Share Like
Simpan

“The world is a dangerous place, not because of those who do evil, but because of those who look on and do nothing “ Albert Einstein

Berita mengenai bencana alam silih berganti muncul di media elektronik dan cetak. Di dalam negeri, belum habis berita banjir dan tanah longsor, ancaman kekeringan sudah muncul di beberapa daerah. Di luar negeri badai, banjir, dan kekeringan tak kalah maraknya. Banyak ahli mensinyalir bencana alam yang terjadi di berbagai belahan dunia itu, tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkait akibat meningkatnya pemanasan global.

Mereka juga berpendapat bencana tersebut merupakan runtutan akibat dari ketidakpedulian manusia pada isu pemanasan global. Peningkatan suhu bumi akibat akumulasi gas berbasis karbin, seperti karbondioksida, metan, dan hidroflurokarbon, mendorong terjadinya perubahan iklim.

Mencairnya es di pegunungan salju abadi seperti Himalaya, Andes, Jaya wijaya, dan Patogonia, serta Kutub Utara dan Selatan adalah indikasi meningkatnya suhu bumi. Selain itu, perubahan suhu bumi juga terjadi di lautan yang mengakibatkan berubahnya siklus dan kejadian cuaca, disebut sebagai perubahan iklim.

Akibat ketidakpedulian sebagian besar umat manusia pada kemampuan dan daya dukung bumi, berbagai perubahan melanda seluruh permukaan bumi. Mengutip berbagai sumber, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia mengungkapkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim berdampak pada naiknya temperatur udara mencapai 1,5-4,5 derajat celcius dan merubah permukaan bumi secara radikal sehingga mempengaruhi kesehatan dan keamanan manusia. Kenaikan suhu permukaan bumi sebesar satu derajat celcius akan menaikan permukaan laut setinggi 15 sentimeter yang akan menenggelamkan kawasan pesisir. Selain itu, juga terjadi perubahan musim dan musnahnya berbagi jenis flora dan fauna.

Ancaman mengerikan pada kehidupan tersebut membutuhkan konsistensi manusia untuk menjaga serta melestarikan kekayaan alam. Tapi tak sedikit orang yang menganggap bahwa masalah lingkungan adalah masalah dunia, yang tidak berkait langsung dengan permasalahan hidup sehari-hari. Tapi berbagai riset menunjukan bahwa persoalan lingkungan di Indonesia telah berdampak pada dunia, dan berakibat langsung pada kehidupan masyarakat Indonesia.

Akibat kerusakan lingkungan dan pemanasan global, diperkirakan 72 hektar lahan di Jakarta akan tenggelam pada tahun 2030. Penelitian ini juga dikuatkan melalui penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2007 yang menyebutkan daerah-daerah di Jakarta, sebagian Jawa Barat, dan Banten merupakan kawasan yang akan tenggelam pada tahun 2050 nanti. Akibat dari pemanasan global diperkirakan pada 2070, sekitar 800 ribu rumah yang berada dipesisir harus direlokasi, dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.

Untuk mengatasi permasalahan akibat dampak lingkungan, diperlukan keterlibatan segenap komponen masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Anak merupakan generasi penerus yang mewariskan keberlangsungan bumi. Ketidakpedulian orang tua terhadap kelestarian lingkungan, bukan hanya mewariskan kondisi lingkungan yang buruk, namun juga menciptakan generasi penerus yang tak ramah lingkungan. oleh karena kepedulian orang tua saja masih belum cukup. Orang tua juga perlu mendidik anak sedini mungkin agar mereka ‘melek’ lingkungan. Sehingga bumi tetap menjadi tempat yang nyaman untuk kehidupan.

Menurut Abdul Halim, Pelaksana Tugas Relasi Media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), tanamkan hakekat alam terlebih dahulu sebelum orang tua mendorong kecintaan anak terhadap lingkungan. Anak memahami, bumi beserta isinya merupakan ciptaan dan anugerah Tuhan, yang diberikan kepada manusia agar dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pendukung kehidupan. Agar manfaatatnya maksimal maka alam harus dijaga dan dipelihara.

