Menghadapi Gigi Copot Tanpa Takut (2)



Tanggal sendirinya
Sifat gigi susu berbeda dengan gigi tetap. Selain lebih rapuh, akarnya pun lebih kecil, dan lekas diserap gusi bila saatnya sudah tiba untuk tanggal. Bila dipelihara dengan baik, secara normal gigi susu akan tanggal sendiri dan tanpa keluhan.

Gigi susu menjadi bermasalah, bila sudah mulai berlubang dan lalu keropos. Melalui lubang gigi atau keroposnya gigi inilah kuman penyakit menembus memasuki akar gigi, lalu terjadi infeksi akar gigi. Gejalanya gusi membengkak dan nyeri. Lama-lama gigi membusuk, lalu mati. Kondisi gigi demikian yang mengharuskan gigi wajib dicabut, walaupun belum umurnya tanggal.

Selain dirongrong oleh nyeri gigi yang mengganggu, gigi yang telanjur berlubang dan keropos memerlukan perawatan gigi yang mengeluarkan ongkos yang sebetulnya tidak perlu. Mencabut gigi yang sudah tidak mungkin dipertahankan lagi akibat gigi sakit dan mati memerlukan proses pencabutan gigi (ekstraksi gigi) yang menimbulkan keluhan lebih nyeri. Itu lantaran akar giginya masih kokoh. Saat demikian anak bisa trauma dicabut giginya, jadi takut ke dokter gigi bahkan bukan untuk urusan mencabut gigi sekalipun.

Sejatinya gigi susu akan tanggal sendiri dengan mulus, tanpa perlu bantuan dokter gigi. Setelah tiba pada umurnya dan gigi sudah goyang sempurna, gigi akan dengan mudah dicabut. Letakkan kapas yang diberi es di gusi pangkal gigi yang goyang sejenak. Serentak dengan itu cekap gigi, lalu tarik. Maka dengan mudah gigi akan lepas dan darah amat sedikit, karena akar giginya sudah diserap oleh gusinya.

Mengkondisikan anak ke dokter gigi
Ada baiknya setiap anak dikondisikan untuk tidak takut ke dokter gigi setelah masa gigi susunya bertanggalan. Karena sesehat apapun gigi anak, suatu waktu anak tetap memerlukan kunjungan ke dokter gigi juga. Maka sejak dini anak memang perlu diperkenalkan dengan suasana dokter gigi. Di antaranya menanamkan bahwa dokter gigi bukan selalu harus memberikan rasa nyeri. Di samping itu perlu juga anak merasa yakin, dan diyakinkan, bahwa dokter gigi adalah penyelamat giginya. Selain mempercantik giginya kelak, gigi juga bisa kokoh sampai akhir hayat. Pendidikan mendekatkan anak kepada dokter gigi merupakan bagian dari mengkondisikan anak menjadi tidak takut ke dokter gigi.

Memberikan motivasi kepada anak untuk tertib dan teratur merawat gigi, dengan rajin menggosok gigi, berkumur sebagai upaya ekstra membersihkan gigi setiap habis mengonsumsi karbohidrat, akan lebih memudahkan anak mengurangi risiko harus mencabut giginya. Jika tidak, anak akan menghadapi trauma nyeri, yang bisa saja bikin kapok ke dokter gigi. Maka bimbing anak agar tidak sampai pada pengalaman tidak membuatnya tak nyaman seperti itu.

Kalaupun terpaksa harus menghadapinya, pilih dokter gigi yang child friendly. Sekarang teknologi kedokteran gigi dan model ruang dokter gigi, sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tidak membangun rasa takut anak. Tinggal bagaimana sikap orangtua membangun rasa keberanian anak, dengan tidak menakuti-nakuti anak. Juga perkenalan anak kepada dokter gigi.