Beda Muntah Dan Gumoh Dari Sisi Dampaknya Pada Si Kecil

Bunda, memahami beda muntah dan gumoh sangatlah penting. Karena selain penyebabnya berbeda, dampak pada kesehatan si kecil juga berbeda. Selain itu, penanganannya juga berbeda.

Oleh sebab itu, memahami apakah si kecil sedang muntah dan gumoh akan membantu orang tua menentukan penanganan apa yang tepat untuk dilakukan. Hal ini akan sangat berdampak pada tumbuh kembang si kecil.

Memahami Beda Muntah dan Gumoh pada Bayi
Saat atau setelah menyusu, terkadang bayi akan mengeluarkan kembali air susu yang diminumnya melalui mulut. Biasanya, orang tua cenderung akan kaget dan panik melihat hal tersebut dan mengiranya sebagai muntah. Padahal, bisa saja saat itu si Kecil hanya gumoh loh, bun. Lantas, apa bedanya muntah dengan gumoh? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

Penyebab Gumoh pada Bayi
Gumoh atau spitting up (gastroesophageal reflux) adalah keadaan saat bayi mengeluarkan sebagian susu yang telah ia minum dari mulutnya. Ini merupakan kondisi normal yang akan dialami oleh sebagian besar bayi yang baru berusia beberapa minggu sampai satu tahun.

Gumoh dapat terjadi karena beberapa hal berikut ini:

Terlalu Banyak Diberikan Susu

Lambung bayi masih terlalu kecil untuk menampung cairan susu yang diminum. Kemungkinan besar bunda memberikan si kecil susu dengan jumlah yang terlalu banyak.

Selain itu, klep lambung bayi belum sempurna dan belum dapat menutup dengan rapat. Jika volume susu yang diberikan terlalu besar maka susu dapat keluar lagi melalui mulut.

Menelan Banyak Udara saat Minum Susu

Jika bayi banyak menelan udara saat menyusu, hal ini akan memicu lambung untuk mengeluarkan cairan susu ketika bersendawa. Bayi juga akan menelan banyak udara saat minum susu terlalu cepat. Bisa juga terjadi ketika ia menangis sambil menyusu.

Oleh sebab itu, aturlah bagimana bayi mengkonsumsi susu. Jangan sampai si kecil minum terlalu cepat. Jangan juga memaksa si kecil meminum susu ketika si kecil masih menangis.

Setidaknya sekitar 25% persen bayi di Indonesia mengalami gumoh lebih dari 4 kali di bulan pertama kelahirannya. Sekitar 50% persen, bayi juga akan gumoh sebanyak 1 – 4 kali hingga menginjak usia 3 bulan. Kondisi ini bukanlah suatu pertanda adanya penyakit dan akan berhenti dengan sendirinya pada usia 1 tahun. Gumoh dapat dikatakan normal apabila:

Terjadi setelah menyusu
Berlangsung selama kurang dari 3 menit
Tidak disertai dengan gejala-gejala lain
Bayi dalam keadaan sehat
Bayi memiliki nafsu makan yang baik
Mengalami penambahan berat badan yang normal
Setelah gumoh bayi akan terlihat lebih nyaman dan aktif
Tidak mengalami gangguan pernapasan
Meski dapat berbeda-beda, namun umumnya volume susu yang dikeluarkan bayi saat gumoh berkisar 1 – 2 sendok makan atau sekitar 10 ml.
Penyebab Muntah pada Bayi
Muntah terjadi biasanya beberapa jam setelah makan atau minum susu.. Aksi ini terjadi atau dipicu oleh beberapa penyebab. Misalnya:

Iritasi dan infeksi pada saraf di perut dan usus
Ada zat kimia atau obat tertentu yang masuk ke tubuh
Mabuk kendaraan
Masalah kesehatan lainnya
Penyebab muntah yang paling umum pada si kecil adalah infeksi perut. Biasanya disebabkan oleh Rotavirus yang kemudian dapat menyebabkan diare. Oleh sebab itu, pemberian imunisasi roatvirus sangat penting untuk si kecil.

Adapun masalah kesehatan serius yang ditandai dengan gejala muntah pada si kecil adalah Hypertrophic pyloric stenosis atau penebalan otot di ujung perut. Biasanya dialami pada bayi yang muntah berkepanjangan di rentang usia 2 minggu dan 4 bulan. Untuk mengatasi persoalan ini, si kecil perlu melakukan operasi untuk membuka area yang menyempit akibat penebalan.

Ciri hypertrophic pyloric stenosis adalah muntah yang hebat dan berlangsung selama 15 sampai 30 menit setiap kali seesai makan. Harap segera hubungi dokter jika menemukan kondisi ini.

