Sampai Jumat (18/2), baik Menkes, IPB, maupun BPOM belum juga bersedia membuka daftar susu yang dikabarkan mengandung bakteri Sakazakii. Padahal, para anggota DPR sudah “memaksa” mereka demi kepentingan masyarakat luas. Kendati pihak-pihat terkait berulangkali menekankan produk susu yang kini beredar di pasaran tidak berbahaya dan tak mengandung bakteri yang jadi momok itu, toh, kecemasan para ibu tak kunjung terobati. Apalagi dengan munculnya contoh kasus yang dialami Nadine Manuella (4,5).

Gadis cilik ini mau tak mau, suka tak suka, harus hidup dengan Enterobacter Sakazakii yang bersarang di sistem pencernaannya, meski sepintas tak terlihat ada yang “aneh” dalam dirinya. Ia tetap aktif dan ceria kendati pencernaannya jadi sangat sensitif gara-gara E. Sakazakii. Bakteri yang belakangan membuat geger ini pertama kali ditemukan saat Nadine baru berusia 4 bulan.

“Saat itu tinja Nadine berwarna hitam,” kisah sang ayah, Yan Warinson (39). Setelah dicek pada Januari 2007, ternyata Nadine terinfeksi bakteri patogen. “Hasil laboratoriumnya menunjukkan, putri kami positif terinfeksi bakteri Enterobacter Sakazakii.”

Dari mana asal bakteri itu? Bahkan dokter Nadine saat itu pun tak yakin. “Tapi saat bakteri itu ditemukan di tubuh Nadine, dia belum makan atau minum apa pun selain susu formula. Jadi, dari mana lagi bakteri itu bisa masuk ke perutnya?” ujar Anita , ibunda Nadine, yang waktu itu menganggap Nadine hanya tak cocok dengan susunya.

Kebingungan, mereka mencoba mencari tahu apa gerangan bakteri yang menyerang putri semata wayang mereka itu. Informasi saat itu sangat sedikit. “Kami mencari tahu lewat berbagai media. Dari internet hingga konsultasi dengan dokter, namun tidak ada informasi yang memuaskan. Bayangkan, sebulan Nadine bisa 4 hingga 5 kali ke klinik karena sakit,” ujar Yan.

Positif Sakazakii

Nadine kecil, kisah Anita, memang hanya mendapat ASI selama sebulan karena ia harus kembali bekerja. Pada waktu itu Anita yakin, dengan memberikan susu formula tambahan yang termahal di pasaran merupakan tindakan terbaik buat putrinya. Siapa sangka, Nadine justru jadi menderita berkepanjangan gara-gara itu. “Jujur saya kaget. Apalagi, katanya, bakteri itu bisa mengakibatkan radang otak,” kata Anita yang bekerja di salah satu kantor notaris di Jakarta.

Mungkinkah bakteri itu berkembang karena media minum susu Nadine kurang steril? “Tak mungkin! Oma-nya Nadine adalah bidan yang sudah 45 tahun berkecimpung di dunia kesehatan. Dia tahu benar bagaimana pentingnya kesehatan dan kesterilan,” sergah Yan. Yang jelas, sejak Nadine terserang bakteri itu, pasangan ini mengaku terketuk untuk segera memberikan informasi kepada masyarakat secara luas. Anita sering menemui beberapa ibu yang anaknya terlihat memiliki gejala yang sama seperti Nadine. “Sayang, tidak semua orangtua mau melakukan tes lab feses karena biasanya dokter juga tidak menganjurkan harus periksa,” katanya.

Belakangan, ketika nama bakteri Sakazakii melambung di tahun 2008, saat IPB melakukan penelitian terhadap sample susu formula yang diduga mengandung bakteri, barulah Anita dan Yan mengerti, darimana sebetulnya bakteri Sakazakii itu bisa masuk ke lambung Nadine. “Saya ingat, kok, waktu itu umur Nadine 2 tahun. Saya langsung ingat hasil tes Nadine. Oh, jadi dari situ bakteri di tubuh anakku berasal. Ternyata dari susu formulanya.”

Namun, kala itu pasangan ini memutuskan tidak mengadu ke YLKI atau mengekspos masalah Nadine. “Saat itu, kan, dia masih kecil sekali. Kami tidak mau mengekspos dia.”

Hanya Bubur Halus

Kini, ketika nama bakteri Sakazakii disebut-sebut lagi sementara lembaga-lembaga terkait bersikukuh tak mau menyebut merek susu yang meresahkan ibu-ibu seperti dirinya, barulah Anita bersedia “tampil”. Yan dan Anita tak ingin orang lain mengalami nasib seperti yang mereka harus hadapi saat ini. Nadine tak bisa mengeskplorasi lingkungannya sebebas anak-anak lain. “Makan salah sedikit saja atau terlalu aktif, badannya tidak kuat. Nadine selalu mengeluh sakit perut dan biasanya kondisinya jadi drop , kemudian demam. Dia juga cepat terjangkit flu,” tutur Yan.

Pencernaan Nadine sangat peka dibanding anak seusianya. Bahkan, sehari-hari, Nadine hanya makan bubur halus, satu-satunya jenis makanan yang bisa diterima lambungnya. Gerak-geriknya terbatas karena daya tahan tubuhnya lemah sehingga rentan akan penyakit. “Miris, memang, kalau melihat Nadine hanya bisa menikmati bubur halus atau makanan yang benar-benar harus dihaluskan dan bolak-balik berobat, tidak bisa seperti anak-anak lainnya. Tapi, memang ini harus dijalani dengan kasih sayang. Kami harus sabar,” ucap Anita.

Beruntung, para guru di TK tempat Nadine bersekolah sudah mengetahui kondisi Nadine sehingga bisa ikut membantu mengawasi gadis manis ini. “Pernah di sekolah dia ambil makanan temannya dan melahapnya. Akhirnya dia jatuh sakit. Nah, sejak itu Nadine tahu, untuk soal makanan dia lebih sensitif dan tidak bisa seperti teman-teman lainnya,” tutur Anita pilu.

Menghadapi kenyataan tak menyenangkan itulah, Yan dan Anita amat berharap, IPB, BPOM, dan Menkes mau dan bisa memberi informasi yang bermanfaat ke masyarakat. “Supaya tidak ada lagi anak yang mengalami nasib seperti Nadine,” ungkapnya.

Harapan yang sangat tidak berlebihan dan pastinya didukung kaum ibu yang terus saja dilanda rasa khawatir karena para pihak terkait itu tetap tak mau bicara jujur serta terbuka...

Sumber : Tabloidnova.com