Anak mulai jatuh cinta

Jangan kaget dahulu bila tiba-tiba anak anda yang remaja mengatakan,“Ma, aku jatuh cinta!”. Tidak perlu menertawakan apalagi sampai memarahinya karena anak anda sedang mengalami fase baru dalam kehidupannya. Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., psikolog, yang berpraktek di Kidsports, Pondok Indah Jakarta Selatan, dalam ilmu psikologi perasaan mulai saling tertarik pada lawan jenis seperti ini disebut early adolescence romantic relationship. “Para mama sering menyebutnya dengan istilah puppy love, cinta monyet atau cinta anak ABG. Yang disebut, praremaja biasanya anak-anak yang duduk di bangku SD akhir, sekitar 10-12 tahun,” tambahnya.

Perasaan tertarik atau mulai ada keinginan untuk berinteraksi dengan lawan jenis di masa praremaja sebenarnya bertujuan untuk mengeksplorasi, seberapa menarik diri mereka di mata teman-temannya. “Si praremaja bangga jika interaksi ini dilihat oleh teman-teman dan mereka menjadi pusat perhatian. Bila ia ‘pacaran’ pun, di usia ini, tujuannya lebih untuk mencari jati diri dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Berbeda dengan tujuan orang dewasa saling berbagi kasih sayang, memperhatikan orang lain, mencari rasa nyaman, dan sebagainya,” ujar Anna.

Yang perlu diwaspadai oleh para mama adalah bila si pra remaja mulai melakukan berbagai hal yang ‘tidak sesuai usia’, seperti berciuman, berpelukan atau bahkan menjurus ke hubungan seksual. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa praremaja yang sedang mengalami puppy love lebih mudah mengalami depresi, khususnya bila orangtua kurang suportif pada anaknya. Namun bukan berarti puppy love harus dihindari kok, Ma. “Orang tua hanya perlu lebih waspada akan munculnya efek negatif tadi. Mama memang jadi harus lebih peka melihat perubahan-perubahan pada si pra remaja,” ujar Nina lagi.

Kekhawatiran tersebut dapat diatasi dengan mengajaknya berdiskusi secara terbuka, mama pun sebaiknya melakukan berbagai hal untuk mengantisipasi kemungkinan si pra remaja telah menjalin hubungan khusus, seperti memantau penggunaan komputer atau telepon genggamnya. “Saya kadang curi-curi melihat isi pesan di handphone Firsta. Sepertinya ada beberapa obrolan dengan anak SMA yang naksir putri pertama saya ini,” cerita Wiene, mama dari Firsta yang selalu menjadi juara kelas di sekolahnya. Jika anak terbuka pada orang tuanya mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun jika tidak, mereka menyimpan semua kecemasan ini sendirian.

Pada dasarnya, puppy love masih merupakan hal yang wajar dan pasti akan dialami anak seiring dengan tumbuh kembangnya. “Justru si pra remaja jadi dapat belajar mengenali berbagai macam emosi. Mulai dari senang, sedih, kangen, cemburu, kesal dan sebagainya. Dari pengalaman ini, dia tentunya juga belajar mengatasi berbagai emosi negatif sambil belajar memunculkan emosi positifnya,“ tegas Nina. Jadi tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan bila anak praremaja anda mulai memasuki fase puppy love. Nikmati masa itu bersama-sama, sambil tetap melakukan apa yang menurut mama tepat untuk dilakukan. Ingat-ingat saja apa yang Anda sendiri alami di masa remaja dulu.

Apakah anak pra remaja anda termasuk dalam tanda-tanda puppy love?
• Mulai peduli penampilan
• Mulai tertarik menggunakan parfum supaya percaya diri, mulai cerewet soal pilihan bentuk rambut, bahkan cara mereka berdiri pun bisa berubah
• Mulai membicarakan tentang lawan jenis dengan teman-teman sekelas dan tampak malu-malu
• Mulai lebih suka menghabiskan waktu luang dengan hang-out bersama teman-temannya
• Mulai suka menyimpan rahasia
• Bila hubungan dengan mama cukup terbuka, biasanya dia juga akan bertanya dan minta saran mengenai penampilannya, perasaannya, bahkan tidak malu menyebutkan si A atau B sebagai anak yang dia taksir.

Lalu bagaimana ketika si praremaja jatuh cinta?
• Tetaplah santai saat anak bercerita dan usahakan untuk tidak menunjukkan kepanikan atau rasa geli anda
• Perlihatkan foto anda saat seumurnya, dan ceritakan pengalaman pertama Anda jatuh cinta di masa foto itu dibuat
• Perhatikan pilihan musik atau lagu yang didengar anak. Sebuah lagu dapat memberikan gambaran tentang perasaannya
• Belikan buku-buku kiat menjalani masa remaja. Anda dapat membacanya terlebih dahulu, baru kemudian minta ia membacanya. Setelah itu, diskusikan bersama.
• Jadilah pendengar yang baik
• Anda dapat menggunakan sudut pandang ketiga untuk membicarakan puppy love. Misalnya sebuah artikel majalah, film bertema cinta, dll. Tanyakan, “Apa yang akan kamu lakukan bila hal tersebut terjadi padamu?”,”Bagaimana perasaanmu?”

Siap-siap bila patah hati
• Sadari akan hal ini namun jangan terlampau khawatir
• Usahakan untuk tetap dekat, dengan sering mengajaknya ngobrol tentang perasaannya. Dengan begitu ia tidak merasa sendirian.
• Jangan langsung menghibur atau menasehatinya. Dengarkan dulu ceritanya. Seremeh apapun bagi anda, namun ini penting bagi anak.
• Tanyakan apa yang terjadi, apa yang dia rasakan, apa yang bisa dia lakukan agar dia merasa nyaman kembali.
• Bila ia meminta nasehat, barulah keluarkan jurus-jurus anda. Namun tetap pilihlah kata-kata yang tidak berkesan meremehkan perasaannya.
• Salah satu milestone yang harus dicapai di usia remaja adalah mencari jati dirinya. Bila anak terus dinasehati atau tidak diberi kesempatan mengekspresikan perasaannya, ia akan kesulitan menemukan jati dirinya.