<p>Sumber: <a href="http://www.problemperilakuanak.blogspot.com/2010/02/mendidik-anak-menjadi-pribadi-yang.html">"Mendidik Anak Menjadi Pribadi yang Jujur"</a> oleh Henny Setiawati</p>
<p>http://www.problemperilakuanak.blogspot.com/2010/02/mendidik-anak-menjadi-pribadi-yang.html</p>
<p>Kejujuran adalah salah satu nilai moral yang pada umumnya ingin orangtua tanamkan pada diri anak. Jujur mengacu pada arti penuh kebenaran, dapat dipercaya dalam segala hal, bertindak dengan adil, dan tulus. Kejujuran tidak hanya membawa kebaikan untuk orang lain, melainkan juga untuk diri sendiri. Dengan menjadi jujur, kita merasa damai, tenteram, dan bahagia. Dalam usaha mendidik anak supaya menjadi pribadi yang jujur, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua. Berikut ini akan dibahas apa saja yang bisa dilakukan orangtua untuk membimbing anak menjadi pribadi yang jujur. Mengajarkan pentingnya kejujuran Katakan berulang kali kepada anak bahwa jujur membuat kita merasa damai dan tenteram, sebaliknya, bohong membuat kita merasa khawatir dan gelisah. Ajarkan bahwa bohong membuat diri kita menjadi orang yang tidak dipercaya. Semua orang ingin diperlakukan jujur, diberi tahu sesuai fakta, oleh karena itu, jika kita membohongi orang berarti kita tidak menghargai dan mencintai orang yang kita bohongi itu. Tidak mengajarkan tentang prinsip ‘bohong demi kebaikan’ Apabila orangtua mengatakan bahwa ada kebohongan yang ditujukan untuk kebaikan, anak akan menangkap bahwa bohong bukan sesuatu yang mutlak salah, dan ia akan berpikir bahwa bohong boleh-boleh saja dilakukan dalam situasi tertentu. Beri tahu anak bahwa tidak ada satupun orang yang lebih senang dibohongi, oleh karenanya, dalam keadaan apapun juga, bohong tetap salah. Lebih baik berkata, “Aku tidak ingin mengatakannya,” atau “Aku tidak ingin menjawab,” daripada mengatakan sebuah kebohongan. Memberikan model/contoh kejujuran Orangtua harus memberikan teladan bagaimana mempraktikkan kejujuran, sebab anak tidak akan menghormati pengajaran orangtua tentang kejujuran jika ia melihat bahwa orangtuanya sehari-hari bukanlah seorang pribadi yang jujur. Kadang orangtua tidak menyadari bahwa kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan membuat anak memandang bahwa orangtua tidak jujur. Misalnya saja ketika orangtua diam-diam menyelinap keluar rumah dan meninggalkan anak tanpa pemberitahuan, ketika orangtua tidak menepati janji untuk jalan-jalan di akhir pekan, atau ketika orangtua menyuruh anak memberitahu seorang tamu tak dikehendaki bahwa orangtua sedang pergi meski sebenarnya orangtua di rumah. Untuk menjadi model yang jujur, sebaiknya orangtua tidak berbohong kepada anak, tidak mengingkari janji dengan anak yang telah dibuat, mau mengakui kesalahan, dan juga tidak berbohong kepada orang lain. Menunjukkan penerimaan dan kasih sayang tanpa syarat Ketika tuntutan orangtua tidak berlebihan, dan anak merasa diterima, disayangi apa adanya, anak akan menjadi pribadi yang nyaman dengan dirinya sendiri, yang berpikir bahwa tidak perlu menjadi orang lain untuk menyenangkan orangtuanya. Penerimaan yang tulus dari orangtua juga membuat anak tidak terlalu takut saat menemui fakta bahwa dirinya gagal atau melakukan suatu kesalahan, sehingga pengakuan jujur bukanlah hal yang sulit dilakukan. Menunjukkan penerimaan terhadap anak tidak berarti bahwa orangtua setuju terhadap segala perilaku anak. Saat anak melakukan kesalahan, orangtua boleh-boleh saja menegur bahkan menghukum. Anak yang terbiasa diperlakukan dengan kasih sayang pasti bisa mengetahui bahwa amarah, teguran, atau hukuman dari orangtua itu tidak cukup menjadi bukti bahwa orangtua tidak lagi menyayangi dirinya. Memberikan penghargaan atas kejujuran anak Anak akan merasa senang jika orangtua memperhatikan usahanya untuk berlaku jujur. Tunjukkan penghargaan saat anak mengembalikan uang sisa beli gula, saat anak memanggil orang yang uangnya terjatuh di jalan, saat anak berusaha mengerjakan prakarya sendiri meski mengetahui teman-temannya dibantu oleh orangtua mereka, juga ketika anak tidak menyontek hingga nilai ulangannya jelek. Seringkali orangtua mengabaikan kejujuran anaknya yang memilih mendapat nilai jelek daripada menyontek. Begitu melihat nilai anak yang jelek, orangtua langsung marah. Ketika anak mengakui kesalahannya dengan jujur, sebelum marah atau menghukum anak, tunjukkan dulu bahwa Anda menghargai kejujurannya, misalnya dengan berkata, “Mama sedih dan kecewa kamu memecahkan boneka keramik kesayangan mama, tapi mama senang kamu berani mengakui kesalahanmu. Mama bangga punya anak jujur seperti kamu.” Tidak memberikan aturan berlebihan Saat orangtua terlalu membatasi anak, sebagian anak memilih untuk menipu orangtuanya demi mencuri kebebasan. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua hanya membuat larangan untuk hal-hal yang penting saja. Menghindari kebiasaan menyalahkan, dan memberi hukuman berlebihan Apabila orangtua terbiasa mengkritik, menyalahkan, atau memberi hukuman berlebihan, anak akan menjadi terlalu takut saat melakukan suatu kesalahan. Akibatnya, ia akan berusaha menutup-nutupi kesalahannya agar terhindar dari hukuman atau olok-olok orangtua. Ketika anak melakukan kesalahan, lebih baik orangtua mengajak anak bangkit dari kesalahan dan mencari solusi atas masalah yang dibuatnya. Menyadarkan anak akan kesalahannya memang perlu, namun tidak perlu dilakukan dengan cara terus-menerus menyalahkan anak. Saat anak bersalah, jelaskan tindakannya yang mana yang salah, mengapa tindakan itu salah, dan apa yang orang lain inginkan. Dalam mengarahkan perilaku anak, sebaiknya orangtua lebih banyak menggunakan metode pujian daripada hukuman, artinya orangtua berfokus pada usaha untuk memuji, memberikan perhatian saat anak menunjukkan perilaku yang baik, daripada berfokus untuk menegur saat anak berperilaku buruk. Di atas semuanya, orangtua perlu menunjukkan kepercayaan kepada anak. Dipercaya orangtua merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang anak, dan karenanya, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menjaga kepercayaan tersebut.</p>