Seorang ibu gemas melihat balitanya yang tak pernah bisa duduk anteng. Apalagi jika harus mendatangi tempat umum atau bersilahturahmi ke rumah teman dan kerabat. ‘’Capek saya. Bahkan malu kalau anak saya sampai jalan kesana kemari dan naik-naik tangga jika diajak bertamu. Anak saya ini kayaknya hiperaktif,’’ keluhnya. Ia pun mendatangi ruang konsultasi psikologi untuk menanyakan apakah ada yang tak sesuai dengan perkembangan anaknya.

Menurut Psikolog Perkembangan Anak, Alzena Masykouri, M.Psi, semua anak tumbuh dan berkembang dalam tingkatan yang bervariasi. Termasuk di dalamnya perkembangan kecerdasan gerak fisiknya atau kinestetik. Ada satu fase perkembangan motorik kasar yang berkembang dengan pesat, tapi ada fase lain perkembangan motorik halus menjadi perhatian utama.

Alzena menyebutkan, bodily kinesthetic intelligence atau cerdas kinestetik sebagai kemampuan manusia menghubungkan dan menggunakan pikiran selaras dengan gerakan tubuh, termasuk kemampuan tubuh untuk memanipulasi benda dan membuat aneka gerakan. ‘’Anak yang cerdas kinestetik itu mampu menggunakan dan menghubungkan antara pikiran dan tubuhnya secara bersamaan untuk mencapai tujuan tertentu,’’ katanya. Misalnya, anak yang terampil memanjat pohon, menerbangkan layangan, atau bermain lompat tali dengan berbagai variasi gerakan. ‘’Beda dengan anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas yang biasanya bergerak tidak terarah dan cenderung impulsif. Tidak ada gerakan yang terencana,’’ jelas Alzena. Tentu saja anak dengan hiperaktif ini sulit mencapai tujuan dari gerakan kompleks, seperti memanjat pohon atau bermain lompat tali.

Menurut Lwin, et.al dalam bukunya How to Multiply Your Child’s Intelligence, karakteristik anak yang cerdas secara kinestetik dapat teramati oleh Anda. Anak amat senang bergerak seperti berlari, berjalan, melompat, dan sebagainya di ruangan yang bebas. Meski terkadang jatuh, tapi keadaan ini masih normal bila anak berusia di bawah tiga tahun. “Jangan batasi geraknya, karena memang fisiknya
sedang berkembang. Namun Anda bisa menjaganya agar tidak terjatuh,” ujar Alzena.

Selain itu anak yang cerdas kinestetik pada usia balita juga mampu melempar benda secara terarah kira-kira sejauh satu meter, senang memanjat benda yang tinggi, bermain di air, dan naik turun tangga. ’’Anak mampu melompat dengan dua kaki seperti lompat kodok. Kemampuan ini memerlukan keseimbangan tubuh dan biasanya dikuasai anak usia 4-5 tahun,’’ imbuh Alzena. Ketika Anda memasang lagu, tubuhnya bergerak harmonis mengikuti irama musik. Senang aktivitas pura-pura (role playing) misalnya, pura-pura jadi kodok, bebek, menirukan orang menyetir mobil, atau memasak. Tidak menyukai duduk dalam waktu yang lama. Ciri lainnya, anak dapat melepaskan kaos, celana, dan kaos kaki sendiri. Juga bisa membangun jembatan dengan menggunakan balok-balok tanpa terjatuh. Aktivitas ini melibatkan keterampilan motorik halus, koordinasi visual motorik, dan keseimbangan.

Sedangkan, untuk anak usia 6-12 tahun kecerdasan kinestetiknya ditunjukkan dengan keseimbangan ketika berdiri di atas satu kaki selama beberapa detik, berjalan mundur sambil berjinjit, bergerak di dalam air setinggi pinggang, dan melakukan gerakan tari sederhana. ’’Jika anak memiliki kemampuan kinestetik ini berarti ia melebihi kemampuan rata-rata anak seusianya,’’ kata Alzena. Menurut dosen psikologi Universitas Paramadina Jakarta ini kecerdasan kinestetik termasuk kecerdasan jamak, artinya anak juga memiliki kemampuan lain yang berkaitan dengan kecerdasan gerak ini.

