Share Like
Simpan

Ini adalah contoh percakapan antara Ibu dan si Kecil.

Ibu : “Jeni, ayo dimakan wortelnya.”
Jeni: "Aku tidak suka wortel. Kenapa aku harus makan wortel?"
Ibu : "Wortel akan membuat kamu sehat."
Jeni: "Mengapa makan wortel sehat?"
Ibu: "Karena banyak vitaminnya."
Jeni: "Apa itu vitamin?"
Ibu: "Aduuh..udah deh dimakan aja ya wortelnya!"
Jeni: "Tapi kenapa aku harus makan wortel?"
Ibu : "Karena Ibu memintanya, ok? "

Semua ibu pasti pernah mengalami pertanyaan-pertanyaan yang seakan tiada akhir dari si Kecil. Kadang kesabaran Ibu habis menjawab pertanyaan-pertanyaan “mengapa” si Kecil yang melelahkan. Ibu terkadang ingin sekali menghindari menjawab “Pokoknya ikuti perintah Ibu dan jangan bertanya” atau “Sudah jangan bertanya terus”, atau percakapan terhenti karena Ibu tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan sulit dari si Kecil.


Meskipun sulit dijawab, sebenarnya semua pertanyaan yang dilontarkan anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Seorang Ibu sebaiknya membangkitkan keingintahuan anak untuk menstimulasi perkembangan kecerdasan mereka. Namun, Ibu juga manusia yang kadang disibukkan dengan pekerjaan dan rasa lelah seharian mengurus si Kecil dan rumah tangga.

Apa yang harus dilakukan Ibu? Satu hal yang penting adalah mengubah persepsi. Daripada menganggap pertanyaan-pertanyaan tiada akhir si Kecil sebagai kejadian sehari-hari yang menyebalkan, orangtua bisa berpikir bahwa si Kecil haus informasi. Si Kecil tengah belajar dan memuaskan rasa ingin tahunya.

Ada beberapa strategi menghadapi si Kecil yang suka bertanya.


Tunda menjawab pertanyaan sampai waktunya lebih nyaman. Meskipun anak-anak mungkin menginginkan jawaban segera, Anda tidak harus memenuhi keinginannya. Apalagi untuk pertanyaan yang sulit dijawab. Anda bisa mempelajari pertanyaan si Kecil kemudian mempersiapkan jawabannya nanti. Sebagai contoh, saat Jeni menanyakan mengapa ia harus makan wortel yang ia tidak suka, Ibu bisa menjawab “Ibu tahu, Jeni tidak suka wortel. Tetapi Ibu tidak mau berdebat saat makan. Nanti Ibu jelaskan setelah makan”. Tentu Ibu harus menepati janji untuk mendiskusikan masalah ini dengan Jeni.

Jangan takut katakan “Tidak tahu”. Kadang orangtua kesulitan menjawab semua pertanyaan si Kecil, terutama jika orangtua tidak ahli di bidangnya. Misalnya si Kecil bertanya “Mengapa bulan tidak tampak siang hari?” atau “Siapa yang pertama kali membuat kapal terbang?” Jika memang di luar pengetahuan orangtua, katakan saja “tidak tahu” daripada membiarkan pertanyaan itu tidak terjawab. Seperti saat Jeni menanyakan apa itu vitamin, Ibu bisa menjawab “Wah pertanyaannya bagus sekali. Tapi Ibu tidak tahu pasti. Nanti kita cari jawabannya sama-sama”. Dan sekali lagi, Ibu harus menepati janji.

Jawablah dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami si Kecil. Penjelasan yang sederhana dan menarik akan membuat si Kecil mudah mengerti apa yang Ibu katakan. Misalnya,”Vitamin adalah bagian dari makanan yang berguna untuk membantu kamu untuk sehat dan kuat. Nah, bukankah kamu ingin tetap sehat dan kuat agar bisa tetap sekolah dan bermain?” Tidak ada salahnya mengucapkan kalimat, “Terima kasih sudah bertanya,” saat si Kecil sudah paham.