Anda harus lebih berhati-hati saat akan menerima transfusi darah. Pastikan bahwa darah tersebut cukup segar untuk digunakan. Sebab, sebuah penelitian di Amerika membuktikan bahwa penggunaan darah transfusi yang kurang segar meningkatkan risiko terserang infeksi.

Studi yang dilakukan sepanjang Juli 2003 sampai September 2006 ini mengikutsertakan 422 pasien bedah di Cooper University Hospital, New Jersey, AS. Pasien yang menerima transfusi darah dengan umur penyimpanan lebih dari 32 hari terbukti berisiko terserang infeksi 3 kali lebih tinggi dibanding mereka yang mendapat darah dengan usia penyimpanan di bawah 28 hari.

Sang peneliti, dr. Raquel Nahra, mengatakan, pada awalnya darah untuk transfusi tersebut bebas kuman. Namun, dalam masa penyimpanan yang panjang, darah tersebut mengeluarkan cytokines. Zat inilah yang membuat sistem imun tubuh pasien penerima transfusi menjadi rentan terhadap infeksi kuman. Jenis serangannya berkisar pada infeksi saluran kencing dan pneumonia.

Aturannya, darah untuk transfusi hanya boleh disimpan paling lama 42 hari. Bila lebih dari itu, darah tersebut harus dimusnahkan. Oleh sebab itu, pihak rumah sakit dan bank-bank darah harus memberlakukan manajemen penyimpanan dan aturan urutan penggunaan stok darah tetap dalam kondisi segar dan tidak ada yang terbuang.