Whatsapp Share Like Simpan

Banyak anak yang menyukai makanan manis, apakah si Kecil salah satunya, Bu? Wah, biasanya sih kalau kita pergi ke supermarket, si Kecil pasti ingin beli makanan manis yang tampilannya menarik. 

Sebenarnya sah-sah saja ya, Bu, kalau si Kecil mengonsumsi makanan manis, asalkan jangan terlalu sering dan berlebihan. Lho, memangnya kenapa? Karena kalau berlebihan dan terlalu sering justru bisa berdampak terhadap kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil, Bu. 

Rasa manis itu umumnya didapat dari gula atau karbohidrat sederhana yang bisa ditemukan dalam makanan manis alami seperti buah-buahan, gula jawa, atau gula batu. Tetapi, rasa manis juga bisa diperoleh dari pemanis buatan seperti sakarin atau aspartam yang terdapat pada sirup, gulali, permen, dan banyak lagi.

Lantas, bagaimana dengan anggapan tentang makanan manis yang bisa jadi sumber penyakit? Nah, sebenarnya memang ada juga makanan manis yang sehat dan tidak sehat. Kalau makanan manis yang tidak sehat, biasanya akan meningkatkan risiko kerusakan gigi, obesitas, hingga diabetes.

Tapi Ibu tidak perlu khawatir ya, karena si Kecil juga membutuhkan makanan manis agar memiliki energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan, ada juga lho makanan manis yang menyehatkan si Kecil, tentunya dengan kadar gula yang tepat dan dikonsumsinya tidak berlebihan.

Artikel Sejenis

Supaya Ibu tidak keliru, kita simak dulu fakta dan mitos seputar makanan manis dari penjelasan berikut ini, yuk! 

Mitos seputar makanan manis

Ada beberapa mitos tentang makanan manis, yang umumnya berkaitan dengan kebiasaan buruk dan berakibat pada timbulnya penyakit. Benarkah demikian? Inilah beberapa mitos tentang makanan manis tersebut:

  1. Sebabkan anak-anak jadi hiperaktif

    Banyak Ibu berpikir bahwa makanan manis memiliki kandungan gula yang berlebih. Untuk anak-anak, hal ini bisa membuatnya menjadi hiperaktif dan banyak tingkah. Waduh… Apakah hal ini benar? 

    Faktanya, gula memang menciptakan energi, tapi tidak membuat anak jadi hiperaktif. Melansir laman resmi Healthline, survey menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua keliru mengenali reaksi yang timbul dari si Kecil. 

    Banyak yang berpikir bahwa hiperaktif terjadi karena mengonsumsi gula, padahal bukan lho, Bu. Seorang anak menjadi hiperaktif dengan berteriak bahagia, berlarian, atau bahkan melompat-lompat itu karena kebahagiaan yang dirasakannya, bukan hanya karena mengonsumsi makanan manis, ya! 

  2. Penyebab utama gigi berlubang

    Sebagian Ibu juga menghindari pemberian makanan manis kepada si Kecil karena takut giginya berlubang. Sebenarnya, gigi si Kecil yang berlubang disebabkan oleh asam yang diproduksi bakteri yang memakan gula. Namun, bakteri tersebut juga memakan banyak karbohidrat yang tertinggal di gigi dari makanan lain, seperti biji-bijian dan buah. 

    Oleh karenanya, Ibu tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada makanan manis ya, karena sebenarnya yang jadi penyebab utama gigi berlubang adalah plak. Selain itu, kalau pun si Kecil tidak mengonsumsi makanan manis tetapi ia tetap rutin menyikat gigi, sama saja kan, Bu? Giginya bisa jadi tidak terawat dan berlubang. 

    Maka, Ibu perlu menjaga kesehatan gigi si Kecil dengan baik dan sikat gigi sebelum tidur agar plak gigi berkurang dan bisa mengurangi risiko gigi berlubang.

  3. Si Kecil bisa jadi kecanduan makanan manis 

    Melansir laman resmi parents.com, sebuah studi menyebutkan bahwa orang yang menyukai gula belum tentu akan kecanduan. Ada beberapa macam tipe kecanduan yaitu obsesi konstan, kehilangan kontrol, penggunaan meningkat, dan ketidakpuasan saat tidak terpenuhi. 

    Studi itu menyatakan dari semua orang yang telah menjalani tes tentang gula dan kecanduan, hanya sedikit yang mengalami gejala kecanduan di atas. Jadi, makanan manis bisa menyebabkan kecanduan adalah mitos.

  4. Gula merah lebih sehat dari gula putih

    Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, gula merah mengandung sekitar 17 kilo kalori per sendok teh, dibandingkan dengan gula putih yang mengandung 16 kilo kalori per sendok teh. 

    Akibat kandungan molasenya, gula merah mengandung beberapa mineral tertentu seperti kalsium, kalium, zat besi, dan magnesium. Namun, kandungan tersebut ada dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga tidak ada manfaat kesehatan nyata.

