Share Like
Simpan

Akhir pekan lalu saya menjenguk seorang rekan kerja yang baru melahirkan anak pertamanya. Setelah melalui proses yang cukup panjang dan melalui beberapa pertimbangan, rekan saya ini akhirnya melahirkan melalui operasi Caesar.

Ketika saya menjenguknya di rumah sakit, dia terlihat sedang bad mood. Ternyata alasannya adalah karena suaminya tak bisa menemaninya saat melahirkan. Dia mengeluh tidak bisa memproduksi ASI cukup untuk bayinya. Dia bingung karena dokter mengatakan semuanya sehat dan normal. Menurut dokter yang merawatnya, dia hanya stress.

Wah, jadi ingat pengalaman saya dulu, Bu. Waktu sudah kembali bekerja, saya sempat stres karena lelah dan capek mengurusi pekerjaan di kantor. Akibatnya, ASI pun mendadak tidak lancar seperti biasanya. Padahal, waktu ke dokter, tidak ada gangguan apa-apa di dalam tubuh saya.

Sekilas terdengar aneh ya, Bu? Siapa yang menyangka ternyata mood bisa mempengaruhi produksi ASI. Tapi, ternyata ini semua bukan sekadar mitos, lho. Saya juga pernah mengalaminya ketika masih menyusui si Kecil beberapa bulan setelah kelahirannya.

Mood Jelek Menghambat Produksi ASI

Agar ASI dapat mengalir dengan lancar, tubuh Ibu butuh hormon oksitosin yang diproduksi kelenjar otak. Hormon inilah yang menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain di sekitar lubang-lubang kecil di paru-paru (alveoli) dan akhirnya membuat ASI mengalir ke arah puting Ibu. Proses turunnya susu dari aveoli disebut refleks pengaliran susu dan merupakan reaksi setelah mulut si Kecil menyentuh puting Ibu.

Nah, refleks ini mengendalikan perintah yang dikirim oleh hipotalamus yang berada di bawah otak. Kalau Ibu sedang bad mood, cemas, takut, bingung atau tegang, ASI sulit untuk turun dari alveoli ke puting. Tapi, jika Ibu merasa rileks, tenang, tidak cemas ataupun tegang, ASI dapat lancar mengalir ke puting.

Stress dan mood jelek memang bisa menghambat produksi ASI. Tapi, ini bukan berarti Ibu lalu harus berhenti dan menyerah menyusui saat sedang mengalami stress. Produksi ASI akan terus berjalan selama Ibu melanjutkan menyusui meskipun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan si Kecil.

Jadi, apa yang harus Ibu lakukan saat mood Ibu sedang kurang baik? Tetap menyusui. Sebuah riset membuktikan bahwa menyusui dapat mengatasi mood jelek dan stress. Ini terjadi karena ketika Ibu menyusui, tubuh Ibu mengeluarkan hormon oksitosin yang sebenarnya memiliki efek menenangkan. Ini tentunya juga dapat membantu meredakan stress.

Mood jelek juga bisa diatasi jika Ibu lebih percaya diri dan tidak dalam kondisi kelelahan. Istirahat cukup terkadang bisa membantu Ibu memperbaiki mood. Selain itu, para peneliti di University of New Mexico, Amerika Serikat, menemukan sesuatu yang menarik. Mendengarkan rekaman suara dan gambar-gambar yang membuat rileks dapat membantu Ibu memperlancar produksi ASI Ibu.

Menarik ya, Bu? Ternyata kondisi psikis dan psikologis Ibu bisa sangat mempengaruhi produksi ASI. Jadi, lebih baik kalau Ibu selalu menjaga mood dan emosi tetap baik untuk menyusui. Melihat dan menyentuh si Kecil sambil menyusuinya bisa membuat Ibu sangat rileks dan bahagia. Semoga artikel ini bisa membantu ya, Bu. Terima kasih sudah membaca!