Whatsapp Share Like Simpan

Bayi baru lahir kadang kala mengeluarkan suara napas yang berisik, terlebih saat sedang tidur. Bayi terdengar seperti ngorok atau mendengkur, bahkan kadang memang ngorok. Bayi ngorok umumnya bukan merupakan kondisi yang masih wajar dan tidak perlu diwaspadai.

Bayi terdengar seperti ngorok karena lubang hidungnya yang sangat kecil. Jadi saat dalam kondisi berlendir atau kering akan menyebabkan nafas bayi terdengar berisik atau mendengkur. Seiring dengan bertambahnya usia bayi, pernapasannya pun akan jadi lebih tenang. Cari tahu yuk apa yang menjadi penyebab, risiko, dan cara mencegah bayi ngorok dari informasi berikut ini:

Faktor Penyebab Bayi Mendengkur

Berikut adalah beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi ngorok:

  • Laringomalasia. Bayi ngorok bisa disebabkan oleh laringomalasia, yaitu suatu kondisi jaringan kotak suara atau laring yang melunak. Struktur laring yang cacat dan mengelupas ini kemudian membuat jaringan berada di atas pembukaan jalan napas, sehingga menutupi sebagian saluran napas.

    Biasanya, laringomalasia dapat sembuh sendiri ketika bayi memasuki usia 18-20 bulan. Namun beberapa bayi dapat mengalami kondisi yang parah, sehingga mengganggu aktivitas makan dan pernapasannya. Langkah pengobatannya adalah dengan menjalani operasi rekonstruksi laringotrakeal karena terkadang tabung pernapasan bisa mengakibatkan infeksi. Operasi ini bertujuan untuk membuat jalan napas yang stabil dan permanen supaya bayi mampu bernapas sendiri tanpa bantuan selang pernapasan, membantu bayi dalam menelan, dan memperbaiki masalah pada suaranya.

  • Masalah kesehatan lainnya. Kondisi kesehatan tertentu juga bisa mengakibatkan bayi ngorok, seperti pembesaran amandel atau penyimpangan septum. Kondisi ini dialami oleh sekitar 20% bayi baru lahir pada beberapa hari pertamanya. Kebanyakan bayi tidak menunjukkan gejala dan dapat sembuh sendiri seiring berjalannya waktu.

 

Baca juga: Bayi Tidur Tengkurap, Boleh atau Tidak?

Upaya Mencegah Bayi Ngorok

Masalah bayi ngorok dapat dicegah dengan beberapa upaya berikut ini:

  • Menyesuaikan posisi tidur bayi. Bayi cenderung ngorok saat tidur dengan posisi tengkurap atau terlentang. Untuk menghindari bayi ngorok, maka Ibu dapat memposisikan bayi tidur menyamping. Posisi ini juga disarankan oleh American Academy of Pediatrics untuk mencegah terjadinya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Posisi kepala yang sedikit menunduk juga akan membantu memperlancar pernapasan dan membantu bayi tidur lebih pulas.
  • Membersihkan hidung bayi menggunakan nasal spray. Atas rekomendasi dokter, Ibu bisa menggunakan nasal spray atau semprotan hidung untuk membersihkan dan melegakan saluran hidung bayi. Saat diberi obat ini, bayi mungkin akan merasa kaget dan menangis, tapi ia akan bisa tidur lebih nyenyak karena pernapasannya lebih lancar.

    Nasal spray bisa dibeli dengan mudah di apotek, tapi Ibu juga bisa membuatnya sendiri. Caranya adalah dengan mencampur air matang dengan seperempat sendok teh garam. Teteskan beberapa kali ke hidung bayi yang tersumbat setiap hari.

  • Memakai nasal aspirator. Alat ini digunakan untuk menyedot keluar lendir berlebih yang menghalangi saluran pernapasan bayi. Saat hidung bayi disedot, ia mungkin akan merasa tidak nyaman dan menangis. Namun nasal aspirator dapat membantu menjernihkan napas bayi, sehingga Ibu boleh mempertimbangkan menggunakan alat ini dengan pengawasan dokter.
  • Menguapi hidung. Pilek atau alergi musiman yang membuat hidung tersumbat bisa menjadi penyebab bayi ngorok. Untuk mengatasinya, gunakan alat uap (humidifier atau vaporizer) untuk meringankan hidung bayi yang tersumbat. Pastikan Ibu memilih alat uap yang mempunyai pengaturan dingin supaya tidak mengakibatkan uap terbakar.
  • Menyingkirkan penyebab alergi. Jika bayi alergi terhadap sesuatu, maka segera singkirkan penyebab alergi tersebut. Biasanya, penyebab alergi pada bayi yang terbesar adalah debu. Jadi, Ibu harus rajin membersihkan ruangan agar terbebas dari debu dan peralatan yang rawan menjadi sarang debu, seperti boneka, karpet tebal, dan tumpukan barang.
  • Konsultasi dokter. Pemeriksaan dokter dianjurkan bagi bayi yang sering mendengkur. Dokter akan melakukan pemeriksaan berupa polysomnogram, uji endoskopi untuk mengecek saluran napas, tes MRI, tes fungsi paru, CT scan, kemampuan menelan, dan pemeriksaan suara.

Masalah Bayi Ngorok yang Serius

Ada beberapa kondisi di mana bayi ngorok akibat kondisi hidung atau saluran pernapasan yang abnormal, seperti pembengkakan kelenjar gondok atau amandel, tulang rawan tidak berkembang atau saluran udara atas terkulai, dan bernapas melalui laring atau trakea. Ketiga kondisi tersebut menyebabkan bayi bernapas mengi, yaitu suara napas yang menyerupai siulan atau terengah-engah yang keras.

Dampak Bayi Ngorok Berlebihan

Mengutip jurnal di U.S. National Library of Medicine yang ditulis Karen Bonuck, bayi yang mendengkur berlebihan dapat memicu gangguan perkembangan korteks prefrontal yang memicu masalah hiperaktif, emosional, dan perilaku. Tidur bayi juga menjadi kurang teratur, sehingga akan membuat otak kekurangan suplay oksigen. Akibatnya, kemampuan otak untuk berpikir pun jadi berkurang.

 

Selalu pantau kondisi pada bayi yang mendengkur. Jika terdapat tanda-tanda bayi ngorok yang tidak normal, maka segera kunjungi dokter untuk berkonsultasi dan mendapatkan penanganan yang tepat. Semoga informasi ini membantu Ibu.

Bagi Ibu yang masih punya pertanyaan seputar anak, jangan ragu untuk melakukan berkonsultasi pada laman Tanya Pakar. Namun pastikan Ibu sudah melakukan registrasi sebelumnya ya, Bu!


Sumber:

Orami