Whatsapp Share Like
Simpan

Ketuban adalah cairan yang melindungi bayi di dalam kandungan dan memiliki banyak manfaat. Ketuban berfungsi mencegah infeksi dalam rahim, mempertahankan suhu dalam rahim, agar janin dapat leluasa bergerak dan mengembangkan alat geraknya (tangan dan kaki), untuk perkembangan saluran cerna dan saluran nafas janin (Purnama, 2014 dalam buku “100+ Hal yang Wajib Diketahui Bumil”).

Pecah ketuban merupakan kondisi dimana kantong selaput yang melapisi air ketuban robek atau bocor sehingga air ketuban mengalir keluar. Ibu akan merasakan air keluar dari vagina baik dalam jumlah banyak maupun sedikit. Kadang dirasakan seperti buang air kecil yang tidak dapat ditahan (mengompol) (Purnama, 2014). Jumlah air ketuban yang keluar pada tiap perempuan bisa berbeda-beda, namun rata-rata sebanyak 800 ml.

Pecah ketuban biasa dialami oleh Ibu hamil pada masa-masa akhir trimester ketiga dan menjadi tanda awal akan segera terjadinya proses persalinan. Karena wujudnya yang hampir mirip dengan urin, kadang Ibu hamil susah mengenali peristiwa pecah ketuban ini. Ditambah lagi kondisi vagina perempuan hamil memang seringkali mengeluarkan berbagai cairan. Tapi air ketuban ini memiliki ciri-ciri khusus tersendiri dari cairan lain yang mungkin keluar dari kemaluan Ibu. Ketuban secara normal berwarna jernih dan tidak berbau (Purnama, 2014). Kadang-kadang cairan juga disertai sedikit bercak darah, dimana hal tersebut adalah normal. Pada beberapa Ibu air ketuban bisa juga berbau cenderung manis atau malah agak amis. Sementara air kencing/urin sendiri berbau pesing menyengat. Berbeda pula dengan cairan keputihan yang teksturnya lebih kental, sedangkan air ketuban sangat cair dan tidak lengket.

Untuk membuat Ibu lebih tanggap, yuk Bu mulai kenali dan pahami tanda-tanda yang bisa dijadikan patokan saat ketuban pecah. Silahkan simak baik-baik ya, Bu...

Keluar Rembesan

Saat ketuban pecah air akan merembes keluar dari vagina yang tanpa sadar telah membuat celana dalam Ibu basah. Cairan yang keluar ini terasa layaknya sedang menstruasi. Oleh karena itu terdapat beberapa kondisi dimana beberapa Ibu bahkan sampai tidak menyadari bahwa kejadian tersebut adalah peristiwa pecah ketuban. Cairan mengalir keluar tanpa dapat dikontrol apalagi ditahan, bisa dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Artikel Sejenis

Cairan Menetes

Pecahnya ketuban juga ditandai dengan munculnya tetesan-tetesan cairan yang berasal dari vagina. Air ketuban keluar menetes secara perlahan, sedikit demi sedikit. Tetesan-tetesan cairan ketuban itu terasa hangat yang kemudian bisa mengalir melalui kedua paha Ibu dan turun ke kaki. Tetesan ini cenderung lebih banyak daripada rembesan sehingga membuat Ibu menyadari karena celana dalamnya menjadi basah. Tetesan ini bisa makin disadari dan banyak jumlahnya ketika Ibu berada dalam posisi berdiri.

Sensasi Letupan

Ketika ketuban pecah bisa jadi menimbulkan sensasi mirip letupan atau perasaan adanya sesuatu yang meletus dari dalam perut Ibu hamil. Ibu mungkin merasa jika ada sebuah gelembung di dalam perut Ibu yang pecah. Beberapa Ibu merasakan sensasi seperti kantung ketubannya diketuk. Tak jarang suara letupan di dalam perut ini membuat banyak Ibu merasa begitu kaget. Lalu, setelah muncul sensasi ini maka cairan ketuban akan langsung menyembur keluar dari vagina.

Keluar Aliran Deras

Selaput ketuban yang pecah bisa juga menimbulkan aliran yang deras. Cairan yang keluar mengucur bahkan sampai “membanjiri” lantai. Ibarat kata, aliran cairan ini bagaikan air yang keluar dari keran terbuka. Ya, persis sekali dengan gambaran yang ditawarkan dalam film-film atau sinetron yang selama ini pernah Ibu tonton. Pecah ketuban “model film atau sinetron” ini nyatanya memang benar adanya di dunia nyata kok, Bu.

Timbul Tekanan

Peristiwa pecahnya ketuban dapat membuat Ibu merasakan sensasi tekanan pada perut bagian bawah. Tekanan ini kemudian akan disusul dengan adanya kontraksi kehamilan yang dibarengi dengan pembukaan jalan lahir bayi. Kontraksi akan muncul terus-menerus dan menimbulkan rasa sakit yang sangat bagi Ibu. Punggung Ibu menjadi sangat pegal, perut panas, dan lain sebagainya.

Tidak Ada Sensasi

Pecah ketuban bisa jadi memang tidak terasa atau memiliki sensasi apapun karena beberapa sebab. Diantaranya adalah karena pengaruh penggunaan bius epidural yang diberikan oleh dokter.

Saat selaput ketuban pecah maka risiko paling awal adalah terjadinya infeksi. Oleh karena itu, jika Ibu mencurigai telah terjadi pecah ketuban maka disarankan untuk segera ke dokter kandungan atau bidan. Petugas medis tersebut akan melakukan pemeriksaan mulut rahim (inspekulo) untuk memastikan ada tidaknya ketuban yang merembes dari mulut rahim (Purnama, 2014). Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bu...