Share Like
Simpan

Bu, saya ingin berbagi cerita hari ini. Jadi dulu, saya dan Ayah pernah merencanakan untuk mengajak si Kecil liburan di pantai. Berbagai mainan seperti sekop dan ember berwarna-warni sudah dibeli. Tapi, saat sampai di pantai, bukannya asyik bermain, eh si Kecil malah berteriak dan tak mau menghampiri pasir. Ketika ditanya, ternyata dia jijik karena pasir itu terlihat kotor!

Pernah mengalami hal yang sama, Bu? Duh, bagaimana jika anak saya takut kotor? Apakah normal? Padahal, kotor adalah bagian dari pembelajaran dan pengalaman bermain. Apalagi jika kotoran itu nantinya bisa dibersihkan, betul kan Bu?

Si Kecil dan Ketakutan-Ketakutannya

Sebenarnya, ini situasi yang normal, kok.  Menurut psikolog anak Nisfie M.H Salanto, S.Psi, sikap jijik atau takut yang ditunjukkan merupakan upayanya untuk menghindari suatu obyek atau kondisi yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Selain itu, rasa takut atau gelisah adalah kondisi normal dalam membantu kita merasakan pengalaman baru, dan melindungi kita dari bahaya. Ibu sendiri juga merasakan kan, ketakutan saat pertama kali ingin naik rollercoaster di wahana?

Dari manakah ketakutannya itu muncul? Faktor utama, bisa dari pengalaman Bu. Bisa saja karena dia menyaksikan temannya terjatuh ke pasir dan menangis. Jadilah dia menyimpulkan kalau pasir itu menakutkan.

Bisa juga lho, si Kecil “tertular”dari ketakutan Ibu sendiri. Misal, Ibu takut anjing, dan walaupun sebisa mungkin Ibu menyembunyikannya, ia bisa mencium ketidaknyamanan Ibu lalu membangun ketakutan yang sama.

Tak seperti bayi, anak balita Ibu bisa mengingat pengalaman menakutkan atau menyakitkan (misalnya disuntik atau jatuh dari perosotan) dan menjadi pemicu ketakutannya. Didukung pula oleh imajinasinya yang masih bebas. Maka tak heran apabila ia tiba-tiba mengarang memiliki teman khayalan atau ada monster di bawah tempat tidurnya. Itu ternyata bagian dari rasa takutnya.

Mengatasi Ketakutan si Kecil Terhadap Kotoran

Buat Ibu, mungkin lumpur, kotoran bukanlah hal berbahaya untuknya. Tapi ingat Bu, hal-hal itu sama menakutkannya dengan bencana alam atau penyakit berat bagi Ibu, lho! Karena itu, selalu hindari mengabaikan, meremehkan atau menghukumnya ya, Bu. Saya memiliki beberapa trik nih, untuk selalu mendukung si Kecil sekaligus mengatasi ketakutannya akan kotor.

Ibu bisa mulai dengan menjelaskan. Misalnya, ketika si Kecil merasa jijik karena ada lumpur yang mengotori sepatunya, bilang saja itu adalah hal yang biasa. Lalu lanjutkan, “Tuh, sepatu Ibu juga kotor, tapi nanti kita bersihkan ya?”

Ibu juga bisa dengan mengajaknya bermain atau melakukan aktivitas yang akan membuatnya kotor. Misal, dengan membuat kue. Tepung dan telur yang berantakan dan mengotorinya, nantinya akan menjadi sepotong kue yang enak. Tak ada salahnya juga Bu, mengajaknya ke pasar tradisional dan ceritakan bahwa makanan sehari-hari kita berasal dari tempat ini.

Buku-buku bacaan juga bisa mengatasi ketakutannya akan kotor lho, Bu. Bacakan dia buku cerita yang mengisahkan tentang perjalanan seorang anak di dalam hutan yang berlumpur tapi pada akhirnya bertemu dengan hal impiannya. Jika memungkinkan, pilih buku yang bergambar ya, Bu.

 

  Tak perlu buru-buru, Bu. Ketakutan-ketakutan anak akan hilang seiring berjalannya waktu. Yang terpenting, dalam usaha-usaha Ibu, selalu memujinya bila dia berhasil maju selangkah dalam mengatasi ketakutannya. Berikan juga dia dorongan dan pujian bila si Kecil nanti sudah berani menyentuh pasir. Lambat laun, semuanya akan terjadi secara bertahap kok, Bu. Selamat mencetak si Kecil yang pemberani!