Anggapan kuno kalau diare hanya terjadi karena anak makan makanan yang tidak bersih. Masih banyak penyebab anak terserang diare, meski salah satunya adalah makanan.

1.Infeksi virus. Virus yang bernama Rotavirus turut andil menyebabkan diare. Data WHO menyebutkan,
15-25% diare pada anak usia 6-24 bulan disebabkan virus ini.

2.Infeksi Bakteri. Bakteri-bakteri seperti Shigella, Vibrio cholera, Salmonella (non thypoid), Campylobacter
jejuni maupun Escherichia coli adalah ‘penjahat’ untuk kasus diare anak. Umumnya diare yang
disebabkan bakteri-bakteri ini diikuti dengan kejang, terdapat darah di tinjanya.

3.Parasit. Diare bisa juga disebabkan parasit mikroskopik yang hidup dalam usus. Gejala yang muncul
biasanya banyak memproduksi gas sehingga perut kembung, jumlah tinja sangat banyak dan berbau
busuk.

4.Antibiotik. Jika anak mengalami diare selama pemakaian antibiotik, bisa jadi hal ini berhubungan
dengan pengobatan yang sedang dijalaninya. Antibiotik berperan membunuh bakteri baik dalam usus.
Konsultasikan pada dokter mengenai hal ini. Jangan hentikan pengobatan sebelum dokter
memberikan persetujuan.

5.Makanan dan Minuman. Perut kaget karena diisi makanan atau minuman yang terlalu masam, manis,
pedas atau asin menjadi penyebab diare. Pada bayi, saat dikenalkan MPASI (Makanan Pendamping
ASI) seringkali memiliki efek samping diare, artinya perut kaget dengan makanan atau minuman yang
baru dikenal lambungnya.

6.Alergi Makanan. Alergi makanan seperti telur, kedelai, kacang dan ikan– bisa menyebabkan berbagai
reaksi, salah satunya diare. Namun, sifatnya singkat atau hanya terjadi beberapa jam sampai
makanan yang tadi dikonsumsi hilang atau dikeluarkan dari tubuh.

7.Intoleransi Makanan. Berbeda dengan alergi makanan, intoleransi makanan tidak dipengaruhi sistem
imun. Contoh intoleransi makanan adalah intoleransi laktosa; anak tidak cukup memproduksi laktose,
enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa. Diare menjadi salah satu gejalanya.