Siapa yang harus menggunakan alat kontrasepsi, suami atau istri? Pertanyaan ini tidak bisa selesai dengan jawaban sederhana karena masalahnya memang kompleks. Konsekuensinya terkait dengan banyak hal, dari kesehatan organ reproduksi, budaya setempat, hingga kondisi psikologis. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan alat bantu ini. Namun penggunaan kontrasepsi pada hakikatnya tidak hanya membatasi jumlah anak, karena juga mempertaruhkan kualitas kehidupan keluarga pemakainya. Lihat saja, pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi, baik oleh pasangan maupun negara seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, selain membebani secara psikologis, juga mengundang masalah lainnya.

Pemahaman sepotong-sepotong tentang kontrasepsi adakalanya memancing perdebatan. Bila kedua belah pihak merasa tidak punya "bahan" yang lengkap tentang pilihan alat kontrasepsi berikut risikonya, sebaiknya libatkan pihak ketiga yang kompeten. Dalam hal ini dokter kandungan atau bidan.

Buang jauh-jauh keinginan memaksa salah satu pihak. Sebaliknya pilih alternatif yang paling aman dari sudut medis dan paling nyaman untuk keduanya. Apalagi dengan kemajuan dunia kedokteran, penggantian jenis alat kontrasepsi sangat dimungkinkan bila dirasa ada masalah dengan pilihan sebelumnya.

RAGAM PILIHAN DAN DAMPAK PSIKOLOGISNYA
* IUD
Jenis kontrasepsi ini diklaim paling aman. Meski demikian kondisi ini tidak berlaku umum bagi tiap ibu. Ada beberapa risiko seperti perdarahan, rasa nyeri di perut dan sebagainya. Namun selama dokter/bidan memastikan tidak ada yang salah dengan pemasangan alat ini, maka efek yang muncul bisa jadi adalah efek psikologis.

Masalah psikologis: Biasanya keluhan yang muncul adalah rasa sakit, rasa tidak nyaman, suami merasa ada yang mngganjal/"menusuk" saat berhubungan intim dan sebagainya. Pada saat pemasangan pun sebagian wanita merasa "seram" karena adanya benda asing yang dimasukkan ke tubuhnya.

Cara mengatasi: Ada contoh nyata, seorang wanita merasa selalu sakit perut akibat pemasangan IUD. Setelah konsultasi dengan dokter, dia ingin alat tersebut dilepas. Oleh dokter alat tersebut sebenarnya tidak benar-benar dilepas, namun sekadar "dirapikan". Keluhannya langsung hilang, begitu dia merasa sudah "dilepas". Padahal tentu saja IUD-nya masih berada di tempat semula. Intinya, keluhan yang muncul adalah masalah psikologis. Sebaiknya pasangan yang memilih kontrasepsi jenis ini sudah mempersiapkan mental. Rasa sakit dan tidak nyaman selama sudah dipastikan dokter tidak ada masalah, bisa diabaikan.

* Hormonal
Kontrasepsi jenis hormonal bisa berupa pil atau suntikan.
Masalah psikologis: Efek hormonal yang bisanya muncul adalah kenaikan berat badan, flek cokelat kehitaman di wajah. Bahkan akibat perubahan hormon ada beberapa wanita yang mengalami depresi.

Cara mengatasi: Bila secara medis kontrasepsi jenis ini dirasa tidak cocok, maka dokter akan menyarankan untuk menggantinya dengan kontrasepsi jenis lain. Efek psikologis yang muncul bisa direduksi dengan banyaknya aktivitas. Sebagai contoh, wanita bekerja yang sibuk tidak akan terpengaruh dengan perubahan hormonal yang dialaminya.

* Kondom
Bila kedua jenis kontrasepsi di atas menimbulkan masalah secara medis pada wanita, maka kondom bisa menjadi solusi paling praktis dan masuk akal. Apalagi pemakaian kondom dibatasi hanya pada saat masa subur saja. Itu berarti frekuensi penggunaannya sekitar seminggu setiap bulannya.

Masalah psikologis: Rasa tidak nyaman dan mengganggu kenikmatan hubungan seksual.

Cara mengatasi: Berkurangnya kenikmatan seksual akibat pemakain kondom hampir bisa dipastikan adalah masalah psikologis. Apalagi kondom yang beredar di pasaran saat ini sudah lebih modern, baik dari bentuk, ketebalan, dan tingkat keamanannya. Bila satu merek dirasa kurang oke, coba dulu dengan berganti merek lain. Buang jauh-jauh pikiran berkurangnya kenikmatan dan ganti dengan keinginan untuk memberikan kualitas kehidupan yang terbaik bagi keluarga.