Kerusakaan alam akibat ulah manusia akan menimbulkan dampak yang merugikan. Jika hal ini tertanam dalam pola pikir anak, maka orang tua akan lebih mudah member teladan. Misalnya, orangtua senantiasa membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, “Mendidik anak terkait dengan kemerdekaan akal budi dari ketidaktahuan, termasuk memberi jalan agar anak lebih beradab dalam memperlakukan lingkungan hidupnya, “kata Abdul.

Begitupun pendapat Novi Hardian Ssi, kepala sekolah alam Ciganjur. Menurutnya, sikap kecintaan lingkungan anak merupakan hasil proses pendidikan yang dialaminya, baik dari sekolah maupun orang tua. Pada umumnya anak menghabiskan dua per tiga hari dirumah. Oleh karena itu, pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan dari orang tua.

Biasakanlah pola hidup yang bersih, sehat dan ramah lingkungan dalam keluarga. Tanamkan pula kesadaran, menjaga alam merupakan bagian dari ibadah, yang memberi manfaat bagi peningkatan kualitas hidup. Anak belajar dengan meniru dan mencontoh. Jadi, kalau orang tua melek lingkungan, anak pun akan terpengaruhi. “Dimulai dari meniru, membiasakan berkarekter hingga menjadi budaya khususnya budaya cinta lingkungan,”ujar Novi.

Kepedulian kepada kelestarian lingkungan perlu dilakukan sejak dini karena pengaruh pada usia dini merupakan dasar pembentukan karakter anak. Mengajarkan cinta lingkungan juga akan menumbuhkan sikap bersyukur. Umumnya, anak yang mencintai alam, cenderung berhati lembut dan juga mengasihi sesama.”perkenalkan tugas menjaga lingkungan pada anak melalui pembiasaan hidup yang ramah dan cinta lingkungan sedini mungkin. Ingat “actions speak louder than words”, ujar Novi.

Agar lebih mudah memahami tentang pelestarian lingkungan, Abdul menambahkan, anak juga perlu dibekali pengetahuan seputar lingkungan. Pemberian pengetahuan lingkungan hidup berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan positif orang tua. Contohnya, mengapa harus menghemat penggunaan air? Gunakan jawaban sederhana. Misalnya, air adalah kebutuhan pokok manusia. Sementara itu, populasi manusia semakin meningkat, dan banyaknya daerah resapan air tanah yang dibangun menjadi permukiman, hotel, dan perkantoran, mengakibatkan persediaan air semakin berkurang. Oleh sebab itu, air perlu digunakan sehemat mungkin.

Pembekalan pengetahuan juga bisa anak dapatkan melalui kegiatan ekstrakurikuler disekolah. Orang tua dapat mengajak anak untuk mengikuti pramuka, karya ilmiah remaja, palang merah remaja (PMR), pencinta alam, dokter kecil dan lain-lain. Kebiasaan kebiasaan dimasyarakat juga mempengaruhi sikap anak tehadap lingkungannnya.

Agar anak dapat memilah kebisaan baik dan buruk, diperlukan pengawasan dan bimbingan orang tua agar pendidikan lingkungan hidup dapat dipraktikan dalam keseharian anak. Jika mungkin, dengan membentuk system pelestarian didaerah tinggal, sehingga anak dapat berperan langsung menjaga keberlangsungan lingkungannya. “Ilmu tanpa praktek, tak memberi bekas pada pemahaman anak. Begitupun dengan pemahaman seputar lingkungan perlu didukung oleh keterlibatan anak secara aktif, “ujar Abdul.

Meningkatkan pemahaman anak tentang perlunya menjaga lingkungan, menurut Novi, dapat juga dilakukan orang tua dengan berdiskusi mengenai lingkungan bersama anak. Diskusi dapat diarahkan untuk mengetahui penyebab dan perilaku masyarakat yang berakibat pada masalah global lingkungan. “Berikan penjelasan sesuai kemampuan pemahaman anak. Sebaiknya gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak,”kata Novi.

