Hampir separuh dari semua anak di dunia ini punya teman khayalan, seiring dengan berkembangnya imajinasi dan ketertarikan mereka terhadap dunia sandiwara. Selain itu, teman bermain khayalan ini membuat anak punya tempat untuk mengeksplorasi dunia, termasuk hal-hal yang mungkin baru atau mengesalkan. Jika orang di dunia nyata si kecil bisa sakit atau sedih, begitu pun mungkin dengan si teman khayalan, begitu kata Marjorie Taylor, Ph.D., penulis Imaginary Companions and the Children Who Create Them. Karena anak menguasai apa yang dialami oleh si teman khayalan, bila ‘si teman’ berhasil melalui suatu insiden yang menakutkan bisa membuat mereka merasa tenang. Bila teman khayalan anak Anda pergi (banyak anak bilang kalau si teman sudah pindah atau malah meninggal), teman khayalan lain mungkin akan menggantikan untuk beberapa tahun mendatang. Kalau si kecil memperkenalkan Anda pada teman khayalannya, apa yang harus Anda lakukan?

Cobalah mengenal si teman. Anak-anak senang, kalau orang tua menaruh perhatian terhadap ciptaan mereka. Mintalah si kecil melukis temannya, atau bergabunglah dengan mereka di dalam permainan.
Biarkan anak Anda yang bertanggung jawab. Anak kecil tak punya banyak kesempatan untuk mengatur dunia di sekeliling mereka, jadi jangan coba-coba bicara pada si teman khayalan, atau bilang bahwa dia duduk di samping Anda sebelum anak Anda bilang begitu. Biarkan si kecil yang berinisiatif.
Usahakan agar anak Anda tetap bisa diatur. Pastikan dia mengerti kalau Anda tahu bahwa dialah, dan bukan temannya, yang main lumpur. Lalu, kalau dia tak mau makan kacang hijaunya karena si Jimmy, teman khayalannya tak suka, dengan tegas jelaskan pada mereka berdua, bahwa semua anak di rumah Anda harus mendapat cukup vitamin!