* Sistem Kalender
Pengaturan jarak kehamilan dengan sistem kalender hanya efektif bagi wanita yang mempunyai siklus menstruasi teratur. Dengan demikian kapan datang masa suburnya dapat dihitung secara tepat. Namun, kontrasepsi jenis ini paling rawan "kebobolan". Selain ketidakpatuhan pada jadwal, hitungannya pun mungkin saja meleset. Ada baiknya kontrasepsi kalender dibarengi dengan pemakain kondom di hari-hari subur.

Masalah psikologis: Seperti sudah disinggung di atas, kendala utama kontrasepsi alami ini adalah ketidakpatuhan pada jadwal. Apalagi untuk pasangan yang masih muda, baik dari segi usia maupun usia pernikahan. Kadangkala menahan hasrat terasa lebih sulit daripada memikirkan risikonya.

Cara mengatasi: Sekali lagi komunikasi. Jadikan jadwal yang sudah diatur sebagai bentuk tanggung jawab bersama. Bila salah satu pasangan mengatakan tidak di tanggal yang sudah disepakati, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk marah dan mengungkit hal-hal yang tidak perlu. Tanpa kesadaran dan kedewasaan kedua belah pihak, pembatasan ini bisa memicu hal-hal lain yang nantinya malah merusak hubungan pernikahan, seperti adanya affair dan sebagainya.

* Steril
Pada dasarnya pemilihan kontrasepsi permanen harus didukung dengan alasan medis maupun kesiapan mental. Tanpa alasan medis yang kuat, biasanya dokter akan menawarkan alternatif kontrasepsi jenis lain.

Masalah psikologis: Kesiapan mental menjadi faktor penentu. Semisal kemungkinan munculnya perasaan "terbuang" setelah fungsinya sebagai pria/wanita tidak lagi sempurna. Atau sebaliknya, pada beberapa pribadi tertentu rasa aman yang permanen ini justru membuatnya merasa bebas sehingga membuka peluang untuk melakukan kontak seksual dengan siapa pun selain pasangan tetapnya.

Cara mengatasi: Untuk pria/wanita yang merasa "terbuang" karena fungsi organ reproduksinya sudah tidak sempurna lagi, komunikasi efektif kedua belah pihak akan menjadi tali penyelamat. Masalah yang dihadapi adalah masalah bersama. Bantu/dorong pasangan yang sudah steril dengan pikiran dan aktivitas positif. Kesibukan dan perasaan masih dibutuhkan akan menjauhkannya dari rasa putus asa.

Untuk mereka yang merasa "aman" dengan keadaan ini pun disarankan makin memperdalam dan mengintensifkan komunikasi dengan pasangan. Jangan pernah ciptakan peluang dari kondisi ini. Tanggung jawab sebagai manusia dewasa harusnya bisa menjadi sekat tak kasat mata yang tidak boleh ditembus. Jangan tergoda untuk berselingkuh dan sejenisnya semata karena menyadari tidak adanya konsekuensi yang harus dihadapi.

SADARI RISIKONYA
Selain pemilihan jenis kontrasepsi yang bisa menimbulkan efek psikologis, risiko "kebobolan" pun harusnya sudah diperhitungkan. Seperti sudah diketahui, kecuali kontrasepsi mantap, pilihan lainnya hanya menjamin di atas 90%. Artinya, masih ada peluang sekitar 1-10% terjadinya kehamilan.

Beberapa kejadian bisa dijadikan pelajaran. Contohnya ada seorang pria di Amerika yang merasa heran istrinya bisa hamil lagi padahal selama berhubungan dia menggunakan kondom. Ketika menuntut produsen kondom merek itu, diketahui bahwa efektivitas kondom tersebut hanya 99% dan itu sudah tertulis dalam kemasannya. Kebetulan pasangan inilah yang mendapat "kehormatan" untuk menjadi konsumen yang 1% tadi.

"Kebobolan" saat menggunakan alat kontrasepsi pun bisa berdampak secara psikologis. Bagaimanapun si anak tidak direncanakan kehadirannya. Langkah pertama yang harus diambil adalah berlapang dada dengan menerima anugerah tersebut. Jangan saling menyalahkan apalagi membuang-buang waktu dengan menuntut produsen alat kontrasepsi sebab hanya akan menyeret rangkaian gerbong masalah yang panjang.