Share Like
Simpan

Ini mainanku, kamu gak boleh pegang!” Lalu, ia langsung melayangkan tangan pada anak yang sedang bermain bersamanya. Kira-kira itulah gambaran saat si Kecil bermain bersama anak seusianya saat masih berusia 4 tahun dulu.

Saat itu, saya sempat merasa tidak enak pada orang tua yang lain. Saya juga khawatir jika nanti si Kecil dijauhi dan tidak memiliki teman. Waduh, jika masih kecil saja sudah menunjukkan tanda-tanda keegoisan, bagaimana besarnya nanti, ya?

Anak yang memunculkan sikap egois memang membuat ketar-ketir ya, Bu. Pemunculan sikap itu kemungkinan besar disebabkan oleh anggapan si Kecil bahwa semua hal berpusat pada dirinya atau yang dikenal dengan egosentris.

Dalam buku The Child's Conception of The World, Jean Piaget menjelaskan bahwa anak yang menunjukkan egosentrisme cenderung disebabkan oleh ketidakmampuannya memahami apa yang orang lain lihat, pikir, dan rasakan. Oleh karena itu, ia tidak merasakan apa yang orang lain alami.

Kenali Penyebabnya

Pada usia 2 hingga 7 tahun, anak cenderung memiliki pola pemikiran dan komunikasi yang egosentris. Semua hal yang dipikirkannya cenderung berpusat pada dirinya. Piaget mengatakan bahwa ini merupakan hal yang wajar dalam masa tumbuh kembang anak.

Sikap egois si Kecil pada dasarnya berasal dari perbedaan cara pandang antara ia dan anak lain. Piaget menganggap, anak memiliki pemikiran bahwa orang lain melihat, mendengar, dan merasakan persis seperti apa yang ia rasakan.

Anak yang egois tidak hanya disebabkan oleh faktor internal seperti yang telah dijelaskan di atas, tapi juga dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

1. Dimanjakan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak yang terlalu dimanja akan mengarah pada keegoisan. Si Kecil akan terbiasa selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, sehingga sulit untuk menerima penolakan.

2. Meniru

Kondisi lingkungan di sekitar si Kecil amat berpengaruh dalam masa tumbuh kembangannya ini, Bu. Sikap egois yang ia tunjukkan, bisa jadi merupakan hasil meniru teman bermainnya, atau bahkan orang dewasa yang pernah berinteraksi dengannya. 

3. Cemburu

Nah, ternyata kasus anak egois tidak hanya terjadi pada anak tunggal yang belum terlatih untuk berbagi, tapi bisa juga dialami oleh anak yang memiliki saudara kandung. Biasanya, pemunculan sikap egois dipicu oleh rasa cemburu pada saudaranya, sehingga ia mencari perhatian dengan keegoisan tersebut.

Langkah yang perlu Ibu Ambil

Ketika si Kecil menunjukkan tanda-tanda sikap egois, sangat penting untuk menangani dan memberinya perhatian yang lebih, Bu. Berikut ini adalah langkah-langkah yang perlu Ibu ambil untuk meredakan sikap egoisnya.

  1. Ajari si Kecil untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Berikan pengertian dengan mengajaknya membayangkan jika ia ada di posisi orang tersebut. Pertanyaan seperti “Bagaimana kalau mainan kamu yang direbut?” dapat menjadi sebuah awal yang baik.
  2. Ajak si Kecil untuk memberikan fokus pada orang di sekitarnya. Langkah ini penting untuk membuatnya sadar bahwa dunia tidak hanya berpusat pada dirinya. Misal, Ibu bisa mengatakan “Wah, lihat tuh si Tia gambar pohonnya bagus ya? Kita minta dia mengajarimu, yuk! ”
  3. Jadilah contoh individu yang tidak egois. Jika telah diketahui bahwa sikap egois si Kecil adalah hasil dari meniru orang lain, tentu Ibu bisa memberikan contoh sebaliknya. Ibu bisa menunjukkan bahwa peduli dan berempati pada orang lain rasanya sangat menyenangkan.

Sejak lahir, anak-anak telah diberkahi kemampuan untuk peduli dan berempati yang cukup besar. Hanya saja, ia masih belajar untuk memahami suatu hal dari perspektif orang lain. Oleh karena itu, dukungan, perhatian, dan kasih sayang Ibu sangat dibutuhkan si Kecil untuk bisa melewati tahap ini dengan baik.

Semoga tips ini bermanfaat ya, Bu!