Lemak, mungkin menjadi salah satu hal yang dijauhi orang karena jika mengonsumsi lemak, akan menjadi kegemukan. Tapi, tak selamanya lemak harus dijauhi.

Kalau tubuh kelebihan energi, maka enerji itu akan diubah menjadi lemak. Dengan kata lain, kalau asupan enerji yang terkandung dalam makanan melebihi kebutuhan, tubuh menimbunnya dalam bentuk lemak.

Tetapi benarkah lemak patut dijauhi? Tidak juga. Sebenarnya, lemak memiliki banyak fungsi.

Sebagai cadangan energi.
Menjaga kestabilan suhu tubuh normal.
Sebagai bantalan bagi organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan lainnya.
Membantu proses penyerapan vitamin A, D, E dan K dalam tubuh, jadi sebagai pelarut vitamin.
Sebagai bahan baku pembentukan hormon, misalnya hormon estrogen, progesteron.

Dengan fungsi-fungsi seperti itu, tubuh memerlukan lemak dalam sehari sekitar 25% dari total asupan enerji atau 1 sendok makan, yang bisa diperoleh dari banyak sumber. Daging, susu dan hasil olahannya adalah beberapa makanan sumber lemak, selain minyak yang biasa kita pakai menggoreng.

Jangan salah kaprah. Sayangnya, masih banyak di antara kita yang menganggap dan menilai lemak secara tidak tepat.

Makan lemak, berat badan langsung bertambah. Tidak selalu benar. Boleh saja makan lemak, asal jumlahnya tidak berlebihan dan diimbangi dengan aktivitas fisik. Kelebihan lemak akan habis terbakar saat olah tubuh, sehingga berat badan akan tetap stabil.
Kurangi makan, lemak tubuh hilang. Asal tahu saja, mengurangi makan bukan berarti menghilangkan sel-sel lemak. Sebab, sekali sel lemak terbentuk, ya akan terus ada. Hanya saja, pengaturan makan yang tepat (tetap dengan patokan gizi seimbang dan lengkap) dan disertai aktivitas fisik, membuat sel lemak tidak membesar. Pertambahan ukuran sel lemak (hipertrofi) akan selalu sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Air jeruk nipis, peluruh lemak. Wah, ini harus hati-hati. Lemak tubuh tidak bisa luruh oleh air jeruk nipis karena jalur metabolismenya berbeda. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi air jeruk nipis, bisa-bisa bukannya mengurangi lemak, tapi malah membuat dinding lambung terluka karena asam.
Kecilnya gemuk, besarnya akan kurus dengan sendirinya. Belum tentu. Bila di masa kanak-kanak tubuh sudah kelewat gemuk, dan tidak segera dibenahi pola makannya, maka jumlah dan besarnya sel lemak akan berkembang lebih dari normal. Kebiasaan makan, yaitu selalu dalam jumlah besar dan frekuensi sering, juga sudah terbentuk. Bisa jadi, sampai dewasa pun gemuknya berkelanjutan.
Berhenti olahraga, otot berubah jadi lemak. Sampai kapan pun, tak ada organ tubuh yang bertukar bentuk. Otot akan tetap jadi otot, lemak ya lemak. Hanya saja, umumnya wanita yang biasa olahraga, senam misalnya, akan memiliki otot tubuh yang kencang. Akibatnya, tubuh pun akan terlihat lebih "berbentuk", ramping atau sintal. Bagitu olahraga ditinggalkan, otot mulai melemah dan tampak goyor. Penampilan pun jadi terlihat lebih gemuk.
Lemak cuma tertimbun di tempat tertentu. Ada anggapan, masing-masing orang memiliki kecenderungan untuk menyimpan kelebihan lemak di bagian tertentu dari tubuhnya. Yakni, di sekitar muka seperti pipi atau dagu, di panggul, paha, dan sebagainya. Tapi sebenarnya tidak selalu demikian. Pada orang yang tubuhnya proporsional, di mana tinggi dan berat tubuhnya seimbang, lemak akan terdistribusi merata di seluruh tubuhnya
Setelah menikah, orang akan mudah gemuk. Sebenarnya bukan menikahnya yang membuat orang jadi gemuk, tetapi bertambahnya usia. Semakin tambah umur seseorang, maka metabolismenya menurun, tubuh cenderung semakin sedikit menggunakan enerji. Apabila asupan enerji dari makanannya banyak seperti sebelum menikah maka tubuh pun akan banyak menyimpan lemak.

Karenanya, lemak tak selamanya dijauhi karena tetap dibutuhkan metabolisma tubuh. Hanya saja, tak perlu berlebihan.