Whatsapp Share Like
Simpan

Memahami karakteristik anak usia 3 tahun dapat menjadi bekal orangtua untuk mengetahui dan melihat gambaran anak saat dewasa. Pada usia 3 tahun, anak memiliki jiwa bereksplorasi yang tinggi. Oleh sebab itu ada istilah threenager, yaitu perilaku anak usia 3 tahun yang seperti remaja.

Karakter usia 3 tahun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perilaku yang anak tunjukkan. Kepribadian anak hadir dari perilaku sang anak, yang dapat menjadi gambaran tentang sifat yang dimilikinya. Ketika anak mulai memasuki balita, kepribadian yang akan menjadi wataknya hingga dewasa mulai terbentuk. Sebelum mengenali jenis karakter yang dimiliki oleh anak, penting bagi orangtua untuk mengetahui aspek apa saja yang ada pada karakter anak usia 3 tahun, antara lain:

  1. Aktivitas

    Berkaitan dengan level mereka melakukan kegiatan motorik, energi serta semangat anak.

  2. Penerimaan

    Penerimaan berkaitan dengan bagaimana perilaku anak dalam bereaksi pada hal baru, menerima atau menarik diri.

  3. Irama

    Mengarah pada perilaku anak, yang melibatkan fisik. Misalnya, siklus tidur, bermain, nafsu makan, dan sebagainya.

    Artikel Sejenis

  4. Adaptasi

    Berkaitan dengan bagaimana anak merespon terjadinya perubahan pada sesuatu.

  5. Distraksi

    Mengarah pada fokus dan konsentrasi anak saat mengalami distraksi pada suatu hal.

  6. Responsif

    Mencakup seberapa besar stimulasi yang perlu diberikan pada anak sebelum dia merespon.

  7. Intensitas reaksi

    Membahas tentang cara anak mengungkapkan emosinya dalam merespon segala situasi yang berbeda.

  8. Kualitas Mood

    Bagaimana anak bersikap pada emosinya, apakah cenderung ceria, serius, atau lebih menarik diri.

  9. Kegigihan

    Membahas terkait respon anak dalam menghadapi rintangan dan cobaan.

Nah Bu, setelah mengetahui aspek yang membentuk karakter anak, kita akan lebih mudah mengenali jenis-jenis karakter anak usia 3 tahun. Jenis-jenis karakter anak terbentuk dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, lingkungan rumah, sekolah, dan lingkungan sosial. Selain itu, pola asuh orang tua juga menjadi hal yang penting terhadap pembentukan karakter anak. Berikut ini adalah jenis-jenis karakter anak yang perlu Ibu ketahui:

  • Anak yang ‘mudah’

    Anak yang masuk karakter ini adalah anak yang biasanya tidak mudah rewel. Kebiasaan makan dan tidurnya tepat waktu, selalu menerima perubahan dan berperilaku baik. Anak tipe ini biasanya menghargai sebuah konsistensi. Maka, ketika dia dihadapkan dengan hal yang mengacaukan rutinitasnya, anak akan kebingungan dan merasa lelah.
    Orang tua perlu untuk mendukung anak dalam mengembangkan perilaku yang positif dan selalu membantunya dalam menghadapi perubahan.

  • Anak yang ‘sulit’

    Karakter ini biasanya memiliki kesulitan tertinggi untuk menjaga rutinitas tidur dan makannya. Anak bisa menjadi resisten terhadap perubahan. Tak jarang, anak dengan karakter ini mudah mengalami frustasi, tantrum ataupun marah.
    Yang perlu orangtua lakukan untuk menghadapi anak dengan karakter ini adalah membantu mereka menerima pengalaman baru dengan lebih mudah. Jangan paksakan dia berada pada situasi sosial. Anak dengan karakter ini yang ia butuhkan dari orangtua adalah pengertian yang lebih.

  • Anak sulit menerima perubahan

    Anak dengan karakter seperti ini biasanya akan menutup diri jika dihadapkan dengan hal-hal baru. Anak juga resisten terhadap perubahan. Namun, berbeda dengan anak yang ‘sulit’, anak sulit menerima perubahan umumnya cukup rutin dalam kebiasaan makan dan tidur.

Orangtua perlu memberikan paparan situasi sosial baru hingga anak perlahan-lahan memiliki kemampuan membuka diri yang tinggi. Kesabaran dan ketangguhan tinggi dari orangtua dalam mengasuh anak sangat diperlukan dan berguna bagi perkembangan karakter anak.

Memahami karakter anak bukan berarti Ibu tidak boleh membentuk perilaku sesuai yang Ibu inginkan. Membentuk perilaku baik dan menghilangkan perilaku buruk bagi anak tentunya hal yang penting untuk dilakukan orangtua.

Dalam hal tersebut, pujian dan perhatian Ibu memiliki andil besar dalam membentuk perilaku positif dalam diri anak. Dengan memuji dan mengakui prestasi anak terhadap kemampuan yang dilakukannya, Ibu secara tidak langsung membangun harga diri dan rasa percaya diri pada anak. Pelukan hangat, tepukan, dan pujian pada anak membuat anak ingin mengulangi hal baik yang dilakukannya.

Sapaan dan panggilan nama yang hangat, menatap mata anak dengan penuh kasih sayang, dan bersungguh-sungguh dengan ucapan Ibu padanya membuat pujian yang Ibu berikan akan memberikan dampak yang lebih kuat. Pada dasarnya, karakter yang terlihat dari perilaku mereka juga dipengaruhi atas keinginan anak yang ingin diperhatikan. Jika anak merasa Ibu tidak menyadari perilaku baiknya, anak akan mencoba mencari perhatian untuk melihat reaksi Ibu. Oleh karena itu, selalu beri perhatian kepada si Kecil agar tetap berperilaku baik ya, Bu.