PERNAHKAH moms mendengar petugas informasi suatu mal memberitahukan melalui pengeras suara ada anak yang terpisah dari orangtuanya dan menunggu di bagian informasi? Kalau iya, coba bayangkan betapa panik sang ibu dan ketakutan yang dirasakan si anak.

Nah, agar hal tersebut tidak terjadi pada moms, yuk simak penjelasan Clara Moningka, S.Psi.,M.Si., dari Lembaga Pelayanan Psikologi UKRIDA mengenai apa saja yang harus diajarkan kepada si kecil:

Agar Tak Tersesat

Pada usia preschooler, tidak semua anak dapat menangkap informasi dengan baik, tidak mudah juga membedakan orang yang baik dan yang tidak. Oleh karena itu, peran orangtua untuk menjaga atau mengawasi anaknya dengan baiklah yang paling penting.

Misal, bila pergi ke tempat yang sangat ramai, anak dipegang tangannya atau digendong. Bahkan, saat ini ada alat yang dapat menghubungkan ibu atau ayah dengan si kecil dan dikenakan di pergelangan tangan (Kid Keeper Safety Harness).

Tak Takut Walau Tersesat

Orangtua pasti akan khawatir jika anaknya hilang atau terlepas di tempat keramaian. Agar tidak panik saat terpisah di keramaian, ada baiknya perhatikan tip berikut:

1. Sejak anak sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya, ajarkan dia untuk menghapal nama lengkapnya, nama orangtua, alamat di mana dia tinggal bahkan jika perlu menghapal nomor telepon rumah atau seluler moms atau dads.

Mungkin hal itu terkesan berlebihan atau dirasa belum perlu mengingat si kecil masih balita. Tapi jangan salah moms, informasi singkat tersebut akan sangat bermanfaat bagi anak jika suatu saat dia tersesat atau terpisah dari orangtuanya.

2. Hati-hati dengan orang yang akan menolongnya. Jika dia terpisah dengan moms di mal, ajarkan kepada anak agar tidak sembarang berbicara dengan orang yang tak dikenalnya.

3. Jika pergi ke mal, tak ada salahnya untuk mengunjungi bagian informasi. Ini akan berguna jika tiba-tiba si kecil terpisah atau terlepas dari tangan moms. Dengan begitu dia akan tahu di lantai berapa tempat yang harus dia datangi untuk memberitahu bahwa dirinya sudah tersesat.

Atau, jika si kecil sudah dibekali kertas kecil sebagai data dirinya –diselipkan di dalam tas, saku baju/celana-, dia bisa diajari untuk mencari orang-orang yang dapat menolongnya, seperti polisi, satpam, pegawai toko atau petugas lain yang berjaga di mal atau pasar. Bahkan tak ada salahnya jika moms mengajari si kecil bagaimana cara mencari telepon umum. Pasalnya, di Amerika dan Jepang, anak sudah dibiasakan dengan hal tersebut. Sehingga saat "terpaksa" berpisah dari orangtua mereka dapat pulang ke rumah, atau mencari cara untuk menemukan orangtua mereka.

4. Jika si kecil sudah dibekali dengan telepon seluler, jangan lupa simpan nomor telepon moms atau dads di dalamnya, sehingga anak dapat dengan mudah menghubungi Anda. Tapi ingat, pemakaian ponsel ini harus di bawah pengawasan orangtua.

5. Usahakan selalu membawa foto anak yang terbaru dan di belakangnya tuliskan tinggi, berat badan, warna rambut, dan matanya. Cantumkan juga tanda-tanda khusus yang dimiliki oleh anak Anda, misalnya tahi lalat di pipi kiri atau memakai kacamata.

6. Yang tak kalah penting, ingatkan anak untuk tidak berada jauh dari Anda. Berikan pujian bila mereka mengikuti perkataan Moms. Hal ini dapat dilatih setiap akan mengajaknya bepergian ke tempat umum lainnya. Dukungan yang positif merupakan alat mengajar yang terbaik.

Dampak Jika Anak Tersesat

Pengalaman hilang atau tersesat di keramaian bisa membuat anak trauma. Apalagi kalau dirinya sampai diculik, bisa jadi dia menjadi takut dengan orang asing, meskipun pada kenyataannya tidak semua orang asing itu jahat.

Dampak yang lebih besar akan dirasakan orangtua dimana akan menjadi over protektif terhadap anak. Oleh karena itu harus membekali anak dengan pembelajaran dini –jangan sekadar teori-, sertakan dengan aplikasinya. Pun orangtua juga harus menjaga anaknya dengan baik.