Share Like
Simpan

Dulu sewaktu pertama kali memasukkan si Kecil ke sekolah dasar, ia diminta mengikuti tes IQ. Awalnya saya tidak keberatan karena tes semacam itu sudah sering saya dengar sebelumnya. Namun, tiba-tiba datang dua jenis tes serupa dengan nama yang jarang saya dengar, yaitu tes SQ dan EQ. Kebetulan, di hari itu saya datang bersama dengan salah satu sahabat saya yang juga seorang psikolog anak. Tanpa membuang waktu, saya tanyakan saja kepadanya apa tujuan dari masing-masing tes psikologi tersebut.

Setelah berbincang cukup panjang, saya baru mengerti Bu, apa saja yang dapat diukur dari masing-masing tes IQ, SQ, dan juga EQ. Nah, supaya Ibu juga memahami maksud dan tujuan dari tes ini, berikut adalah penjabaran singkat dari hasil obrolan saya dengan sang psikolog:

IQ (Kecerdasan Intelektual)

Tes yang satu ini tentu sudah tidak asing di telinga ya, Bu. Pertama kali ditemukan oleh William Stern tahun 1912, tes ini merupakan salah satu jenis tes psikologi yang biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif seseorang, seperti kemampuan ruang, bahasa, logika (matematika), jasmani (olahraga), musik, bersosialisasi, dan meniru. Umumnya, hasil dari tes IQ seseorang dinilai dengan angka dari 0 hingga 200 ke atas dengan pembagian sebagai berikut:

  • Hasil 70 atau kurang, menunjukkan adanya keterlambatan pemahaman pada si Kecil.
  • Angka 85 sampai 115 menggambarkan kemampuan rata-rata si Kecil.
  • Skor di atas 130 biasanya mendeskripsikan tingkat kepandaian si Kecil yang luar biasa.

SQ (Kecerdasan Spiritual) 

Tes SQ merupakan sebuah tes psikologi yang digagas pertama kali oleh Danar Zahar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) untuk mengukur kecerdasan spiritual seseorang. Dalam hal ini, spiritual yang dimaksud adalah bagaimana si Kecil menganalisa dan mengeksplorasi perilakunya di lingkungan sosial, serta cara ia menghadapi sebuah masalah. Berbeda dengan tes IQ, hasil dari tes SQ biasanya hanya dinilai dengan angka dari rentang 0 sampai 80 dengan definisi berikut:

  • 0-19 menggambarkan lemahnya kemampuan menganalisa dan meneliti sesuatu. Hasil ini terhitung sebagai di bawah rata-rata.
  • 20-39 menunjukkan kemampuan menganalisa dan meneliti si Kecil masuk ke dalam kategori rata-rata.
  • 40-50 mendeskripsikan kecerdasan si Kecil dalam menganalisa terhitung di atas rata-rata.

51-80 menjelaskan kondisi kecerdasan si Kecil berada di tingkat tertinggi untuk menganalisa dan meneliti. Satu hal yang perlu Ibu ketahui, biasanya orang-orang dengan skor tinggi ini memiliki risiko terkena sindrom Asperger terutama laki-laki, Bu.

EQ (Kecerdasan Emosional)

Biasanya, kecerdasan emosional seseorang dikur untuk mengetahui bagaimana ia mengendalikan emosi serta perasaan dan juga kemampuannya untuk berada di dalam suatu kelompok. Baik kelompok belajar, bermain, maupun bekerja pada orang dewasa. Melalui tes psikologi ini, Ibu bisa mengetahui apakah si Kecil termasuk anak yang mudah bergaul, mudah marah, atau justru lebih senang bermain sendiri. Biasanya, tes ini dibutuhkan sebelum memasuki dunia sekolah, Bu.

Nah, kira-kira begitulah perbedaan dari tiga jenis tes psikologi di atas. Cukup mudah bukan membedakannya? Manfaatkan agar Ibu lebih paham mengenai kemampuan serta minat si Kecil, sehingga lebih mudah untuk mengasahnya. Semoga informasi tadi bisa bermanfaat ya, Bu!