Mengigit itu bukan selalu diartikan sikecil tumbuh gigi lho..... Teryata tudak banyak penyebab mengapa si batita suka mengigit, berikut penjelasannya:

* Menggigit karena meniru.

Jika hal ini yang terjadi, sudah selayaknya orangtua introspeksi diri karena di saat bercanda dengan si kecil, bisa jadi ayah/ibu dengan gemas suka menggigit si batita. Mungkin saja orangtua mengigigit anak tentu dengan ukuran tertentu sehingga gigitan tidak sakit apalagi melukai. Tapi yang lantas ditiru si batita adalah perilaku menggigit. Dia belum bisa mengukur dan melakukan bagaimana supaya gigitan itu tidak sakit.

Cara mengatasi:

Solusi yang tepat, bukan lantas memarahi bahkan menggigit lebih keras supaya si batita tahu rasanya digigit. Jika itu dilakukan sama saja halnya kita mengajarkan pada anak kekerasan fisik (termasuk menggigit) dapat dibenarkan. Lebih baik kenalkan padanya berbagai contoh perilaku saling menyayangi dan jangan lagi menggigit anak, sekalipun itu hanya bercanda. Juga jangan lagi menggigit anak sekalipun maksudnya adalah mengungkapkan perasaan gemas dan sayang.

* Menggigit = bereksperimen.

Biasanya anak batita suka menggigit payudara ibunya atau, bahu dan punggung ayahnya. Hal ini dilakukannya karena dia sedang bereksperimen, “Kalau aku gigit, bunda gimana ya?” Atau jika dilakukan pada objek lain si batita akan berpikir, “Beda enggak ya gigit handuk sama gigit sikat gigi? Ih, enakan gigit sikat gigi.”

Cara mengatasi:

Usia batita adalah usia dimana naluri sering kali menonjol untuk mendorong anak mengeksplorasi dunia dengan kelima indranya. Jika anak memasukkan benda ke mulut dan menggigitnya, ia bermaksud mempelajari benda tersebut melalui indra pengecapannya. Ada juga anak yang menggigit untuk belajar sebab akibat, seperti menggigit ibunya pada contoh di atas. Untuk memfasilitasi kegiatan mengeksplorasi dengan gigitan, sediakan beragam mainan dan aktivitas. Ajari si kecil, benda apa saja yang boleh digigit (misalnya mainan lembut, lunak, dan makanan), dan bahwa ada yang tidak boleh digigit (misalnya orang dan hewan). Beri kesempatan belajar sebab-akibat lewat mainan dan kegiatan lain. Sekali lagi, jangan sampai anak dimarahi karena memarahi anak bisa meredupkan hasrat belajar anak.

* Menggigit = ungkapan frustrasi.

Anak-anak batita umumnya masih memiliki kesulitan mengomunikasikan kemarahan dan belum mampu menunjukkan perasaan mereka dengan cara yang tepat, ditambah anak usia ini juga belum memiliki kemampuan yang baik untuk mengatasi masalah. Meski demikian, memang ada anak yang cepat frustrasi karena kurang memiliki kemampuan sosialisasi dan emosional. Salah satu ungkapan frustrasi itu dicetuskan dengan gigitan.

Cara mengatasi:

Saat anak menggigit, jangan memarahi atau menghardik, sebab hal tersebut bisa menambah rasa frustrasi anak. Sebaiknya orangtua mengajarkan keterampilan berkomunikasi yang bisa digunakannya untuk mengekspresikan perasaannya. Bantu juga si kecil untuk bisa mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata. Orangtua dapat juga melakukan pencegahan dengan menjauhkan anak dari seseorang atau benda-benda yang ada di dekatnya saat terlihat ia hendak menggigit. Perhatikan tanda-tanda anak yang sedang dilanda frustrasi, dan siap-siaplah turun tangan meredakan perasaannya dengan kehangatan dan rasa sayang. Peluk anak, katakan, “Mengapa kamu marah? Ayo ceritakan pada Ayah,” misalnya. Ajarkan juga kata-kata untuk mengungkapkan perasaan, seperti “Itu punyaku!” atau “Jangan paksa aku, dong!”

* Menggigit = menunjukkan kekuatan.

Anak batita berada pada usia egosentris yang ingin menunjukkan “kuasa”nya. Apalagi saat melakukan gigitan pertamanya, orangtua lantas mengikuti apa kemauan si anak. Si batita jadi berpikir, “Eh, apa mauku diikuti.” Maka dari situ dia akan menjadikan gigitan sebagai alat kekuatannya. Contoh, saat temannya tidak memberikan apa yang dimintanya, dia akan menggigit temannya. Begitu juga pada orangtua.

Cara mengatasi:

Ketika si kecil menggigit, jangan memarahi, menyalahkan, membalas atau menyuruh orang yang digigit untuk membalas menggigit anak. Jika itu yang kita lakukan bisa merusak harga diri dan menanamkan rasa dendam pada anak. Sebaiknya beri dia pengertian, jika ingin sesuatu mintalah dengan cara yang baik semisal, “Pinjam dong.” Sampaikan pula padanya, paling enak itu jika punya banyak teman daripada ditakuti tapi tidak punya teman. Selain itu berikan juga padanya kesempatan untuk membuat keputusan sederhana sepanjang hari. Ini akan membantunya memperoleh “kekuasaan” atas dirinya sendiri. Tak lupa dukung juga usaha anak berperilaku sosial positif setiap hari.

* Menggigit = gangguan perilaku.

Batita yang melakukan hal ini sangat sedikit atau bersifat kasuistik. Umumnya terjadi pada anak autis.

Cara mengatasi:

Bila hal ini terjadi, tak ada jalan lain, yaitu mengikutkan si anak pada terapi yang diperuntukan bagi anak autis, misalnya terapi perilaku dengan tujuan mengurangi bahkan menghilangkan “kebiasaannya” menggigit.

* Menggigit karena gatal.

Anak yang sedang tumbuh gigi biasanya merasa tidak nyaman di gusi. Untuk meredakannya, ia menekan-nekan gusi dengan cara menggigit-gigit sesuatu seperti bahu ayah atau puting ibunya.

Cara mengatasi:

Solusi paling baik adalah menyediakan benda yang bisa digigit-gigit untuk meredakan nyeri tumbuh giginya, misalnya wortel rebus dingin, biskuit, atau teether (mainan khusus untuk digigit). Tapi ingat, jangan memberinya penyaman gusi yang bisa menimbulkan ketergantungan, misalnya empeng. Atau memberi penganan yang kurang baik untuk kesehatan, seperti permen. Keduanya malah bakal