Selain agar anak tidak terlambat masuk sekolah, bangun pagi juga memiliki banyak manfaat lainnya. Lewat bangun pagi, tekanan darah yang terjadi saat tidur bisa lekas mengalir normal karena gerak tubuh. Bahkan, secara medis, bangun pagi juga dapat mengurangi kecenderungan terserang panyakit kardiovaskular atau gangguan jantung dan pembuluh darah.
Karena lebih banyak kadar oksigen dalam darah, maka proses peredaran darah akan lebih mudah didistribusikan, sehingga menimbulkan sensasi kesegaran pada tubuh yang dapat menimbulkan mood baik dalam menjalani seluruh aktivitas setelahnya. Dalam bahasa lain, bangun pagi dapat membuat pikiran dan tubuh jauh lebih sehat. Pastinya, dengan bangun pagi anak akan mendapatkan udara lebih bersih dan baik, karena di saat itu mulai terjadi pelepasan oksigen dari tumbuhan ke manusia.
Dalam tinjauan aspek moral psikologis pun, aktivitas bangun pagi dapat meningkatkan produktivitas, bahkan disiplin pribadi. Dengan bangun pagi, anak akan memiliki kesempatan lebih banyak guna mengalokasikan waktu yang dimiliki untuk aktivitas belajar, menjalankan rutinitas dengan tidak terburu-buru, dan manfaat lainnya.
Tidur dan bangun merupakan suatu siklus yang terjadi setiap hari, disebut circadian rhythm. Manusia, termasuk anak, akan tidur selama beberapa jam, paling tidak sekali dalam 24 jam. Siklus ini umumnya membentuk sebuah ritme biologis. Apabila anak telah dibiasakan tidur mulai pukul 21.00 dan bangun pukul 05.00, maka tubuh mereka akan terbiasa untuk mengantuk pada waktu yang mendekati pukul 21.00, lalu akan terjaga pada waktu yang mendekati pukul 05.00. Sekarang tinggal bagaimana kita menyetel tidur dan bangun anak agar dia tidur cukup dan bisa bangun pagi, sehingga dia bisa bangun dengan muka segar karena telah cukup tidur, mempersiapkan diri, dan berangkat ke sekolah dengan semangat menyala.

Jika Anak Kurang Tidur

Kurangnya waktu tidur bagi anak-anak bisa berdampak buruk pada perkembangan fisik dan kognitif. Penjelasannya, organ tubuh anak memproduksi dan melepaskan jenis hormon tertentu ketika tidur di malam hari. Proses ini dipastikan terganggu bila anak-anak tidak cukup tidur atau tidurnya terganggu. Dampaknya, daya tahan tubuh anak akan menurun, terjadi iregulasi sistem endokrin. Alhasil tubuh tidak dapat mengetahui dengan jelas kebutuhan organ sesungguhnya, sehingga melepaskan insulin dalam jumlah besar ke dalam darah, menyebabkan bertambahnya volume sel-sel lemak dan membengkak. Semuanya itu bisa menjadi awal pencetus kegemukan.
Anak yang kurang tidur biasanya mengalami gangguan kognitif seperti lambat bereaksi, kurang waspada, kurang perhatian, dan sulit konsentrasi. Tentu hal ini akan mengganggu proses belajar. Penelitian di Beijing, China, mengungkap, 23,5% anak usia 2—6 tahun di sana mengalami gangguan tidur. Sekitar 20% anak usia 3 tahun di Swiss terbangun setiap malam. Sedangkan di Amerika Serikat, sebanyak 84% anak usia 1—3 tahun menderita gangguan tidur menetap. Kebanyakan anak tersebut sulit tidur pada malam hari dan sering terbangun ketika tidur malam hari. Jadi, tidur tidak bisa disepelekan, tidur merupakan perilaku yang dapat dibentuk melalui rutinitas dan kebiasaan tidur yang baik. Idealnya, tidur nyenyak mulai dibiasakan orangtua sejak anak-anak mereka berusia 3—6 bulan.