Seringkali dengan alasan ibu sakit penyusuan dihentikan, padahal dalam banyak hal ini tidak perlu. Karena lebih berbahaya bagi bayi bila mulai diberi susu formula daripada terus menyusu dari ibu yang sakit. Keadaan ini dapat dibenarkan untuk menghentikan penyusun adalah bila skit ibu sangat berat misalnya kegagalan jantung atau ginjal atau menderita kanker. Pada ibu dengan gangguan jiwa pun masih dianjurkan untuk menyusui asalkan ada orang yang mengawasinya pada saat-saat tersebut. Ibu dengan penyakit infeksi akut lebih sering menularkan melalui tangan atau percikan ludah daripada melalui ASI. Di samping itu do dalam ASI akan terdapat zat anti terhadap penyakit yang diderita ibu sehingga bila bayi menyusu akan mendapat zat penangkal penyakit tersebut. Bila ibu terpaksa harus dirawat, jika terdapat fasilitas, bayinya dianjurkan ikut dirawat bersama ibunya agar aktivitas menyusui tidak terhenti.

Ibu dengan HIV/AIDS

Bayi dari ibu dengan HIV/AIDS sebanyak kurang lebih 20% sudah terinfeksi HIV secara transmisi vertikal. Namun apabila pengobatan dengan obat antiretroviral diberikan beberapa lama sebelum persalinan dan diikuti dengan pencegahan cara lain seperti persalinan melalui bedah kaisar dan pencucian jalan lahir transmisi vertikal ini dapat diturunkan sampai menjadi 2%. Apabila ibu menyusui akan bertambah penularan melalui ASI sebanyak kurang lebih 11-15%, sehingga di negara maju terdapat angka kematian dan kesakitan bayi yang tidak mendapat ASI sudah rendah, ibu dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya.

Namun di negara berkembang masih banyak terdapat ibu yang tidak memberikan ASI akan mempunyai morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, maka ibu dianjurkan tetap memberi ASI. Apabila sudah diketahui sejak lahir bahwa bayi telah tertular (dengan pemeriksaan PCR) maka dianjurkan agar ibu tetap memberi ASI, karena ASI akan melindungi bayi dari infeksi lain yang menyertai AIDS atau statusnya tidak diketahui maka ibu tetap dianjurkan untuk memberikan ASI. Bila ibu diketahui mengidap HIV/AIDS ada beberapa alternatif yang dapat diberikan dan setiap keputusan ibu setelah mendapat penjelasan perlu didukung.

1. Bila ibu memilih tidak memberikan ASI maka ibu diajarkan memberikan makanan alternatif yang benar dan di negara berkembang sewajarnya makanan alternatif ini disediakan secara cuma-cuma untuk 6 bulan.
2. Bila ibu memilih memberikan ASI maka dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama 3-4 bulan kemudian menghentikan ASI dan bayi diberi makanan alternatif. Perlu diusahakan agar putting susu jangan sampai terluka karena virus HIV dapat masuk melalui luka. Di samping itu jangan diberikan ASI bersama susu formula karena susu formula akan menyebabkan luka di dinding usus yang menyebabkan virus dalam ASI lebih mudah masuk.

Maka WHO menganjurkan pada setiap wilayah/negara untuk memilih sendiri apakah akan melarang atau menganjurkan ibu dengan HIV + menyusui bayinya.

Ibu dengan hepatitis B

Sampai saat ini pandangan mengenai boleh tidaknya seorang ibu dengan HbsAg+ menyusui bayinya didasarkan atas dasar yang serupa dengan HIV. Walaupun virus hepatitis B dapat melalui ASI tetapi belum ada laporan adanya penularan melalui ASI. Kolostrum ternyata tidak mengandung virus hepatitis B mungkin oleh karena kolostrum mengandung SigA dan interferron yang dapat membunuh virus hepatitis B. Lagi pula apabila ibu mendapat hepatitis B selama hamil maka lebih dari 50% bayi telah mendapat infeksi intra-uterin, sehingga bayi tidak perlu dilarang mendapat ASI. Hanya dianjurkan dalam 24 jam pertama bayi mendapat imunoglobulin spesifik hepatitis dan dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi.

Ibu dengan TBC paru

Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan pencegahan penularan pada bayi dengan menggunakan masker. Bayi tidak langsung diberi BCG oleh karena efek proteksinya tidak langsung terbentuk. Walaupun sebagian obat anti INH dengan dosis penuh sebagai profilaksis. Setelah 3 bulan pengobatan secara adekuat biasanya ibu sudah tidak menularkan lagi dan setelah itu pada bayi dilakukan uji Mantoux. Bila hasilnya negatif terapi INH dihentikan dan bayi diberi vaksinasi BCG. By IDAI.or.id Penulis : Rulina Suradi