Tentu saja, gigi bisa keropos saat anak berusia 4.5 tahun. Gigi bisa keropos dalam waktu tidak terlalu lama setelah giginya muncul. Anak mengonsumsi berbagai jenis makanan dan minuman tanpa diikuti dengan menggosok gigi yang baik dan benar.

Sebenarnya, pada awalnya, Anda sudah melakukan banyak hal yang benar, seperti memberi ASI eksklusif dan memperkenalkan UHT saat ia berusia di atas 1 tahun. Yang pasti, banyak sekali anak overdiagnosed menderita alergi. Ya, mudah sekali anak divonis alergi. Batuk, sedikit ruam kulit, dan eksim? Ia pun dicap alergi.

Padahal, penelitian membuktikan, sedikit sekali anak yang benar-benar alergi makanan, termasuk susu. Nah, sekali anak dicap alergi, biasanya langsung dipantang berbagai jenis makanan dan minuman. Padahal, anak sedang dalam fase tumbuh kembang. Jangan sampai anak mengalami kekurangan asupan atas dasar kekhawatiran yang tidak jelas dasar ilmiahnya. Misalnya, alergi protein.

Protein, kan, banyak. Biasanya, protein yang paling sering menimbulkan alergi adalah seafood dan kacang-kacangan. Alergi protein susu sapi, misalnya, jarang diderita anak di atas usia 2 tahun karena biasanya ia sudah bisa mentolerir protein susu sapi. Jadi, Anda tidak perlu takut memberi susu UHT/pasteurisasi yang plain. Sebaiknya anak tidak diberi susu rasa buah karena manis dan rasa buahnya pun sifatnya kimiawi.

Bila perlu, Anda membuat jus buah asli dicampur susu. Susu dengan rasa artifisial bisa membuat anak kecanduan minuman manis, yang tentu saja akan memperparah gigi keroposnya). Apalagi kandungan nutrisi susu tersebut biasanya lebih rendah ketimbang susu UHT/pasteurisasi.

Banyak orang Indonesia yang meragukan kualitas susu UHT/pasteurisasi. Padahal, aslinya susu adalah benda cair. Ketika diproses menjadi serbuk (bubuk), banyak kandungan nutrisi yang hilang. Akibatnya, dilakukan penambahan berbagai zat sebagai pengganti yang hilang.

Susu memang mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Banyak sekali makanan yang mengandung semua nutrisi ini. Nah, sering kali orang tua khawatir anak kekurangan kalsium, apabila anak tidak mengonsumsi susu. Hal ini tidak benar karena kalsium bisa Anda peroleh dari ikan, keju, es krim, yogurt, tahu, brokoli, dll.

Sebaiknya, Anda mencurahkan lebih banyak perhatian terhadap menu makanannya ketimbang memberi susu rasa buah. Selain itu, pastikan Anda dan anak sama-sama menyadari pentingnya menjaga hygiene mulut sehabis minum dan makan. Cobalah Anda berkonsultasi dengan dokter gigi anak. Setelah keropos ditangani, sebaiknya anak kontrol teratur 6 bulan sekali ke dokter gigi.