3. Mengapa saya serba takut merawat bayi? Mau memandikan, takut dia tenggelam. Mau menggendong, takut lehernya patah. Tolong!
Saran ahli: Anda perlu belajar lagi teknik merawat bayi (menggendong, menyendawakan, mengganti popok, memandikan, meninabobokan). Kalau perlu, belajarlah kepada ahlinya, seperti perawat/bidan di rumah sakit. Di majalah atau buku juga banyak petunjuk step by step merawat bayi untuk dipraktekkan. Selain itu, bangun rasa percaya diri, perasaan tenang, dan positive thinking bahwa bayi akan baik-baik saja saat Anda merawatnya. Bayi tidak serapuh yang Anda kira. Dia tidak mudah tenggelam di bak mandi atau patah tulang saat digendong.

4. Bayi kami tidak responsif. Digendong diam, diajak bercanda, diam. Bisanya menangis. Apakah dia tidak menyukai saya?
Saran ahli: Tenang, yang bisa dilakukan bayi baru memang hanya menangis. Menangis merupakan bentuk komunikasi bayi terhadap orang di sekitarnya untuk menandakan dia lapar, mengantuk, popoknya basah, bosan dan lain-lain, juga merupakan cara bayi menunjukkan emosinya. Meski demikian, jangan diam saja saat bersama bayi. Tetap berikan perhatian dan stimulasi. Di usia 8 minggu, senyum manis bayi untuk Anda, akan terkembang!

5. Bisakah saya menjadi ayah yang baik untuk anak saya?
Saran ahli: Di dunia ini, tidak ada pria yang terlahir atau memiliki bakat untuk menjadi ayah yang baik. Kompetensi menjadi orangtua terasah berkat proses learning by doing (belajar sambil melakukan), try and error (mencoba dan salah) dan pembiasaan. Modalnya, cinta, ketabahan dan kesabaran. Namun, miliki teorinya, misalnya dengan membaca artikel seputar pengasuhan, tumbuh kembang dan psikologi anak di Majalah Ayahbunda atau di buku. Selain itu, timbalah ilmu dari pengalaman sesama ayah.