Fakta tentang makanan manis

Ada sejumlah fakta mengenai makanan manis, di antaranya memiliki beberapa manfaat yang penting antara lain:

  1. Si Kecil jadi lebih berenergi

    Ibu pasti tahu bahwa karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Nah, supaya bisa digunakan, karbohidrat tersebut akan diubah menjadi glukosa yang nantinya akan mengalir melalui aliran darah ke sel-sel tubuh untuk diubah lagi menjadi energi. 

    Akan tetapi, tidak semua sel tubuh menggunakan glukosa sebagai energi. Misalnya, sel-sel pada otot dan hati akan menyimpan glukosa sebagai cadangan energi nih, Bu. Glukosa yang tersimpan itu nantinya akan digunakan kalau tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh atau saat tubuh si Kecil kekurangan energi. 

  2. Mood si Kecil lebih baik

    Melansir laman resmi parents.com, ternyata ada studi yang menunjukkan pengaruh makanan manis terhadap otak dan suasana hati si Kecil lho, Bu. Makanan manis dipercaya mampu membuat otak melepaskan hormon serotonin dan membantu menstabilkan suasana hati hingga mencegah depresi. 

    Makanan manis juga bisa mengaktifkan pusat kesenangan di otak, meningkatkan produksi hormon dopamin, sehingga dapat membuat seseorang merasa bahagia setelah mengonsumsinya. 

  3. Membantu meningkatkan kemampuan berpikir

    Glukosa merupakan bahan bakar otak, sehingga mengonsumsi makanan manis dapat meningkatkan daya ingat, proses berpikir, dan konsentrasi. Hanya saja simpanan glukosa dalam hati dan otot, tubuh akan menggunakan lemak dan protein untuk mendapatkan energi. 

    Namun, ketika lemak dan protein habis, tubuh akan menggunakan otot untuk mendapatkan tenaga. Hal inilah yang membuat si Kecil merasa lemas, mudah lelah, dan kehilangan konsentrasi.

Makanan manis memang tidak selamanya buruk bagi si Kecil, tetapi Ibu juga tetap harus lebih cermat memilih makanan manis yang tepat. Selain itu, pastikan juga jumlah atau porsi makanan manisnya sesuai dengan batas normal dan jangan sampai berlebihan ya, Bu! 

Di samping memberikan si Kecil makanan manis, Ibu juga perlu menyeimbangkan kebutuhan gizi harian si Kecil lho. Caranya dengan memberikan susu bubuk Frisian Flag PRIMAGRO 3+ secara rutin. 

Susu bubuk pertumbuhan Frisian Flag PRIMAGRO 3+ bisa jadi pilihan tepat karena mengandung omega 3 (ALA), omega 6 (LA), DHA 4x lebih tinggi, minyak ikan, kolin, sphingomyelin, asam sialat, dan tirosin tertinggi serta dikombinasikan dengan 9 Asam Amino Esensial (9AAE) yang lengkap untuk meningkatkan akal kreatif si Kecil. 

9AAE merupakan protein esensial yang berperan penting untuk menyerap nutrisi lain agar lebih optimal. Maka dari itu, 9AAE harus dikonsumsi secara rutin karena tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri lho, Bu. 

Apa yang terjadi jika si Kecil kekurangan 9AAE? Penelitian dari J.Nutr yang dipublikasi dalam National Center for Biotechnology Information menyebutkan kekurangan semua jenis 9AAE akan menurunkan potensi tinggi badan anak sebesar -50%. 

Ibu pasti tidak ingin hal tersebut dialami si Kecil, kan? Untuk itu, susu bubuk pertumbuhan Frisian Flag PRIMAGRO 3+ bisa jadi pilihan tepat karena mengandung 9AAE yang lengkap dan DHA 4x lebih tinggi. 

Selain itu, susu bubuk Frisian Flag PRIMAGRO 3+ juga diperkaya dengan 5 nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, seperti zat besi, vitamin D3, zinc, magnesium, dan vitamin C tertinggi, serta mengandung serat pangan inulin yang dapat mendukung kesehatan saluran pencernaan si Kecil. Dengan begitu, si Kecil jadi lebih kreatif, tangkas, dan berani. 

Seperti yang sudah disebutkan, makanan manis memang berpengaruh terhadap tumbuh kembang si Kecil. Ibu pasti ingin melihat tumbuh kembangnya dengan lebih optimal, kan? Maka dari itu, penting untuk selalu memantau grafik pertumbuhan si Kecil agar terhindar dari stunting, caranya dengan memanfaatkan fitur Rapor Tumbuh Kembang Prima yang terdapat dalam Akademi Keluarga Prima. Ibu akan mendapatkan banyak informasi penting mengenai grafik pertumbuhan dari WHO, grafik CDC, hingga anjuran dari psikolog. Pokoknya bermanfaat banget lho, Bu.

Ditinjau oleh: Yeni Novianti, S.Gz