Kemajuan teknologi saat ini diduga bisa hambat kreativitas anak. Menghabiskan waktu hanya di depan televisi, komputer, atau media permainan digital lainnya dapat membentuk perilaku yang tidak kreatif pada anak.

Walau demikian, orang tua seringkali mengira ketika anaknya cerdas di sekolah, khususnya dalam bidang akademik, berarti anaknya adalah anak yang kreatif. Tapi sebenarnya, walaupun cerdas anak belum tentu kreatif lho.

Menurut psikolog tumbuh kembang anak Roslina Verauli, M.Psi pada acara sekaligus kampanye "Apenliebe Kreasi Imajinasi Indonesia", anak yang cerdas belum tentu kreatif. "Belum tentu, namun untuk kreatif butuh cerdas," katanya.

Bertempat di SD Negeri 02 Menteng, Jakarta, pada Kamis (16/5/2013) psikolog muda ini mengatakan bahwa anak yang kreatif tentu dapat menghadapi tantangan di dalam kehidupannya. "Pintar itu biasanya dilihat dari nilainya, apalagi kalau matematikanya bagus, ikut les sana-sini tetapi walaupun begitu anak belum bisa disebut kreatif karena cerdas itu belum tentu kreatif," ungkapnya.

Menurut Vera, bakat di dalam diri anak adalah salah satu kecerdasan tetapi beberapa kecerdasan anak kadang kala baru terlihat ketika ia sudah selesai sekolah. Hal ini disebabkan karena beberapa kecerdasan anak bukan di bidang akademis tetapi di bidang yang lainnya.

"Tetapi untuk anak yang kreatif ia lebih bisa menggunakan kecerdasannya secara total untuk menghadapi tantangan, menularkan kreativitasnya pada orang lain, dan bahkan menciptakan kesempatan pada dirinya sendiri," kata Vera.

Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua di rumah adalah dengan mendampingi anak ketika anak melakukan kegiatannya. Selain itu, Anda dapat mengajak mereka untuk mengeluarkan pendapat atau pun ide yang ada di dalam pikiran mereka.

"Untuk anak-anak, orang tua perlu menjadi fasilitator dan juga supervisor sehingga anak dapat mengeluarkan kreativitasnya," tutupnya.