=====================================================================================

Beraksi Melestarikan Lingkungan

Manusia adalah penyebab utama terjadinya pemanasan global (global warming) serta masalah lingkungan lainnya. Untuk itu, orang tua maupun anak-anak perlu mendisiplinkan diri dalam menjaga kelestarian bumi. Dengan menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup, sebuah keluarga akan menyumbang sesuatu untuk bumi tercinta dan mendapatkan manfaatnya.

Meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar rumah, berarti juga:

  • Meningkatkan kualitas lingkungan hidup planet bumi.
  • Kondisi kehidupan keluarga lebih nyaman dan kondusif bagi perkembangan anak-anak.
  • Kesehatan keluarga dan anak-anak lebih terjaga.
  • Dengan mengurangi, mendaur ulang, mengganti dan menghemat penggunaan sumber daya alam dan energi bagi kehidupan keluarga, keuangan keluarga lebih mudah diatur dan dihemat.
  • Terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan, salah satunya bau busuk sampah yang tak terurus

Yang dapat orang tua lakukan :

  • Mengurangi penggunaan alat listrik yang menggunakan Freon (AC, Kulkas, dan sebagainya) karena Freon adalah salah satu penyebab lapisan ozon di atas permukaan bumi yang berfungsi sebagai penahan papparan sinar matahari.
  • Berhemat dalam penggunaan listrik, air, tisu, kertas, serta produk lain yang banyak mengkonsumsi sumber daya alam dalam proses produksinya.
  • Membiasakan hidup bersih dalam berbagai kesempatan. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan.
  • Pilih alat rumah tangga yang ramah lingkungan. Misalnya televisi dengan monitor layar datar yang hemat energi.
  • Manfaatkan fasilitas antar jemput sekolah anak, untuk mengurangi polusi akibat penggunaan mobil pribadi.
  • Pastikan untuk mematikan barang-barang elektronik secara tuntas
  • Kurangi mengonsumsi makanan yang dibekukan, karena pembuatannya membutuhkan 10 kali lipat lebih besar dari makanan biasa.
  • Memberikan pendidikan dini kepada anak terkait pemanasan global dengan cara menyenangkan, salah satunya dengan ‘nonton bareng’ film bertema lingkungan.
  • Melibatkan diri dan mengajak anak ikut terlibat dengan salah satu organisasi lingkungan hidup di Indonesia misalnya WALHI, WWF, Greenpeace dan sebagainya

Yang dapat anak lakukan :

  • Mengurangi jajan/membeli produk makanan dan minuman dengan kemasan plastik. Dengan demikian penggunaan kemasan plastik yang tidak dapat didaur ulang dapat dikurangi . plastik terbuat dari campuran bahan kimia, yang sulit diurai atau dihancurkan secara alami.
  • Menyayangi mahluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan untuk menjaga keseimbangan alam.
  • Biasakan anak menghemat penggunaan listrik, dengan tidak menyalakan lampu, televisi dan alat elektronik lainnya jika diperlukan.
  • Mengurangi penggunaan kertas. Misalnya, dengan menggunakan kembali sisi belakang kertas yang telah dipakai. Kayu sebagai bahan baku kertas, telah menyebabkan berkurangnya luasan hutan, sehinggga volume gas-gas karbon diudara makin bertambah.
  • Menerapkan konsep ‘reduksi’ (mengurangi), ’recyle’(mendaur ulang), ‘re-use’(menggunakan kembali), dan mengganti penggunaan bahan-bahan tak ramah lingkungan. Misalnya, membeli produk makanan atau minuman yang menggunkan kemasan ramah lingkungan, dan sebagainya.
  • Libatkan anak dalam mengelola kualitas lingkungan sekitarnya, seperti menata cahaya ruangan, mengatur ventilasi udara, melakukan dan memelihara penghijaun, memelihara dan memelihara fasilitas sanitasi.
  • Minta anak menghabiskan makanannya.