Konsentrasi dan gerak terarah


Kegiatan yang bisa diajarkan yang berkaitan dengan motorik halus, antara lain melukis, membuat keramik, dan membatik. Pada usia 2-4 tahun anak bisa diajarkan membuat Play-Doh dengan meremas dan membentuk sesukanya. Ketika memasuki usia 5 tahun, ajak anak membuat pola dan menggambar sesuai imajinasinya.

Jenis permainan anak tak hanya kegiatan fisik atau permainan di luar ruangan, tapi juga permainan di dalam ruangan yang memerlukan konsentrasi. Tugas orangtua adalah memfasilitasi gerakan anak. Bila anak sedang senang naik-naik perabotan rumah, buatlah permainan yang memberi kesempatan anak untuk memanjat-manjat. Misalnya, dengan berpura-pura berada di hutan dan menirukan semua gerakan binatang. Ajak anak menjadi kelinci, melompat-lompat keliling ruangan, menjadi ular dengan merayap seperti ular, atau menjadi monyet dengan bergelantungan di pinggiran kusen pintu. Kali lain, ketika hujan deras turun, ajak anak melakukan kegiatan dalam ruangan, misalnya membangun istana dengan balok kayu, main rumah-rumahan di kolong meja makan, atau main ular tangga. Fasilitasi anak dengan beragam alat seperti bola, hula-hop, dan matras jungkat jungkit. Kegiatan ini dapat mengalihkan perhatian anak dari layar tv, bermain play station atau video games. Jangan lupa luangkan waktu untuk bermain bersamanya.
 

Full kegiatan yang melibatkan fisik

Libatkan kecerdasan gerak dalam kegiatan belajar anak. Misalnya, jika anak ingin menghapal ibukota provinsi Indonesia, minta anak membuat urutan garis dengan menggunakan kapur atau spidol mulai dari ujung ke tengah dan seterusnya. Bisa juga ketika mengajarkan kosakata misalnya, gempa bumi, gambarkanlah dengan ilustrasi gerakan tubuh tanpa kata-kata. Atau ketika belajar matematika, gunakan jari-jari untuk berhitung dan menggunakan lengan atau kaki untuk mengukur area. Pada anak berusia 2-5 tahun, gambarkan bentuk geometri seperti segitiga, lingkaran atau persegi dengan merenggangkan tubuh
dan tangannya. Anak akan lebih mudah menerima dan mengingat konsep-konsep tersebut dibanding sekedar menghapalkannya.

Minta anak menggunakan tubuhnya untuk mengekspresikan emosinya, misalnya melompat saat ia merasa
gembira atau mengerutkan dahi ketika marah. Ketika anak sedang bermain, setel musik kegemarannya dan biarkan anak berpura-pura menjadi penyanyi atau mengekspresikan lagu. Ini dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatifnya. Berdansa atau menggerakkan tubuh selain membuat anak senang juga bisa mengusir rasa stress anak.

Untuk memperpanjang kemampuan memori kinestetik anak bisa terlihat melalui pola geraknya seperti berpantomim. Misalnya, minta anak memeragakan seekor gajah, bentuk angka 9, bentuk ombak di laut atau bunga yang sedang mekar. Minta anak untuk mengulangi kembali gerakan tersebut setelah jeda istirahat 10-15 menit. Ini dapat menantang batas motoriknya dan meningkatkan keluwesan gerak tubuh
dan posturnya. Aktivitas ini juga berperan untuk perkembangan kemampuan berpikir anak. Tunjukkan gambar hewan, objek benda atau bangunan, lalu minta anak membuat posisi dengan bahasa tubuh dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Amati posisi atau sikap tubuh anak ketika bergerak agar gerakan tidak membahayakan koordinasi tubuhnya.

 

Fitness anak

The National Association for Sports and Physical Education merekomendasikan anak usia sekolah melakukan aktivitas fisik sedikitnya satu jam sehari dengan variasi kegiatan yang berbeda-beda setiap 15-30 menit. Sebelum mengajak anak beraktivitas, sebaiknya kenali dulu tingkat perkembangan, umur, kemampuan, dan minat anak.

Pada usia 4 dan 6 tahun, anak mulai mengasah kemampuan dasar fisiknya seperti melompat, melempar, menendang, dan menangkap. Biasanya anak menyukai olahraga tim seperti sepak bola, softball, dan basket. Ada anak yang mampu berkompetisi, namun ada pula belum mampu terlibat dalam kejuaraan liga. Kenali karakter anak dan yang penting tetap beri dukungan dengan menjadi pelatih mentalnya atau penggembira ketika anak bermain.

