Kedisiplinan pemberian obat jangka panjang (OJP) kerap dilalaikan orang tua. Penyebabnya beragam, dari "bosan" karena harus memberikan obat tiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sampai iba karena menyaksikan si kecil tersiksa minum obat yang pahit. Masalah lainnya, apalagi kalau bukan lupa. Lalu yang tak kalah memprihatinkan, yaitu seringnya orang tua mengambil "kesimpulan sendiri" bahwa anaknya sudah sembuh dan pemberian OJP-nya tak perlu lagi.

Padahal, untuk kasus penyakit tertentu yang tergolong berat seperti TBC dan meningitis pemberian OJP tak boleh terputus. Memang setelah diobati selama 1-2 bulan kondisi anak sudah tampak bagus; sudah kembali ceria, makan dengan lahap, dan sudah bisa lari ke sana kemari. Inilah yang kerap membuat pengobatan dihentikan sehingga pada bulan-bulan berikutnya, penyakitnya kambuh bahkan makin kronis. Kalau sudah begitu, pengobatan jadi makin sulit. Makanya, kuncinya cuma disiplin.

Berikut penjelasan lengkap Dr. Nafrialdi, Ph.D dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI/RSCM.

ANTIBIOTIKA DAN SIMTOMATIS

SECARA medis tak ada batasan atau kategori apa yang disebut pengobatan jangka panjang. Namun secara umum didefinisikan sebagai pengobatan yang berlangsung selama 6 bulan, bertahun-tahun, atau seumur hidup. Jenis obatnya sendiri dibagi dua: obat antibiotika dan obat simtomatis.

* Antibiotika
Antibiotika sering disebut sebagai obat pembunuh kuman. Biasanya tak diberikan dalam jangka panjang. Rata-rata hanya 5-7 hari kecuali untuk kasus tertentu bisa dua minggu. Lama atau tidaknya pemberian tergantung pada kuman yang menyerang. Pada kasus penyakit berat, kuman yang menyerang umumnya tergolong "bandel" sehingga sulit dibasmi. Kalau kuman belum "terkalahkan", otomatis pengobatan terus dilakukan.

Antibiotika bisa saja gagal atau tidak maksimal dalam menyembuhkan. Penyebabnya kuman yang disasar sudah resisten terhadap jenis antibiotika tersebut. Kalau sudah begitu, akan ada pengujian lebih lanjut mengenai antibiotika mana yang masih bisa "mengalahkan" kuman-kuman bandel yang diidap. Pasien biasanya akan diberi resep baru, yang intinya meneruskan obat yang efektif, dan mengganti obat yang tidak efektif dengan obat baru.

* Simtomatis
Obat simtomatis adalah obat untuk mengendalikan gejala sakit. Jenis inilah yang biasanya diberikan dalam jangka panjang. Bahkan untuk penyakit tertentu, sebut saja diabetes atau hipertensi, obat jenis ini diberikan seumur hidup. Dalam sehari, pasien bisa minum 3-4 obat.

Obat jenis ini juga diberikan untuk pengobatan jangka pendek. Sebutlah obat penurun panas atau obat sakit kepala. Jadi hanya sekali minum untuk mengusir penyakit ringan.

YANG PATUT DIPERHATIKAN

ADA beberapa patokan dalam pemberian OJP kepada si kecil:

1. Tak mesti diulang dari awal
Ada anggapan bila (OJP) tak diminum sekali saja, maka harus diulang dari awal. Ini merupakan pendapat yang terlalu ekstrem. Hal itu sebenarnya lebih untuk memotivasi pasien supaya konsumsi obatnya tidak terputus. Kalau tidak "ditakut-takuti", pasien akan sulit patuh. Jadi kalau umpamanya, pasien sudah menjalani pengobatan selama tiga bulan, kemudian karena berbagai sebab, ia tak minum selama 2-3 hari, tentu tak perlu diulang dari nol kembali.

Namun, tetap saja ada kasus pengobatan jangka panjang yang harus diulang dari awal. Aturan pasti tentang hal itu memang belum ada. Sebagian dokter menganggap, obat yang sudah diminum selama 5 bulan lalu terputus hingga seminggu tetap akan efektif membunuh kuman. Ini berarti OJP dapat diteruskan sampai waktu yang telah ditentukan dan tak perlu diulang.

