Share Like
Simpan

Bu, melihat si Kecil aktif di kegiatannya sehari-hari, tentu terasa sangat menyenangkan, ya. Apalagi, di masa tumbuh kembangnya ini, ada begitu banyak kemampuan yang bisa ia latih sambil asyik bermain.

Namun, bagaimana kalau saat bermain nanti, perhatiannya mudah teralihkan? Nah, itu yang sempat dialami anak tetangga saya dulu. Setelah berkonsultasi dengan dokter, ternyata si Kecil disebut memiliki gangguan konsentrasi. Wah, kenapa bisa begitu ya, Bu?

Dari info yang saya baca, gangguan konsentrasi pada anak dapat dikaitkan dengan ADHD atau Attention-Deficit Hyperactivity Disorder. Ini adalah sebuah kondisi di mana anak kesulitan untuk berkonsentrasi pada sebuah kegiatan, memusatkan perhatian, duduk diam, dan mengontrol keinginan. Anak dengan ADHD biasanya memiliki kesulitan untuk memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

Perilaku ADHD biasa mulai terlihat jelas ketika anak menginjak usia 3 hingga 6 tahun. Umumnya, gejala awal yang paling terlihat jelas adalah perilaku hiperaktif dan impulsifnya, seperti tidak tahan duduk diam, tidak bisa berhenti bicara, tidak suka menunggu, dan suka menginterupsi.

Anak yang kesulitan untuk memusatkan perhatian, impulsif, dan hiperaktif di dalam kelas seringkali dianggap kurang disiplin, berada dalam lingkungan keluarga yang bermasalah, atau bahkan dianggap terlalu banyak menonton televisi. Padahal, pemunculan sikap ADHD ini disebabkan oleh beberapa faktor yang anak itu sendiri tidak bisa mencegahnya.

Demi mencegah adanya kesalahpahaman tersebut, kali ini saya ingin membagikan beberapa fakta menarik seputar gangguan konsentrasi tersebut:

1. Bisa karena pestisida.

Pada tahun 2010, sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki urin dengan kandungan pestisida memiliki tingkat ADHD yang lebih tinggi. Penelitian lain yang serupa menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki kandungan pestisida lebih tinggi dalam urinnya lebih berpotensi untuk memiliki anak dengan ADHD.

Marcy Rosenzweig Leavitt seorang pakar ADHD menyarankan untuk membeli buah dan sayur organik atau paling tidak mencucinya dengan bersih sebelum dimakan.

2. Belum tentu disebabkan oleh gula.

Bu, pernah dengar tidak bahwa memberikan gula terlalu banyak pada si Kecil dapat membuatnya hiperaktif? Ternyata itu hanyalah mitos, Bu. Dr. Wolraich mengatakan sebagian besar penelitian belum menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih akan memiliki pengaruh pada perubahan perilaku anak.

3. ADHD bisa terjadi pada anak perempuan

Selama ini ADHD terlihat seperti “gangguan khas” anak laki-laki. Patricia Quinn, seorang ahli dari National Attention Deficit Disorder Association (ADDA) mengatakan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa baik anak laki-laki maupun perempuan keduanya sama-sama berpottensi mengalami ADHD.

Hanya saja, kasus ADHD pada anak perempuan memiliki wujud yang lebih variatif. Anak perempuan dengan ADHD dapat menjadi pemalu dan sering melamun, atau bisa menjadi cerewet dan hipersosial.

4. Dapat diatasi dengan menetapkan kegiatan rutin.

Salah satu terapi yang bisa Ibu gunakan jika si Kecil terkena gangguan konsentrasi adalah dengan membuat jadwal kegiatan yang rutin, Hal tersebut akan membuat si Kecil siap menghadapi aktivitas yang Ibu berikan dan tahu apa yang harus dilakukannya. Kegiatan rutin yang dilakukan berulang-ulang dapat merangsang otak si Kecil untuk bekerja secara terkendali dan mengurangi keinginan impulsif yang biasanya berubah-ubah.

5. Cegah dengan tidur berkualitas.

Dr. Harriet Hiscock, ahli kesehatan anak di Murdoch Children's Research di Australia mengatakan kalau ditemukan fakta bahwa tidur yang bermasalah ternyata sangat berkaitan dengan perilaku yang bermasalah pula. Selain dengan mengubah pola asuh orang tua terhadap anak dengan ADHD, tidur yang berkualitas juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi gangguan tersebut.

 

Bagaimana, Bu? Semoga informasi yang saya berikan ini bisa menambah wawasan Ibu hari ini, ya. Terima kasih sudah membaca dan semoga si Kecil bisa sehat selalu!