Share Like
Simpan

Proses perkembangan anak usia dua tahun ditandai dengan perubahan mood, temper tantrum , dan sering memakai kata ‘tidak’. Usaha si Kecil mulai bergantung dengan orang dewasa selain keinginan untuk mandiri. Misalnya, beberapa menit lalu si Kecil berpegang erat dengan Ibu , dan menit berikutnya ia sudah lari ke arah berlawanan.

Kadang si Kecil menjadi sangat dominan dan penuntut, memberikan perintah, dan membuat keputusan. Bila ia memutuskan Ibu yang melakukannya, ia tidak dapat menerima bila Ayah yang melakukannya. Bila ia memutuskan untuk melakukannya sendiri, berarti tidak seorangpun dapat membantunya.

Kadangkala anak berumur dua tahun sering menyulitkan. Namun Ibu perlu ingat, pada usia ini si Kecil mengalami perubahan besar dalam motorik, intelektual, sosial, dan emosi. Perbendaharaan katanya semakin banyak. Ia ingin melakukan semuanya sendiri dan mulai menyadari harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Tetapi si Kecil belum mampu bergerak secepat yang diinginkannya dan belum mampu berkomunikasi dengan jelas tentang apa yang dibutuhkan, atau mengendalikan perasaannya. Hal tersebut memicu timbulnya frustrasi dan kelakuan buruk.

Perilaku mana saja yang perlu disiplin?
• Menyela pembicaraan, yang kadang terjadi saat ia merasa senang dan tidak sabar untuk mengutarakan atau bertanya. Tetapi dengan membiarkannya seperti itu, Ibu tidak bisa mengajarkan bagaimana memikirkan orang lain atau menempati dirinya ketika Ibu sedang sibuk, misalnya. Psikolog dan penulis buku “Getting Your Child From No to Yes”, Jerry Wyckoff, Ph.D., menjelaskan hal itu akan mengakibatkan si Kecil berpikir berhak atas perhatian orang lain dan tidak akan mampu mentoleransi perasaan frustrasinya. Karena itu, saat Ibu ingin menelepon atau berkunjung ke rumah teman, minta si Kecil untuk duduk diam dan tidak mencela pembicaraan. Bawa permainan yang ia sukai. Jika tiba-tiba ia mendekat dan menggelayuti lengan Ibu saat berbicara, tunjuk kursinya agar ia kembali duduk di sana menunggu hingga Ibu selesai berbicara.

Bermain kasar, seperti memukul teman bermain. Tetapi Ibu juga tidak boleh mengabaikan tindakan agresif yang lebih halus, seperti mendorong saudaranya atau mencubit teman. "Jika tidak melakukan intervensi, perilaku kasar bisa menjadi kebiasaan mengakar pada usia 8 tahun dan si Kecil akan mendapat kesan bahwa menyakiti orang dapat diterima,” jelas Michele Borba, Ed.D., penulis “Don't Give Me That Attitude!: 24 Rude, Selfish, Insensitive Things Kids Do and How to Stop Them”. Segera pisahkan si Kecil dan beri tahu tindakan itu tidak diperbolehkan. Dan sebelum ia bermain dengan teman sebayanya, ingatkan lagi untuk tidak bermain kasar, marah saat menunggu giliran, dan sebagainya. Bila ia mengulangi, hentikan permainan.

• Pura-pura tidak mendengar, saat meminta si Kecil melakukan sesuatu hingga berkali-kali dan ia masih belum membereskan mainan, misalnya. "Mengingatkan anak lagi dan lagi hanya melatihnya untuk menunggu pengingat berikutnya daripada memperhatikan yang pertama kali saat Ibu mengatakan sesuatu padanya," jelas psikolog dan penulis “First-Time Mom: Getting Off on the Right Foot - From Birth to First Grade”, Kevin Leman, Ph.D. Dengan membiarkannya, bisa membuat si Kecil menjadi pemberontak. Daripada berbicara dengannya dari jarak tertentu, lebih baik Ibu mendekatinya dan katakan apa yang Ibu minta. Bila masih tidak dikerjakan, sentuh bahunya, panggil namanya, dan matikan televisi untuk mendapatkan perhatian si Kecil.