Lain lagi kalau pengobatan baru berjalan 2-3 bulan lalu berhenti selama dua minggu maka kondisi pasien harus dilihat lagi. Jika kesehatan ternyata sudah membaik, OJP tetap boleh dilanjutkan. Tapi kalau kondisi justru memburuk, dokter cenderung memilih mengulang pengobatan dari awal.

2. Waktu minum tidak mengikat
Tidak ada "aturan" kalau OJP tidak diminum di jam tertentu maka harus diulang dari awal. Justru untuk kasus penyakit tertentu, ada OJP yang hanya perlu diminum sekali sehari. Ini berarti pasien bisa minum kapan saja; baik pagi, siang atau malam. Ada juga obat yang bisa dibagi menjadi 2 kalau pasien merasa mual. Yang pasti, perhatikan aturan pemakaiannya. Apakah obat harus dikonsumsi sebelum atau setelah makan dan sebagainya.

3. Penyakit sama, obat belum tentu sama
Katakanlah begini, dua pasien yang mengidap penyakit sama belum tentu akan mendapat obat dari jenis yang sama. Kalaupun sama, dosis dan penggunaannya bisa berbeda. Intinya pemberian obat sangat individual tergantung kondisi masing-masing pasien. Bisa saja pasien sama-sama terserang penyakit sinusitis tapi yang satu mengalami gangguan fungsi ginjal sementara yang satu tidak, tentu obat yang diberikan akan berbeda.

4. Imunisasi tetap dijalankan
Bayi yang sedang menjalani pengobatan jangka panjang tak perlu menunda program imunisasinya sampai pengobatan selesai. Malah imunisasi harus jalan terus. Hanya saja, perhatikan kondisi tubuh si kecil; dalam keadaan fit atau tidak. Pasalnya, ada imunisasi yang bisa membuat tubuh demam sehingga kalau kondisi anak sedang tidak baik akan memperparah keadaan.

5. Perhatikan efek samping
Apa pun obat yang dikonsumsi tentu memiliki efek samping. Namun, tidak berarti semua pasien akan mengalaminya. Rata-rata efek samping OJP adalah gangguan fungsi lever atau ginjal. Untuk mengantisipasinya, fungsi lever dan ginjal pasien haruslah diperiksa secara periodik. Jika hasilnya baik, pengobatan bisa terus dilakukan.

Namun jika hasil menunjukkan sebaliknya, ada beberapa alternatif. Misalnya dosis obat akan diturunkan atau dihentikan sementara. Jika fungsi hati/ginjal membaik akan dicoba lagi pemberian OJP secara perlahan. Bila pasien mengalami gangguan serius maka OJP akan dihentikan selamanya dan diberikan obat lain.

6. Obat tak menyebabkan ketergantungan
Konsumsi OJP tidak akan menimbulkan efek ketagihan. Dengan tidak mengonsumsi obat, kondisi kesehatan pasien memang akan menurun, tetapi ini bukan kategori ketergantungan melainkan sebuah proses penyembuhan.

Kekhawatiran akan OJP yang dapat menimbulkan kerusakan sistem saraf juga mesti dipilah-pilah dulu. Tak semua obat dapat mengakibatkan kerusakan fungsi saraf. Obat-obatan yang bekerja di susunan saraf pusat memang dapat mengakibatkan hal itu. Namun hal ini tidak berlaku bagi obat­obat untuk TBC, meningitis, asma, atau sinusitis.

7. Jangan sembarang membeli obat
Obat bebas jelas dapat dibeli tanpa resep. Jadi boleh-boleh saja, jika si kecil demam, misalnya, diberi obat penurun panas yang ada di pasaran. Tentu selama demam itu tidak berlanjut hingga 3 hari. Namun, jangan sesekali memberi antibiotika tanpa sepengetahuan dokter.

Dokter saja tidak akan sembarangan memberikan obat kepada pasien. Setelah diagnosa penyakit ditegakkan bahwa anak mengalami TBC, contohnya, maka dokter akan mencari tahu riwayat kesehatannya; apakah alergi terhadap suatu obat, bagaimana kondisi sebelumnya, dan sebagainya. Tujuannya supaya obat yang diberikan tepat dan tidak menimbulkan efek negatif.

Nah, jika selama pengobatan ternyata pasien mengalami sakit lain, semisal batuk atau pilek, maka ia akan diberi obat lain dengan memperhatikan kemungkinan adanya interaksi antarobat. Begitu juga kalau penyakit susulan yang datang tergolong berat. Maka harus ada pemeriksaan medis untuk memastikan pengobatan yang harus dijalankan.