekali; semua benda yang ada di rumah ia jamah satu per satu. Tak ada benda yang luput dari sentuhan tangannya. Lalu, dari situs

Untungnya hasil browsing saya berbuah manis, Bu. Saya menemukan banyak sekali permainan yang bisa dilakukan. Supaya Ibu tidak mengalami kebingungan yang sama, saya akan tuliskan pengalaman saya di bawah ini, ya.

Siapkan peralatan berikut terlebih dahulu:

  • Tanah liat (Ibu juga bisa menggunakan plastisin atau disebut juga lilin mainan, yang berbahan aman bagi si Kecil).
  • Penggaris plastik untuk memotong.
  • Pensil dengan ujung yang tumpul.

Sudah siap, Bu? Sekarang, coba ikuti langkah di bawah ini, ya!

  1. Hal pertama yang saya lakukan ialah mengajarkan si Kecil memotong. Peragakan pada si Kecil cara memotong tanah liat menggunakan penggaris plastik, menjadi potongan kecil berukuran 3 x 3 cm. Saat si Kecil mulai mencoba, pastikan ia memotong dengan hati-hati ya, Bu.
  2. Langkah kedua, letakkan potongan tanah liat di atas meja atau bidang datar lainnya. Kemudian, gulung potongan tersebut menggunakan telapak tangan.
  3. Sudah mendapatkan bentuk tanah liat yang menggulung? Saatnya berkreasi! Waktu itu, saya mencoba membuat bentuk ular. Saya membuat lubang kecil di salah satu ujung gulungan tersebut menggunakan pensil. Ibu juga bisa berkreasi dengan membuat pola garis atau lingkaran di “ular” tersebut.
  4. Selain bentuk binatang, ada banyak sekali benda yang bisa dibuat dari tanah liat, contoh yang paling mudah adalah bola. Ajak si Kecil untuk membuat bola bersama dengan Ibu. Letakkan tanah liat di telapak tangan, lalu gerakkan telapak tangan lain di atasnya dengan gerakan memutar.
  5. Bola yang telah dibuat masih bisa dikreasikan lho, Bu. Saya tekan bola tersebut dengan telapak tangan, meratakannya hingga berbentuk seperti lingkaran. Lalu, buat pola mata, hidung, dan bibir di atas tanah liat menggunakan ujung pensil secara perlahan. Wah, si Kecil suka sekali dengan ide saya! Ia pun segera membuat bentuk yang sama dengan tanah liat miliknya.

Selain seru, kegiatan di atas punya banyak manfaat, lho. Saat si Kecil bereksplorasi –meremas, menekan, menusuk, dan sebagainya, sebenarnya ia sedang mengembangkan kemampuan motoriknya.  Menggulung misalnya, bermanfaat untuk menggerakkan otot tangan dan lengan si Kecil. Saat memotong, koordinasi tangan dan matanya terlatih. Gerakan menekan tanah liat yang ia lakukan berguna untuk memperkuat otot lengannya.

Di samping itu, kegiatan ini merupakan rangsangan yang baik untuk otak si Kecil. Saat bereksperimen dengan tanah liat, ia belajar untuk menyalurkan imajinasi. Kreativitasnya terasah ketika ia bereksplorasi membuat berbagai macam bentuk dari tanah liat. Tentunya, Ibu penasaran dengan karya si Kecil, bukan?

Agar si Kecil semakin semangat berkarya, ia harus berada dalam kondisi yang sehat. Pertahanan tubuh yang kuat merupakan hal penting untuk mempertahankan kondisi ini. American Society of Nutrition pernah menyebutkan bahwa salah satu nutrisi kunci yang baik untuk imunitas tubuh si Kecil ialah Inulin. Ibu tahu bakteri baik, kan? Nah, Insulin berperan penting dalam perkembangan bakteri baik di dalam tubuh. Keberadaan bakteri baik ini dibutuhkan tubuh si Kecil untuk melancarkan fungsi pencernaannya. Selain itu, Inulin juga mengoptimalkan penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Biasanya, saya suka memasukkan pisang dan gandum yang kaya akan Inulin pada menu makanan si Kecil. Bawang putih yang sering kita gunakan dalam masakan juga bisa jadi pilihan lho, Bu.

Lantas, apakah Inulin saja sudah cukup? Tentu tidak. Masih banyak nutrisi lain yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil. Apalagi, di usia ini si Kecil sedang rajin membuat karya pertamanya. Agar kreativitasnya dalam berkarya tidak terhambat, dibutuhkan kombinasi nutrisi yang lengkap untuk mendukung pertumbuhannya.

Sebagai pelengkap nutrisi, susu pertumbuhan bisa menjadi pilihan untuk si Kecil. Frisian Flag Karya Suprima merupakan susu pertumbuhan untuk usia 4-6 tahun yang tepat untuk si Kecil. Susu ini mengandung kombinasi tinggi Vitamin D, Selenium, Seng, Kalsium, Fosfor, Inulin, serta Vitamin A, C, & E. Kelengkapan vitamin dan mineral tersebut merupakan jawaban yang tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil. Saya sendiri percaya kalau Frisian Flag Karya Suprima bisa melengkapi nutrisi yang diasup si Kecil. Benar saja, ia jadi jarang sakit lho, Bu. Bahkan, isi Kecil selalu terlihat bersemangat di setiap prosesnya berkarya.

Ayo, dukung si Kecil untuk terus berkarya! Apabila si Kecil kreatif, Ibu juga pasti akan senang. Jadikan tips pengalaman ini sebagai inspirasi untuk Ibu dan si Kecil di rumah, ya. Semoga bermanfaat!