Perbedaan Dalam Mengatasi Gumoh dan Muntah
Beda muntah dan gumoh bukan hanya soal faktor penyebabnya. Penanganannya juga berbeda. Pastikan memberikan penanganan yang tepat untuk si kecil.

Berikut ini perbedaan penanganan pada bayi gumoh dengan penanganan pada bayi yang mengalami muntah-muntah:

Cara Mengatasi Gumoh Pada Bayi
Gumoh akan berhenti dengan sendirinya saat berusia diatas 1 tahun. Nah, sembari menunggu si Kecil berusia 1 tahun, ada sejumlah tips perawatan untuk bayi yang baru lahir yang dapat orang tua lakukan untuk mengurangi frekuensi gumoh pada bayi, seperti:

Berikan porsi susu yang lebih sedikit namun lebih sering
Buat bayi bersendawa setelah meminum susu
Hindari memberi makan makanan yang dapat memicu alergi
Ganti jenis dot atau botol, jika Si Kecil diberikan susu formula
Gendong bayi dalam posisi tengkurap dan menghadap kebelakang
Agar bayi bersendawa setelah meminum susu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Cara pertama adalah dengan meletakkan bayi pada posisi tengkurap sambil dipangku.

Posisikan bayi menghadap kebelakang
Sampirkan handuk kecil pada bahu sebagai alas menahan gumoh si Kecil. Lalu gendong bayi dengan posisi kepalanya berada di bahu . Posisikan tubuh bayi dalam keadaan tegak, lalu tepuk-tepuk lembut punggung bayi sampai ia bersendawa.

Gendong bayi menghadap ke depan
Caranya, topang tengkuk dan bokong si Kecil di depan tubuh Anda. Lalu beri handuk kecil di dada bayi untuk menahan gumoh. Usahakan agar kepala si Kecil berada lebih tinggi dari dadanya.

Berikan sela saat sesi menyusu untuk memberi bayi waktu bersendawa.

Cara Mengatasi Muntah Pada Bayi
Saat Si Kecil terus menerus mengalami muntah, hal penting yang harus dilakukan adalah memastikan bayi mendapatkan cairan yang cukup agar tetap terhidrasi dan tidak kekurangan energi. Apabila muntah terlihat tidak terlalu berbahaya dan masih terus terjadi dalam selama kurang dari 24 jam, beberapa langkah awal berikut ini dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah:

Berikan cairan elektrolit atau larutan oralit secara bertahap untuk mencegah bayi dehidrasi.
Jangan paksa bayi untuk minum apapun saat ia terus muntah setiap 5 – 10 menit
Berikan minum sebanyak 1-2 sendok teh saja per 10 menit sekali atau setiap kali ia muntah
Saat bayi sudah bisa menerima cairan elektrolit, bayi bisa diberikan ASI atau susu formula sedikit demi sedikit
Hindari memberikan jus buah sementara
Jika masalah muntah tidak kunjung berhenti, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Konsultasikan segera kesehatan si kecil. Jangan biarkan dia terus menerus memuntahkan makanan karena dapat berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

Kesimpulan
Beda muntoh dan gumoh dapat diketahui dengan melihat ciri-cirinya. Saat muntah, bayi akan terlihat lebih berusaha saat akan mengeluarkan susu. Muntah biasanya terjadi karena adanya kontraksi pada otot usus dan dinding perut yang berusaha mengeluarkan isi perut atau susu maupun kandungan lainnya yang terdapat di dalam lambung menuju mulut. Muntah ditandai dengan beberapa hal berikut :

Volume cairan yang keluar lebih dari 10 ml
Mulut bayi menyemburkan cairan dari dalam perut dan ditandai dengan terjadinya kontraksi pada otot dinding perut
Cairan terkadang juga keluar melalui hidung
Gumoh masih tergolong normal jika intensitas tidak sering
Muntah umumnya baru akan terjadi saat bayi menginjak usia 2 bulan. Kondisi ini juga bisa menjadi pertanda adanya masalah pada sistem pencernaan bayi atau adanya gangguan kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengetahui penanganan muntah yang tentunya sangat berbeda dengan gumoh. Waspadai tanda-tanda berikut ketika bayi muntah, yaitu :

Cairan muntah berwarna kehijauan
Bayi terus menerus rewel dan terlihat kesakitan
Demam hingga 39 derajat celcius
Perut kembung dan membengkak
Frekuensi muntah meningkat dan berlangsung lebih lama, serta tidak menunjukan tanda-tanda akan membaik
Ada bercak darah pada muntahannya

Dapatkan Layanan Kesehatan Untuk Si Kecil, berupa Imunisasi Anak, atau Panggil Dokter Anak ke Rumah dengan Menghubungi kami di Whatsapp 0811-1816-800 atau www.prosehat.com

sumber : https://www.prosehat.com/artikel/anaksehat/beda-muntah-dan-gumoh