Selama nifas, ibu akan mengeluarkan cairan yang berasal dari rahim, cairan ini disebut “lokia”. Pada hari pertama dan kedua ibu akan mengeluarkan lokia rubra atau lokia kruenta, berupa darah segar bercampur sisa selaput ketuban dan lain-lain. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolenta, berupa darah bercampur lendir. Setelah satu pekan, keluar lokia serosa yang berwarna kuning dan tidak mengandung darah. Setelah dua pekan, keluar lokia alba yang hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis. Bila berbau busuk, mungkin terjadi lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) dan infeksi.

Salah satu kelainan yang dapat ditemukan setelah melahirkan (selama nifas) adalah “infeksi nifas” atau dalam istilah medis disebut juga “infeksi puerperalis”. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada saluran genital (kemaluan) yang terjadi setelah melahirkan yang ditandai dengan kenaikan suhu tubuh sampai 38°C atau lebih selama dua hari, terjadi dalam sepuluh hari setelah melahirkan tapi dengan mengecualikan 24 jam pertama.

Setelah melahirkan, organ reproduksi ibu berangsur-angsur akan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Suhu badan setelah melahirkan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal (36-37°C) tapi tidak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C, harus dipikirkan kemungkinan terjadinya infeksi nifas.

Tanda-tanda infeksi nifas sangat bervariasi tergantung bagian yang terinfeksi dan keparahannya. Jika ditemui tanda-tanda berikut ini, segeralah membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan untuk mendapat penanganan yang sesuai:

* Demam tinggi (38°C atau lebih), kadang disertai menggigil.
* Rasa panas dan nyeri pada tempat infeksi
* Kadang-kadang terasa perih saat buang air kecil.
* Ibu terlihat sakit dan sangat lemah

Tidak setiap ibu yang melahirkan mengalami infeksi nifas. Kondisi tiap ibu yang melahirkan memang bisa berbeda, ada yang baik-baik saja tanpa masalah, namun ada pula yang mengalami berbagai masalah terkait dengan kondisi kesehatannya. Beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi nifas, antara lain:

* Setiap keadaan yang menurunkan daya tahan tubuh ibu, seperti perdarahan, kelelahan, gizi buruk, preeklamsi, eklamsi, infeksi lain yang diderita ibu, penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, dan lain-lain.
* Ibu dengan proses persalinan lama, persalinan yang tidak terduga (mendadak) sehingga kurang tertangani dengan baik
* Kemungkinan infeksi panggul setelah melahirkan yang serius, berhubungan dengan lamanya ketuban pecah sebelum melahirkan.
* Luas serta banyaknya luka guntingan atau robekan ketika proses persalinan
* Ibu yang menjalani tindakan operasi, baik lewat jalan lahir maupun perut.
* Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau bekuan darah dalam rahim.

Setelah mengetahui bahaya infeksi nifas yang mungkin saja terjadi, alangkah lebih baik jika kita menempuh cara-cara untuk mencegahnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi nifas, antara lain :

* Sebaiknya ibu memperhatikan kondisi kesehatannya selama hamil, segera periksa ke bidan atau dokter jika ada keluhan.
* Minum suplemen zat besi secara teratur untuk mencegah terjadinya anemia.
* Konsumsi makanan yang bersih, sehat, cukup kalori, protein, dan serat (sayur, buah).
* Minum air dalam jumlah yang cukup.
* Ibu hendaknya memilih tenaga penolong persalinan yang terlatih, supaya proses persalinan terjamin kesterilannya.
* Harus menjaga kebersihan dan memberi perawatan khusus jika terjadi perlukaan seperti di tempat jahitan pada jalan lahir maupun perut (operasi cesar)