1. Ibu pengidap diabetes dan ukuran janin yang besar.
Menyandang diabetes saat hamil biasanya akan berdampak kurang baik pada kesehatan ibu. Janin yang dilahirkan pun biasanya cukup besar, dapat mencapai 4-5 kg. Kondisi ini membuat janin sulit keluar melalui persalinan normal, sehingga harus lewat tindakan operasi.

2. Letak janin tak normal.
Normalnya, menjelang waktu kelahiran, posisi janin adalah kepala di bawah dan kaki di atas. Posisinya lurus di mana kepala akan keluar lebih dahulu. Tetapi banyak kasus menunjukkan tidak demikian, ada yang sungsang, terlilit tali pusat, persentase bokong dan kaki tidak sempurna, posisi wajah miring, dan lainnya.

Biasanya dokter dapat memantau keadaan ini lewat pemeriksaan USG. Jika diketahui letak janin tidak normal dan tak bisa dikoreksi, maka dokter akan mempersiapkan persalinan sesar.

3. Riwayat sesar.
Jika ibu pernah bersalin sesar, pertimbangan persalinan berikutnya adalah persalinan sesar. Apalagi jika jarak kehamilan berikutnya sangat dekat, kurang dari dua tahun. Pasalnya, operasi sesar dapat membuat dinding rahim menipis (kurang dari 1 cm). Meski demikian, tidak menutup kemungkinan dilakukan persalinan normal bila kondisi ibu aman. Dokter akan terus melakukan observasi, apakah persalinan normal boleh dilakukan atau tidak.

4. Kelainan letak plasenta.
Jika letak plasenta mengalami kelainan, misalnya menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir, biasanya persalinan harus dilakukan lewat operasi sesar. Jika dipaksakan lewat jalan normal, dikhawatirkan ibu akan mengalami pendarahan hebat. Dokter yang sudah melihat kondisi ini pun biasanya akan menjadwalkan operasi sesar.

5. Janin kembar lebih dari dua.
Bagi ibu yang mengandung anak kembar lebih dari dua, risikonya cukup besar jika harus melakukan persalinan normal. Jika ibu tak kuat mengeja, risikonya terjadi perobekan dinding jalan lahir yang cukup parah, sehingga bisa terjadi pendarahan hebat, dan lainnya.