Anak mulai menikmati, mengkoordinasi, dan mengembangkan kemampuannya ketika berusia 8-12 tahun. Saatnya bagi Anda untuk melihat dan mengkonfirmasi minat anak. Apakah anak mulai meninggalkan jadwal sepak bolanya di hari Minggu atau justru berminat mengikuti kejuaraan liga? Tanyakan dan diskusikan pada anak. Jangan paksa anak jika dia memang tidak tertarik olahraga. Coba tawarkan kegiatan lain, seperti melukis, menari, atau membuat prakarya yang juga bisa mengembangkan saraf motorik halusnya.

Buat permainan bola 1 lawan 1 atau 2 lawan 2. Aktivitas olahraga ini tak hanya melatih gerak tubuh anak tapi juga mengajarkan sportifitas, kerjasama tim, menargetkan tujuan, menghadapi tantangan, dan keakraban. Jika perlu, daftar kan anak ke klub olahraga seperti bela diri, berenang, hiking, dan sebagainya. Anak yang cerdas gerak biasanya mampu dan senang menendang bola secara terarah. Dengan mengembangkan kecerdasan kinestetik melalui aktivitas fisik, maka anak bermain dan menyenangi gaya hidup yang aktif salah satunya melalui kegiatan olahraga atau permainan.

Kegiatan di dalam rumah pun bisa Anda manfaatkan sebagai gerak kinestetik. Ajak anak terlibat dalam pekerjaan rumah mulai dari membersihkan tempat tidur sampai memasak. Melalui kegiatan memasak, seperti mengulen adonan kue dapat melatih kemampuan gerak anak, yaitu meremas, membentuk, dan memotong. Selain itu anak juga bisa belajar ilmu pengetahuan, misalnya air ketika dipanaskan akan mendidih dan membentuk uap.

Paling mudah mencari contoh dari cerdas gerak, dengan melihat keberhasilan para atlet. Misalnya Tiger Woods, Michael Jordan, adalah atlet top dunia yang tentu saja kita semua mengakui kemampuannya dalam mengendalikan pikiran dan gerakan tubuhnya. Namun, tidak hanya sekedar menjadi atlet olahraga, cerdas kinestetik juga memiliki manfaat antara lain:

Mengembangkan kemampuan psikomotorik.
Kemampuan psikomotorik adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan bagian tubuh dengan otak untuk
mampu berfungsi secara harmonis. Kemampuan ini berkorelasi erat dengan jenis pekerjaan orang dewasa, misalnya penerbang (butuh koordinasi visual motorik dan pikiran yang sangat optimal), atau seniman (untuk melukis, menari, membuat patung, ukiran, membatik, dan sebagainya). Kemampuan psikomotorik
ini sangat berkembang pesat di usia dini.

Mengembangkan keterampilan sosial. Anak yang mampu bermain dengan baik (berlari, melompat, melakukan aktivitas motorik halus), biasanya keterampilan sosialnya lebih baik. Dengan aktivitas fisik ini anak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan sebayanya. Dan karena kemampuan fisiknya yang baik anak mampu mengekspresikan diri melalui kegiatan fisik secara lebih baik. Sehingga mengembangkan pula keterampilan komunikasi interpersonalnya

Mengembangkan kepercayaan diri dan harga diri.
Anak sangat menikmati aktivitas yang mampu ia lakukan dengan baik. Misalnya, anak yang mampu bergerak harmonis dengan musik, maka ia pun akan senang menari dan hampir pada setiap kesempatan ia akan menari. Oleh karena itu mereka akan merasa lebih percaya diri bila dihadapkan pada situasi yang dapat menampilkan kemampuan fisiknya itu. Selain itu, juga membantu menjaga kesehatan dan berat badannya agar terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung.

Perhatikan keamanan dan kesehatan anak, segera hubungi dokter Anda jika anak mulai mengeluh sakit di bagian tertentu. Ada kemungkinan anak pernah terjatuh, terluka atau keseleo namun tidak segera memberitahu Anda. Jika kondisi anak tergolong kronis, jangan libatkan dulu dengan kegiatannya. Konsultasikan dengan dokter, beberapa aktivitas yang aman bagi si kecil dan bagaimana memberikan fasilitas keamanan terbaik bagi si kecil. Sehingga Anda tidak melulu melarang anak dan bersikap panik.