Jakarta, Jutaan anak Indonesia mengalami tubuh pendek akibat kurang gizi. Penanganan anak-anak yang mengalami stunting atau bertubuh pendek ini terus difokuskan di tahun 2012 ini bersamaan dengan anak kurang gizi dan kelebihan berat badan.

"Ada 3 masalah gizi yang menjadi fokus kita. Kita ketahui bahwa masalah gizi itu tidak hanya masalah gizi buruk atau gizi kurang, tetapi juga masalah overweight (kelebihan berat badan) dan stunting (tubuh pendek atau kuntet)," jelas Dr dr Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS, Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu & Anak Kemenkes, disela-sela acara Sarasehan dan Temu Kangen Ahli Gizi di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Rabu (25/1/2012).

Menurut Dr Slamet, masih ada 14,5 persen anak Indonesia yang mengalami kelebihan berat badan dan sekitar 36 persen anak yang mengalami tubuh pendek.

Tahun ini, Kementerian Kesehatan lebih memfokuskan pada masalah stunting (tubuh pendek). Saat ini, masih ada sekitar 36 persen anak Indonesia yang bertubuh pendek dan targetnya harus turun hingga 30 persen.

"Tapi ini tidak bisa hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, tapi juga dari berbagai vektor, swasta, LSM dan perguruan tinggi," jelas Dr Slamet.

Untuk mengatasi masalah ini, seorang anak harus mendapat gizi yang baik sejak 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga berusia 2 tahun.

"Karena kita ketahui bahwa masalah manusia tidak hanya masalah fisik tetapi juga mentalnya. Dan itu harus dimulai sejak fase kehamilan pertama. Kalau sudah lahir sudah terlambat. Jadi dimulai pada saat kehamilan 270 hari ditambah setelah kehamilan 730 hari sampai dengan umur 2 tahun," jelas Dr Slamet.

Upaya konkret yang akan dilakukan antara lain melalui penimbangan berat badan, perawatan jika ada yang terganggu pertumbuhannya. Jaminan untuk mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif maupun Makanan Pendamping ASI untuk yang sudah berusia di atas 6 bulan juga termasuk langkah yagn akan ditempuh.

Stunting atau disebut juga kuntet memang termasuk dampak lain dari gizi buruk atau kurang, yang sifatnya tergolong kronis. Artinya dampak ini tidak selalu terjadi pada anak yang kurang gizi, melainkan bisa berdampak pada generasi atau keturunan berikutnya.

detik.com