Whatsapp Share Like
Simpan

Ibu sebaiknya tidak meremehkan si Kecil yang memiliki gangguan kepribadian anti sosial. Anti sosial membutuhkan penanganan khusus karena si Kecil akan menjadi tidak peduli terhadap orang lain. Ketidakpeduliannya ini bahkan akhirnya dapat menjadikan si Kecil pribadi yang tertutup, mudah marah, tidak memiliki rasa empati, hingga suka memukul. Namun, jika anti sosial dapat terdeteksi sejak usia dini, tentunya penanganannya dapat lebih cepat. Diharapkan gangguan kepribadian anti sosial pada si Kecil dapat berkurang atau bahkan menghilang seiring waktu jika diberikan penanganan sejak awal.

Mengapa si Kecil mengalami anti sosial?

Gangguan kepribadian anti sosial sendiri disebabkan oleh dua hal yaitu faktor genetika dan faktor lingkungan. Namun, yang biasa ditemui adalah perpaduan antara faktor genetik dengan lingkungan menyebabkan si Kecil terbentuk menjadi anti sosial. Sangat penting bagi ibu untuk meninjau seberapa jauh level anti sosial si Kecil. Untuk mengetahui hal tersebut secara akurat, ibu bisa membawa si Kecil pada psikolog anak.

Ciri-ciri si Kecil anti sosial

Sebelum ibu membawa si Kecil pada psikolog atau tenaga medis yang semestinya, tentu ada berbagai ciri yang dapat diketahui jika si Kecil mengalami gangguan kepribadian anti sosial. Ibu hanya perlu lebih cermat dan teliti dalam menilai sikap-sikap yang ditunjukkan oleh si Kecil dalam kesehariannya. Berikut ini merupakan 5 ciri-ciri bahwa si Kecil anti sosial.

  1. Sangat sering menyendiri

    Jika si Kecil menyendiri sesekali, menjauhi kerumunan sesekali, hal itu merupakan hal yang normal. Namun, apabila si Kecil sangat suka menyendiri bahkan dalam jangka waktu lama, ibu harus mulai waspada. Terkadang, pada kasus tertentu si Kecil bahkan akan selalu menolak jika ibu mengajaknya untuk bermain di tempat ramai atau bersosialisasi dengan teman-temannya.

  2. Tidak pernah meminta bantuan

    Si Kecil yang tumbuh menjadi pribadi mandiri tentu akan membuat ibu bangga. Akan tetapi jika si Kecil tidak pernah meminta bantuan sama sekali dalam kesehariannya hal ini bisa menjadi ciri bahwa ia anti sosial. Pada usia dini, si Kecil biasanya akan tetap meminta bantuan ibu atau orang dewasa sekitarnya karena ingin mendapat perhatian. Namun, si Kecil anti sosial biasanya akan melakukan semua hal dengan sendiri dan tidak mau dibantu.

    Artikel Sejenis

  3. Mempunyai ego tinggi

    Ciri lain yang mungkin dapat dilihat adalah si Kecil memiliki ego yang sangat tinggi. Umumnya ia tidak mau mengalah dan sulit berbagi. Pada usia 1-3 tahun, sangat wajar jika si Kecil belum memahami konsep berbagi. Namun, jika si Kecil mengalami anti sosial, ia bahkan tidak memiliki empati pada sesama.

  4. Tidak punya sikap dominan

    Pada usia 1-3 tahun, si Kecil biasanya ingin menjadi pusat perhatian. Namun, hal tersebut tidak berlaku jika si Kecil mengalami gangguan kepribadian anti sosial. Ia lebih menyukai menjadi penonton dan diam daripada menjadi pusat perhatian. Si Kecil sebisa mungkin akan menghindarkan dirinya dengan cara menjauh dari kerumunan.

  5. Jarang bicara

    Pada masa usia berkembang, si Kecil biasanya akan sangat aktif bicara. Bahkan ketika si Kecil belum bisa bicara, ia biasanya senang bergumam karena belajar bicara. Akan tetapi, si Kecil yang anti sosial biasanya tidak suka bicara. Ia akan jarang bicara, dan terkadang tidak mau menjawab jika ditanya sesuatu.

Cara mengatasi si Kecil yang anti sosial

Ibu tidak perlu panik apabila mengetahui si Kecil ternyata mengalami gangguan kepribadian berupa anti sosial. Setelah berkonsultasi dengan psikolog anak, ibu bisa mulai mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi sikap anti sosial pada si Kecil. Pertama, ibu harus bisa memberikan pengertian pada lingkungan sekitar mengenai kondisi si Kecil. Dengan begini, orang-orang tidak akan memaksakan si Kecil untuk menjadi seperti anak pada umumnya. Kedua, biasakan si Kecil berada di lingkungan yang suportif dan penuh semangat. Usahakan agar ia sering membaur bersama kawan sebayanya. Meski hal ini tidak dapat menyembuhkan secara total, namun bisa mengurangi kecenderungan anti sosial yang dialami si Kecil.

Ketiga, ibu bisa mulai mengajari si Kecil mengontrol emosinya. Hal ini sangat penting karena dapat menurunkan potensi si Kecil melukai diri sendiri atau orang di sekitarnya. Jika memang diperlukan bantuan khusus dari tenaga medis, ibu tidak perlu sungkan untuk memintanya. Untuk menangani si Kecil anti sosial memang membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu ibu harus selalu semangat dan percaya bahwa si Kecil tetap bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang pintar dan berguna bagi sesama.