Menurut pakar perkawinan sekaligus pendiri The Gottman Institute di Seattle, AS,John Gottman, adanya humor dan gelak tawa adalah salah satu resep agar perkawinan langgeng. Ketika pasangan tertawa bersama, mereka mengalirkan energi positif satu sama lain. Nah, bagaimana dengan Anda, apakah Anda dan suami masih sering tertawa bersama, ataukah tawa sudah jadi barang langka dalam perkawinan Anda?

TERTAWA LEPAS, STRES LENYAP
Humor, menurut psikolog Roslina Verauli, memang bisa membangkitkan mood seseorang. Ketika suasana hati sedang kacau, humor atau lelucon mampu mengubah rasa sedih, marah, dan benci menjadi perasaan relaks dan happy.

”Ketika Anda dan suami melibatkan humor dalam obrolan sehari-hari, masalah seberat apa pun bisa terasa ringan, karena humor mampu mengendurkan ketegangan. Jika komunikasi berjalan lancar, otomatis hubungan makin hangat,” papar Roslina.

Sayangnya, tidak sedikit perkawinan yang lama-kelamaan melupakan ’kekuatan’ humor. Terutama setelah beban mengurus buah hati dan kebutuhan rumah makin bertambah. Padahal, saat humor ‘terkubur’, beban tersebut justru terasa makin berat. Akibatnya, suasana jadi tegang di antara Anda berdua, konflik pun jadi mudah tersulut.

TERTAWA, DONG, SAYANG...
Cara mengasah kembali selera humor pun mudah saja. Sebab, humor atau tawa ibarat virus yang bisa menular cepat pada orang-orang di sekeliling Anda. Sebagai langkah awal, coba ingat-ingat, semasa pacaran dulu, hal apa saja yang membuat Anda dan pasangan bisa tertawa lepas? Apakah anekdot, teka-teki, pantun kocak, atau cerita lucu seputar kejadian yang Anda alami sehari-hari? Rasanya, bila diingat-ingat, semasa pacaran, hubungan Anda dan kekasih diwarnai tawa. Anda bisa saling melempar humor, cerita-cerita lucu, bahkan anekdot, tanpa ada beban.

Selain itu, cara mudah yang tak kalah jitu adalah menertawakan sesuatu yang Anda alami. Entah itu kejadian sehari-hari di kantor, saat macet di jalan, atau di rumah. ”Temukan humor di mana saja. Ketika ada sesuatu yang lucu dan bisa membuat Anda tertawa, nikmatilah dan hadiahkan humor tersebut kepada pasangan. Biarkan tawa mengalir. Keuntungan lain, Anda dan suami bisa saling membuka diri dan mengenal karakter masing-masing,” jelas Roslina.

Pada dasarnya, menurut Roslina, melontarkan humor itu harus bebas dan fun. Namun, tetap ada ’aturannya’ agar tidak melewati batas. Selain itu, hindari lelucon yang sensitif, misalnya tentang jabatan pekerjaan yang belum juga dipromosikan atau gaji yang kecil. Satu hal lagi, topik yang pantang untuk dijadikan lelucon untuk para pria adalah masalah kekuatannya di tempat tidur atau ukuran ’junior’ yang mini. Meski mereka merespons dengan tawa ketika Anda melemparkan lelucon tersebut, jauh dalam hati, para pria itu sebenarnya bisa sangat tersinggung.